Langsung ke konten utama

Kita Punya Kesempatan

Cover Buku

Memaksakan diri agar menjadi “seperti masa lalu” tidak akan pernah selesai. Ini hanya akan menyibukkan kita dengan membolak balik metode kuno agar relevan di kehidupan sekarang. Dan ketidaksesuaian zaman itu, hanya akan menjadikan kita generasi perintih keadaan, karena terlanjur memandang ‘masa lalau adalah masa jaya’. Wake Up Bro! Mari sadarkan diri kita, bahwa sejarah kejayaan mahasiswa masa lalu bukan buku panduan yang harus kita lakukan setiap bagiannya agar terulang. Sejarah itu harus kita tutup, dan kita menemukan pedoman kita sendiri, sesuai kondisi sekarang. Kita punya kesempatan untuk bisa menjadi lebih dari yang pernah dilakukan oleh generasi reformasi, sehingga kejayaan itu bukan hal remeh yang hanya bisa di impikan. Kejayaan mahasiswa bukan sekedar angan yang sering diperdebatkan di forum diskusi, tapi dapat kita genggam dengan adaptasi aksi yang sesuai zamannya.

Rasakanlah perbedaan zaman yang telah jauh berubah. Akuilah bahwa orientasi ‘menjadi mahasiswa abadai adalah penghargaan tertinggi’ telah bergeser dengan orientasi ‘menjadi wisudawan berprestasi sejak dini adalah penghargaan tertinggi’. Karena peperangan mahasiswa bukan sekedar perang fisik menggempur otoritas, kebobrokkan, dan ketertindasan, tetapi perang pemikiran menuju masyarakat cerdas dan sejahtera. Kualifikasi pemikiran dan aksi intelektual adalah hal terpenting dalam pergerakan mahasiswa di era saat ini. Itulah sejarah milik kita, yang terhidang di depan kita, dan yang harus kita garap dengan sepenuh hati.

Kita punya kesempatan membuat sejarah baru kawan, sejarah kita sendiri. Sejarah yang akan kita persembahkan sebagai hasil karya terbaik bangsa ini, untuk dijadikan arsip perjalanan gerakan mahasiswa, di generasi setelah kita.


Postingan populer dari blog ini

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…