Langsung ke konten utama

Mari Terus Melangkah

Image

Kita masih melangkah. Kita tetap punya kesempatan untuk menghitung langkah kita. Dan selalu dengan itu semua, kita juga tetap punya waktu untuk menuju dunia yang lebih baik. Konsep yang jauh dari ketidak nyamanan. Konsep yang sungguh sederhana. Namun memerdekakan hati sehingga kita merasa bahwa langkah kita kemudian akan punya arti, lebih dari sekedar perpindahan kaki.

Sahabatku, mari kita melangkah, terus melangkah, beranjak menuju visi yang lebih baik. Dari mana pun kau hendak memulai. Dari mana pun kau akan melakukannya. Dari mana pun waktumu kau ambil untuk mengawalinya. Karena kita InsyaAlloh masih punya kesempatan itu.

Sering saya menemukan orang yang lebih memilih diam terpaku. Lebih senang berada pada posisi saat ini. Lebih sering saya menemukan mereka takut melihat perbedaan waktu. Takut untuk beranjak. Nyaman dengan posisinya. Padahal, air yang jernih itu mengalir di sungai. Melewati bebatuan terjal, membelah pegunungan. Terus melaju menemukan muara. Untuk dapat terbang menguap kembali menuju asalnya. Dengan bekal pengalaman, dengan bekal cerita perjalanan. Ia bermanfaat untuk tumbuh kembangnya biota air. Ikan, kepiting, udang, dan banyak lagi. Ia juga dijadikan sumber ketika kehausan. Di lain waktu, kau akan saksikan ia indah mengalir pelan di antara pepohonan. Sementara air yang diam, hanya akan tergenang. Lambat laun lumut akan tumbuh. Lalu menyebarkan warna dan bau menyengat. Membuat orang enggan menyentuhnya. Sungguh menjadi semakin terbatas dan sedikit sekali manfaatnya. Menjadi kehilangan makna dari air itu sendiri.

Oleh karenanya sahabatku, semoga kita tetap dapat terus melangkah. Menemukan hal baru. Mempelajari hal baru. Membaca sesuatu yang baru. Dinamis dalam kehidupan. Bangga dengan keberadaan. Dan kita menjadi insan yang bermanfaat untuk sebuah penghargaan. Ya, kemanfaatan diri kita adalah penghargaan atas usia dan potensi yang telah ada pada kita. Sebentuk apresiasi akan sekecil usaha, dan sebagai nilai atas sebuah cita-cita. Sebagai upaya menjemput makna, akan waktu yang mengiringi setiap langkah kaki kita.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…