Langsung ke konten utama

Oleh-oleh Hari Ini

1374159_337185299760910_1847385392_n (1)Ada pepatah arab bagus saya temukan, 'musuh yang pintar itu lebih baik dari teman yang bodoh'. Ini seperti refleksi panjang yang telah saya lalui.

Proses manusia menjadi bearhasil itu panjang. Memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Dan menghabiskan waktu yang tidak pendek. Namun mungkin justru itulah membuat nilai perjuangan menuju berhasil menjadi lebih bermakna, karena semakin banyak waktu terpakai untuk proses pewujudan cita-cita yang tinggi, justru akan membuat cerita keberhasilan semakin manis.

Saat ini, saya masih bersama rekan-rekan di Murokaz Al Quran. Sehari bersama Al Qur'an. Di tiap sudut mushola ini, rekan-rekan tengah hikmat mengeja setiap ayat dalam Al Qur'an. Setelah sebelumnya sekitar satu jam setengah mendapat taujih manfaat dari Ustadz.
Pada sesi taujih tadi, saya menemukan sesuatu, yang ingin saya bagi. Menyangkut upaya dalam mewujudkan cita-cita. Ikhtiar menjadi yang paling bermanfaat. Dan perjuangan mwnuju keberhasilan yang panjang.
Bahwa dalam kompetisi menjadi 'yang paling baik', dalam ikhtiar menjadi 'yang paling berprestasi' itu, bukan waktunya lagi kita menjadi orang yang minder. Ada pepatah arab bagus saya temukan, 'musuh yang pintar itu lebih baik dari teman yang bodoh'. Ini seperti refleksi panjang yang telah saya lalui. Ya, kita sering ingin menjadi juara tanpa mau berkompetisi dengan lebih banyak orang. Kita ingin menjadi juara dengan lawan yang biasa-biasa. Dan saat kita menemukan seorang lawan tangguh, maka kita langsung menurunkan derajat semangat kita. Menganggap seolah kita tidak akan pernah sanggup melampaui. Kita lupa bagaimana mengapresiasi cita-cita kita.
Padahal, hakikatnya, semakin kuat kompetitor kita, maka harusnya semakin memicau semangat kita. Bukankah lebih membanggakan rasanya saat kita dapat menang dengan baik ketika melawan seorang yang tangguh dan telah profesional, ketimbang menjadi juara dari tiga peserta. Mana lebih menarik menjadi juara harapan dari seribu peserta, ketimbang juara satu dari dua peserta? Maka kompetitor tangguh itu semestinya justru akan memacu motivasi kita.

.....

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…