Langsung ke konten utama

Sampai Kita Cukup Mandiri

Image ....Yakni ketika kita menyiapkan diri untuk menjadi pelaku aktif. Karena pelatihan softskill dibina dari arena yang mengharuskan individunya untuk terus bergerak aktif mengembangkan diri di dalam wadahnya.

Hal yang melatar belakangi mahasiswa mengikuti dan bergabung dalam organisasi mahasiswa adalah kesesuaian dengan minat dan harapan agara dia dalam organisasi tersebut akan bisa berkembang. Ia selalu berangan-angan bahwa organisasi itu akan cukup menampung aspirasi yang sering tanpa arah, atau akan mau memberikan ilmu yang ia belum miliki. Semuanya berlandaskan harapan bahwa mahasiswa mengikuti organisasi untuk mendapatkan banyak hal bermanfaat, dan organisasi itu sanggup mengembangkan potensi pribadinya.

Gejala yang seperti ini sangat tampak ketika masa penerimaan keanggotaan baru sebuah organisasi, dimana jumlah yang bergabung biasanya  dalam jumlah banyak. Berjalan seperti sesuatu yang alami dan pasti demikian alurnya. Namun ketika tiba masa telah bergabung dalam organisasi, mengikiti perjalanan organisasi tersebut,  satu persatu mulai berjatuhan dan mundur. Ini yang mengakibatkan jumlah panitia penyambutan kerap lebih sedikit dari jumlah pendaftar baru.

Bagaimana organisasi dapat kehilangan kekuatan menjaga para anggotanya untuk tetap bertahan? Diantara faktor penyebab itu muncul tidak hanya dari internal saja. Seperti kegagalan manajemen organisasi sehingga organisasi berjalan cacat dikarenakan struktur tidak berjalan sesuai fungsinya dan terjadi kekurangan motivasi. Tapi faktor yang justeru mendominasi adalah karena kader-kader barunya masih menganggap bahwa mereka bergabung bukan untuk membangun sebuah stuktur keorganisasian yang baik, melainkan untuk menerima manfaat. Kebanyakan mereka masuk untuk mengembangkan dirinya dengan senantiasa meminta agar diperlakukan dengan istimewa, karena mereka memposisikan diri bukan sebagai pengelola yang memiliki organisasi, tetapi pengkonsumsi hasil kerja sebuah organisasi.

Lain hal dengan organisasi yang telah memiliki kekokohan struktur. Hal seperti ini tidak menjadi persoalan sangat serius, karena dalam jangka panjang mereka masih dapat mempertahankan diri sebagai penyuplai ilmu bagi generasi barunya. diibaratkan mereka adalah seorang ibu yang masih bisa terus memberikan ASI bagi anaknya yang masih kecil. Namun, antara jumlah organisasi yang telah memiliki stuktur kokoh dengan organisasi yang masih cacat manajemen, masih lebih banyak organisasi yang cacat manajemen. Sehingga mereka belum mampu memperlakukan kader barunya sebagaimana seorang induk kepada anaknya.

Akibat  yang paling lazim adalah kader baru merasa diacuhkan karena belum cukup bisa mendapatkan apa yang ia cari, atau merasa tidak diperlakukan istimewa, sehingga pilihan untuk mundur dianggap menjadi penyelesaian terbaik. Sistematika seperti inilah yang kerap melanda tubuh organisasi. Dan bagai dilema, pengurusnya pun tidak dapat berbuat banyak dengan pilihan kader barunya, karena memang belum bisa menjadi induk untuk keberkembangan anggota-anggotanya.

Oleh karenanya, penekanan fungsi dan peran sejak dini sangat bagus untuk diterapkan. Menanamkan pola pikir bahwa organisasi benar sebagai wadah mengembangkan diri namun seseorang tidak akan dapat berkembang jika selamanya berada diposisi sebagai konsumen kerja sebuah organisasi, sangat dianjurkan untuk dipahamkan sejak dini. Karena pengembangan diri lebih bermakna aksi yang dilakukan untuk membuat dirinya dan yang ada disekitanya (termasuk yang mewadahi)  menjadi arena yang kondusif untuk keberkembangan dirinya tumbuh. Sehingga bukan organisasi yang menyebabkan seseorang itu berkembang, melainkan individu didalamnya yang memacu diri untuk berkembang. Sebagai hasil adalah secara otomatis posisi organisasi sebagai wadahnya pun juga akan ikut berkembang. Mustahil sebuah organisasi akan berkembang dengan sendirinya jika individu di dalamnya tidak mengembangkan diri. Karena organisasi bukan benda hidup yang mampu melakukan aksi, melainkan hanya sebuah wadah yang tidak bisa bergerak jika tidak ada penggeraknya.

Jadi, salah satu kunci pemahaman yang harus kita tanamkan adalah bahwa organisasi yang besar lahir dari individu yang didalamnya senantiasa mengembangkan diri. Individu yang orientasi pengembangan dirinya bukan berada pada posisi penerima hasil, melainkan pelaku atau penggerak sebuah organisasi. Maka inividu yang lahir berkembang dalam sebuah wadah inilah yang akan menjadi besar, bersama wadah yang ia tempati.

Hal ini hanya akan berlangsung  jika kita telah cukup mandiri memahami fungsi diri dalam sebuah organisasi. Yakni ketika kita menyiapkan diri untuk menjadi pelaku aktif. Karena pelatihan softskill dibina dari arena yang mengharuskan individunya untuk terus bergerak aktif mengembangkan diri di dalam wadahnya. Jika kita masih belum sanggup dan terus merendahkan kualitas diri bahwa “saya belum punya bekal” maka berarti kita mengikrarkan diri sebagai agen konsumtif yang keberkembangannya menunggu asupan dari sebuah organisasi. Dan golongan seperti ini yang kerap mundur, karena mengganggap bahwa dirinya lemah, mudah mengeluh, dan kurang mantap. Disebabkan pengasihan akan dirinya lebih besar dari keinginnan untuk berkembang. Mundur karena merasa diri tidak diperlakukan selayaknya anak yang menerima terus perhatian induknya. Mundur karena secara pribadi menyadari bahwa ia belum cukup mandiri mengelola pemikiran untuk melakukan aksi.

Padahal, setiap orang dilahirkan tidak mungkin tanpa sebuah potensi. Setiap pemuda yang beranjak adalah agen istimewa yang pula memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Cepat atau lambat laju perkembangan itu, tergantung dari keberanian menghadapi resiko untuk bersikap mandiri, bukan mengasihani diri. Bahwa, kita bukan penerima keberhasilan, tetapi pelaku keberhasilan itu. 

Postingan populer dari blog ini

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…