Langsung ke konten utama

Bukan Masalah Waktu

elementary-school-geometry-1050x1680.jpgBanyak yang telah hilang. Banyak yang tumbuh. Berapa yang hilang dan tumbuh, tak pernah dapat diprediksi. Apakah jumlah yang tumbuh telah dapat mewakili jumlah yang dulu ada? Atau yang tumbuh mampu total merevolusi kisah masalalu? Atau barangkali tumbuh hanya akan menjadi rentetan kisah sama karena tak dapat beradaptasi? Kita dalam pergerakan ini, mengandung tiga pilihan saja. Menjadi penikmat sejarah keemasan lalu, menjadi pengikut sejarah, atau membuat sejarah baru!

Era kejayaan mahasiswa sering dikaitkan dengan didobraknya reformasi 1998. Pada masa itu, mahasiswa menjadi mahasiswa. Aktivis adalah kebanggaan, demo adalah kekuatan, dan karya adalah wujud nyata dari eksistensi. Itulah masa paling membanggakan bagi mahasiswa. Keberadaan yang diakui, dan suara yang  lantang ditakuti.

Dari masa keemasan yang dibanggakan generasi pendobrak itu, kerap muncul rasa iri bagi generasi sesudahnya. Penuturan-penuturan alumni generasi ‘98, membuat ciut optimisme mahasiswa saat ini. Bagaimana tidak, dengarlah para pejuang reformasi bertutur kepada mahasiswa, selalu mereka mengawali dengan kalimat “Wah dulu mahasiswa ini itu, sekarang enak, sudah begini dan begitu”. Nada kebanggaan itu bukannya menjadi pemicu semangat, tapi justru memudarkan eksistensi gerakan mahasiswa masa kini. Dan demi mengulang masa jaya itu, mahasiswa kembali mengais almamater kejayaan itu dari punging-puing peran mahasiswa. Aktivitas itu adalah wujud penyerahan diri pada sejarah masa lalu, yang artinya, prosesi membuang kesempatan membuat sejarah baru.

Mengapa terjadi hal sedemikian? Mungkin karena lemahnya melakukan pemaknaan terhadap posisi sejarah, sehingga kita menjadi penyembah sejarah. Sejarah itu diagungkan layaknya masa berharga yang harus disesali karena kita tidak menjadi bagian dari kisahnya. Padahal, esensi dari mengenang sejarah bukan untuk memupuk rasa sesal, melainkan sebagai cermin pada apa yang musti kita lakukan untuk perbaikan. Karena sejarah bukan lahir dikarenakan ‘waktu telah meninggalkannya’ dalam kurun yang lama, melainkan dari ‘apa yang terjadi’ pada suatu masa dimana kemudian menjadikannya layak untuk dikenang.

Sejarah memiliki posisi lebih dari sekedar persoalan waktu yang berlalu. Tapi sejarah adalah nilai berharga dari sebuah aktivitas atau karya. Era reformasi terjadi bukan karena telah memasuki tahun 1998, tapi karena terjadi aksi besar dari jutaan mahasiswa yang bersama-sama menumbangkan rezim Suharto. Perjuangan menumbangkan masa orde baru menuju reformasi itulah yang menjadikan tahun 1998 sebagai tahun bersejarah.

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Menelaah Kebijaksanaan Hidup Lewat Tradisi dan Tari #5

Judul  'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'

1.Tweepz terimakasih karena sudah stay tune di kultwit sy, khususnya yang sudah di chrip
2.Mulai dari Tari Kejei, Tari Andun, hingga Tari Ganau yang syarat akan keelokan pesan budi
3.Hari ini kita akan bicara soal Tari Bubu
4.Judulnya 'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'
5.Ya, Tari Bubu adalah tari kreasi baru yang mengangkat semangat
6.Idenya dari kebiasaan masyarakat dalam menangkap ikan di sungai menggunakan bubu
7.Bubu adalah alat penangkap ikan yang dibuat dari bambu dan sifatnya pasif
8.Bubu ini jebakan yang sering di sebut 'traps' atau 'guiding barriers'
9.Alat ini berbentuk kurungan yang di desain untuk ikan dapat masuk namun tidak bisa keluar
10.Alat ini banyak ditemukan di seantero Indonesia dan kerap dipakai masyarakat
11.Tari bubu dimainkan dengan jumlah genap, penarinya mengenakan baju kurung bewarna cerah
12.Warna pakaian adat Bengkulu m…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…