Langsung ke konten utama

Proses Menuju Hal Besar

honeycomb-pattern-012.pngSelama proses pergantian waktu, saat generasi baru berdatangan dan generasi lama menyudahi masa studinya, tentu membawa warna sendiri. Sedikit demi sedikit, warna lama akan memudar atau berbaur menjadi warna baru, sehingga tidak mungkin “kesamaan gerakan” akan terjadi. Dalam prosesi itu, tentu banyak hal yang telah hilang. Namun sesuatu yang hilang itu, bukan total tanpa bentuk, melainkan bermetamorfosis menjadi warna baru. Itu yang dinamakan perjalalanan sejarah.


Tabiat manusia ketika harus meninggalkan sesuatu yang berharga ialah muncul angan agar masa itu terulang kembali. Dalam bentuk dan cerita yang sama. Meski dalam kondisi nyata sesuatu itu hampir tidak mungkin -kecuali atas kehendak Alloh SWT-, tapi manusia tetap menginginkan dan terus berharap agar masa itu berulang. Kondisi itu diwujudkan dengan seringnya terlontar perkataan “seandainya saya kembali pada masa itu lagi”. Bahkan, seorang yang dinilai mumpuni dalam keilmuan pun pernah mengatakan hal demikian. Apa yang membuat mengenang peristiwa menjadi hal yang begitu menarik? Sekali lagi bukan karena waktu telah meninggalkan sebuah peristiwa, tetapi karena ada sebuah peristiwa yang menggugah hati dengan menuliskan kesan yang tak biasa.

Apakah mengenang masa lalu adalah sebuah kesalahan? Tentu tidak harus dimakan bulat-bulat. Karena banyak hal yang terjadi saat ini adalah sebagai hasil dari yang pernah berlalu. Apa yang kita lihat sekarang bisa jadi sebagai hasil dari sejarah itu. Karena kita dan sejarah, ada dalam aliran waktu yang berurutan. Kita dan sejarah bagaikan aliran air dalam sungai, saling berhubungan.

Keterhubungan kita dengan sejarah menjadi proses yang telah alami berjalan. Yang paling menarik dari “keterhubungan” itu bukan keterikatannya, tapi peralihan dalam perjalanannya sehingga melahirkan hal yang berbeda dari muaranya. Kekhasan warna air bergantung dimana air itu mengalir. Air yang mengalir di sungai penuh tanah liat akan bewarna coklat, sesuai dengan yang dilaluinya, sementara air yang melewati sungai penuh bebatuan akan bewarna jernih. Sekali lagi bergantung dimana air itu mengalir.

Makna analogi itu bahwa warna dari sebuah proses gerakan akan bergantung dari dimana posisi gerakan berada. Ketika sebuah generasi berada dalam kondisi menghimpit, maka laku generasi itu akan menjadi kebal sesuai dengan kondisinya. Adaptasi itu yang menjadi warna khas sebuah generasi. Dan warna khas sebagai hasil dari adaptasi dengan kondisi yang dilalui oleh suatu generasi, adalah wadah dalam merajut sejarah baru. Artinya, setiap generasi memiliki kesempatan untuk membuat sejarah, setiap generasi memiliki warna yang akan membentuk sejarahnya sendiri. Sehingga pemaksaan akan adanya persamaan dengan selalu mengatakan ‘dulu kami begini dan begitu’, nyata-nyata hanya akan membunuh usaha membuat sejarah baru bagi suatu generasi.

Mengenang dan mengupayakan agar serupa, bukan solusi utama menghadapi persoalan yang tengah dihadapi suatu generasi. Membiarkan suatu generasi beradaptasi dengan waktu yang dimilikinya lalu menjadi agen perubahan di masanya, terasa lebih bijak dari pada menumbuhkan bibit kebanggaan pada sejarah pendahulunya. Karena aliran transisi di masa yang berbeda itu adalah juga proses menuju hal besar.

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Menelaah Kebijaksanaan Hidup Lewat Tradisi dan Tari #5

Judul  'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'

1.Tweepz terimakasih karena sudah stay tune di kultwit sy, khususnya yang sudah di chrip
2.Mulai dari Tari Kejei, Tari Andun, hingga Tari Ganau yang syarat akan keelokan pesan budi
3.Hari ini kita akan bicara soal Tari Bubu
4.Judulnya 'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'
5.Ya, Tari Bubu adalah tari kreasi baru yang mengangkat semangat
6.Idenya dari kebiasaan masyarakat dalam menangkap ikan di sungai menggunakan bubu
7.Bubu adalah alat penangkap ikan yang dibuat dari bambu dan sifatnya pasif
8.Bubu ini jebakan yang sering di sebut 'traps' atau 'guiding barriers'
9.Alat ini berbentuk kurungan yang di desain untuk ikan dapat masuk namun tidak bisa keluar
10.Alat ini banyak ditemukan di seantero Indonesia dan kerap dipakai masyarakat
11.Tari bubu dimainkan dengan jumlah genap, penarinya mengenakan baju kurung bewarna cerah
12.Warna pakaian adat Bengkulu m…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…