Langsung ke konten utama

Duduklah Dengan Pilihanmu

shirt-with-bow-tie-17536-1280x800Banyak yang mati-matian mengejar Indeks Prestasi. Siang malam berjibaku dengan pelajaran, hingga mengabaikan aktivitas organisasi. Memperoleh predikan cum laude, lalu dipanggil sebagai orang pertama saat wisuda.  Kelompok ini menilai bahwa organisasi hanyalah mengganggu, atau menurunkan kualitas diri dengan mengatakan “tak mungkin bisa seimbang antara akademis dan organisasi”. Di lain tempat, ada pula yang menghabiskan waktu dengan mengurusi organisasi. Menyandang gelar aktivis, serta memilih turun ke jalan. Dari golongan ini mengatakan bahwa menjadi mahkluk pencinta akademis hanya menghabiskan waktu, toh pada masa depan, kualifikasi nilai tidak terlalu diperhitungkan. Ketrampilan dan kecakapan komunikasi yang diperoleh dari menjadi aktivis lebih diperlukan dan bisa menjamin setidaknya masa peralihan menuju kemapanan. Dua golongan ini adalah mahasiswa kualitas tingkat dua yang walau bagaimana pun tetap bisa dikatakan “lebih baik” dari kelompok yang tidak menjadi penggemar ruang akademis, juga tidak menjadi penggiat aktivitas organisasi. Kelompok umumnya terdiri dari golongan mahasiswa yang selalu mengatakan “saya salah masuk jurusan”, atau dari kalangan yang telah putus asa terhadap nasibnya sebagai mahasiswa. Akibat dampak atau pengalaman buruk sebelumnya.


Walau bagaimana pun, memiliki satu dari dua pusaka berharga seorang mahasiswa, telah cukup bisa dijadikan alasan untuk bebas menyebut diri mahasiswa. Memiliki keduanya bukan hal gampang, karena menjadi selain menjadi mahasiswa dengan tugas menemukan IPK tinggi dan merangkai jabatan dalam organisasi, sering memerlukan pengorbanan banyak hal. Menjadi yang terbaik dari yang terbaik, pasti menuntut tumbal. Bahkan, seorang yang telah memperoleh kedua hal tersebut pun, pasti memiliki cerita pengorbanan yang panjang. Bahkan kerap, proses menuju posisi seimbang itu, menghilangkan beberapa waktu yang dimilikinya untuk bersenda gurau layaknya mahasiswa umumnya. Inilah orang-orang yang memang berbeda dalam menentukan pilihan. Ia memilih berlari disaat yang lainnya masih belajar berjalan. Ia belum memejamkan mata disaat lainnya acuh dan terlelap dalam kubangan waktu yang membunuh. Dan ia harus menjaga agar dirinya tetap cemerlang, sementara lingkungannya menuntunnya untuk terlarut.

Dengan sebuah bahasa yang sederhana, bahwa keberhasilan dan prestasi di ruang mana pun itu, tidak mungkin tidak memiliki kisah perjuangan. Keberhasilan yang membanggakan itu,  pastilah sebagai buah dari aktivitas berusaha yang berbeda dengan lainnya. Bahkan senyum santai yang dilontarkan atas sebuah prestasi itu, dulunya adalah kepahitan dalam perjuangan. Sehingga memang tidak ada berhasil yang sederhana. Kesungguhan melakukan dan memilih aktivitas, itu yang akan menghantarkan pada kebahagiaan merengkuh prestasi.

Namun, poin paling penting adalah, kita memiliki kebebasan untuk beraktivitas. Kita juga memiliki pilihan untuk menjadi orang yang berhasil atau tidak. Dimanapun ruang itu, apakah kita mengambil ranah akademis atau pun organisasi semuanya sama-sama unggul. Karena yang tidak unggul ialah yang tidak memiliki dua hal tersebut. Inilah golongan yang pada akhirnya hanya akan menghabiskan waktu pada cerita-cerita biasa, kemudian menjadi orang biasa, membuat keluarga yang biasa, sampai akan berakhir dengan sebuah tulisan di batu nisan seperti biasa. Dilain hal, setiap orang juga memiliki peluang untuk menjadi unggul dari titik mana pun. Apakah ia seorang mahasiswa semester awal maupun akhir, tetap memiliki peluang. Yakni peluang untuk menjadi  berharga di hari esok, dengan memulai hari ini berikrar akan menghargai karunia yang diberikan, menuju hal yang bermanfaat. Biarkan peluh dan ceritamu bercucuran kini, bersama letih yang bersahut dengan sedih. Namun nanti, suatu saat, kebanggaan dan kebahagiaan akan menyambutmu dengan ramainya. Pilihlah mana pun yang kita minati, jangan memilih untuk menjadi orang yang “tidak memilih”.

Postingan populer dari blog ini

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…