Langsung ke konten utama

Postingan

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…
Postingan terbaru

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Apakah saya memiih jalan Seni? atau sekedar Hobi?

Adalah hari ke 3 saya di kegiatan Pembekalan Seniman Mengajar 2017. Saya bergabung sebagau tim yang didaulat mengenalkan seni Media ke masyarakat. Saya akan ditempatkan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau selama 20 hari. 
Yang lalu menjadikan pertanyaan bagi saya adalah, sebenarnya apa yang ingin saya raih. Apakah saya akan hanya sekedar menyelasaikan tugas karena 'terlanjur' terpilih, atau ada sesuatu yang ingin saya raih dalam jalur ini. 
Saya belum menemukan jawabannya. Diantara berbagai jalur yang pernah saya pilih, kondisi memutuskan seni ini adalah yang membuat saya berfikir lebih dalam. 
Awalnya saya tidak terlalu paham. Yang saya bayangkan, seni media hanya membuat video lalu di tonton. Atau mengambil gambar dan di pajang. Sesuatu yang sederhana, sebagaimana saya melakukan selama ini dengan kesederhanaan pula. Tanpa ambisi menjadi sesuatu yang lebih. Sekedar menghabiskan waktu, atau sedikit berkarya dengan alakadarnya. Tidak seserius saat saya ingin menyelesaikan sebu…

Saya Seniman ? Serius ?

Tiba-tiba, saya bergabung dengan para seniman. Bila hanya seorang seniman saja, barangkali ini bukan sesuatu yang khusus. Tapi kenyataannya momen bertemu para seniman ini adalah momen yang khusus. Sangat mewah sekali. Lebih menarik, sebab saya pun 'terpaksa harus' mengaku-aku sebagai seniman pula. Ini yang rumit. 
Ceritanya, saya pernah mencoba mendaftar program Seniman Mengajar yang difasilitasi oleh Direktorat Kesenian, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Saya mendaftar di tenggat terakhir. Itu pun, ikhtiarnya sekedar coba-coba saja, siapa tau lulus kan. Sebab bagi yang terpilih, akan mengabdi mengajar seni di daerah 3T, yang saya pilih adalah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Sederhananya, saya mencari gambar di internet dan saya temukan pemandangan pantai yang indah. Saya berharap menemukan sebuah tiket kesana. Sangat sederhana. 
Lalu saya juga tidak begitu berambisi. Saya mengakui bahwa saya bukan seorang seniman. Meski di salah satu opsi saya menukan ada bid…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…

Meraih Cinta

Ada yang selalu sulit di raih, ialah pengakuan. Habis waktu untuk bergerak, hanya untuk sebuah tepuk tangan. Hal itu diingkari, tapi tanpa sadar selalu di kejar, dan menjadi motivasi. Kenapa kita mau menjadi seorang pengusaha sukses di usia muda? Kenapa kita ingin menjadi ilmuan muda? adalah pertanyaan yang bermuara pada satu yang khas, meraih pengakuan.

Ada yang sulit di raih, menghabiskan lebih banyak waktu. Mengharuskan lebih banyak energi untuk menjaganya. Rapuh dan dapat hancur dengan sekali sentuh saja. Ialah mengejar cinta. Mengejar tingkat perasaan yang lebih rumit, menjalari rasa yang tidak hanya itu saja. Ia memanggil rindu, mengundang tawa, pula menjadi benci dan luka.

Meraih cinta boleh sama meraih pengakuan. Meraih cinta tapi tidak sama juga degan meraih pengakuan. Ia berdiri di sisi yang berbeda, tapi ia sering saling menyerupai dan membuat kita lupa.

Meraih pengakuan membuat kita ingin dianggap ada. Meraih cinta membuat kita ingin dianggap ada. Meraih pengakuan menjadi…

Kenali Samudera bernama 'Anak' itu...

Sebelumnya izinkan saya mengutip tulisan Mohammad Fauzil Adhim '30 Tahun Mendatang Anak Kita'. Berikut tulisannya: 
Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau siapkan mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.
Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat …