Langsung ke konten utama

Find Your Potential !

anatomie eines laufenden menschen

...berarti potensi itu kita tentukan, kita pelajari, lalu kita temukan. Kita punya kesempatan untuk memiliki lebih banyak potensi dan keahlian, kta punya kesempatan untuk itu. Dengan syarat, setelah kita punya sebuah keahlian, jangan diam, namun beranjaklah...


Tentang Multiple Intelligence, saya punya sebuah pengalaman. Dahulu pernah saya baca sebuah buku, bahwa setiap orang memiliki potensi masing-masing. Setiap orang punya bakat masing-masing. Dan setiap orang pasti punya kecendrungan masing-masing. Katanya, kecerdasan itu warisan genetik. Dan kecerdasan itu menjadi soal gen yang ada dalam dirinya.

Awalnya saya percaya, dan itu kepercayaan yang luar biasa menyesatkan. Sehingga saat itu saya hanya meratapi bahwa pasti tidak ada dalam diri saya warisan kecerdasan. Terbukti selama sepuluh tahun menjalani studi, tidak satu pun saya pernah menjadi juara kelas. Lebih sering nilai terendah malah.

Hingga saat masuk tahun ke dua di sekolah menengah atas, saya menemukan buku, yang serasa lebih bijak. Di tulis bahwa persoalan kecerdasan bukan tentang warisan. Potensi bukan faktor anda di lahirkan oleh siapa. Karena kita tidak pernah tau sebenarnya kita dilahirkan untuk menjadi ahli di bidang apa.

Saya merenung, ada yang menarik. Oya, apakah kita pernah tau sebenarnya apa bakat kita? Apakah sewaktu kita lahir ada selembar kupon yang mengiringi dan bertuliskan 'Selamat bakat anakmu adalah menulis', saya pikir belum ada yang seperti itu. Lalu jika kita uji DNA, dengan mikroskop paling canggih, apakah jika kita punya bakat seni tari lalu ada penyusun DNA yang menari-nari? Saya pikir juga bukan seperti itu. Lalu bagaimana kita tahu apa potensi kita?

***


Dalam pertemuan dengan adik-adik saya, dalam lingkaran-lingkaran kecil itu, saya menemukan jawabannya. Menemukan bahasa yang tepat untuk menjawab pertanyaan tujuh tahun lalu itu.


Betul kita tidak pernah tau apa sebenarnya potensi terbesar kita. Namun lebih malang jika setelah kita tidak tau, kita hanya berdiam diri lalu tidak melakukan upaya. Dengan alasan 'saya masih mencari'. Fatal lagi kita lebih memilih berdiam diri lalu meratap. Lebih memilih mengapresiasi orang lain ketimbang mengejar sebuah target hingga membuat kita juga layah di apresiasi. Alangkah malangnya.


Bagi saya, setiap orang dapat menemukan potensi apapun yang ia inginkan. Dan ia dapat menjadi pandai dalam banyak hal sekaligus. Step pertama proses menemukan potensi itu adalah menentukan apa yang kita inginkan. Apa yang ingin kita kuasai. Boleh jadi alasannya keren, menarik, unik, atau sebagainya. Umumnya ini memang benar-benar personal. Tapi itu menjadi penting.


Apakah kita akan menjadi benar-benar ahli? Itu bukan pertanyaan yang tepat untuk step ini. Yang penting kita harus punya keinginan untuk mendapatkan sesuatu terlebih dahulu. Dari keinginan itu kita punya kesempatan untuk menjadi 'bisa'. Dan tidak perlu ragu untuk menentukan apa yang ingin kita kuasai. Keraguan itu hanya menghambat dan menghabiskan waktumu saja. Sementara yang lain telah masuk step selanjutnya, kita masih asyik memikirkan keraguan. Bukankan menentukan sebuah minat yang tinggi itu tidak akan membuat dunia gempar kan? Lalu apa ruginya membuat sebuah keinginan? Adakah ia merugikan secara fisik dan ekonomi? Saya kira tidak sama sekali.


Step selanjutnya usai kita menentukan minat atau keinginan itu adalah, pelajari apa yang ingin kita kuasai. Pelajari dengan kesungguhan. Maka suatu waktu sembari belajar itu, kita akan menemukan lebih dari yang kita inginkan. Itu akan menjadi bekal penting. Pada step ini, semangat dan konsistensi menjadi utama. Bukan ia yang belajar keras di awal lalu hilang di akhirnya yang akan ahli, melainkan yang pelan-pelan belajar lalu konsisten menjaga semangatnya. Maka yang demikian yang InsyaAlloh akan berhasil.


Step yang terakhir adalah, teruslah belajar dan yakini bahwa kita dapat mewujudkan minat ini. Mewujudkan keinginan itu. Suatu saat, entah berapa waktu, pasti akan ada yang menyadari dan mengatakan 'kamu punya potensi dan bakat di bidang itu', bidang yang pernah kita minati dan inginkan selanjutnya.


Saat ini, banyak rekan dan saudara yang mengatakan bahwa saya 'punya bakat' di bidang komunikasi. Mungkin karesa sering 'manggung' atau mengisi menjadi narasumber di beberapa acara. Menjadi trainer di Media Cendekia Learning Center. Padahal jika mereka tau, dulu, tujuh tahun lalu, saya bahkan genetar saat diminta membaca sebuah teks oleh guru saya. Tidak berdiri, hanya membaca dalam posisi duduk, dan itu sangat gemetar. Pernah saya coba berbicara di depan podium, namun bahkan guru saya sendiri yang mengatakan 'kamu tidak akan bisa bicara di depan banyak orang'.


Aha, berarti potensi itu kita tentukan, kita pelajari, lalu kita temukan. Kita punya kesempatan untuk memiliki lebih banyak potensi dan keahlian, kta punya kesempatan untuk itu. Dengan syarat, setelah kita punya sebuah keahlian, jangan diam, namun beranjaklah untuk menuju penguasaan bidang keahlian lainnya.


Salam semangat generasi hebat !!!



Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…