Langsung ke konten utama

Sepenggal Rindumu

love-130v

...dan sejujurnya, saya meragukan konsep rindu yang semacam itu. Terlalu agung rasanya jika kata 'rindu' itu harus di sematkan dalam hubungan murahan sekelas kresek sampah itu. Rindu memiliki makna bukan sekedar bunga dan senyum hayalan. Rindu lebih indah dan lebih layak untuk mendapat tempat yang  lebih halal dan agung....

Malam ini saya berjumpa lagi dengan adik-adik. Pertemuan yang selalu indah. Lingkaran penuh cinta. Berjalan untuk kesekian kalinya, dan setiap pertemuan itu, tak pernah putus rasanya kebahagiaan hati ini.

Bukan mereka yang belajar kepada saya. Tetapi saya lah yang sedang belajar dari mereka. Ya, lebih tepat saya katakan mereka lah sesungguhnya guru saya.

Dari mereka, dari interaksi kami, dari diskusi kami, saya menyelami sebuah pola yang menakjubkan. Saya masuk dalam wilayah yang memesona. Masuk dalam dunia luas yang di isi dengan bermacam-macam bentuk fikiran. Ah, bahkan saya tak sanggup membahasakan bagaimana menariknya belajar tentang manusia. Belajar tentang pola pandangan mereka yang beragam. Belajar tentang proses waktu yang menjadikan mereka berkembang. Belajar membaca pola mereka dalam menuju keberhasilan.

Seperti biasa, selalu ada sesi untuk masing-masing kami membicarakan kebahagian dan ketidak bahagiaan. Sesi yang menarik. Di bagian ini lah, saya paling banyak belajar. Saat adik-adik saya bergantian membicarakan apa yang ia alami dalam sepekan lalu. Dan sebagaimana sering, malam ini saya menemukan sepenggal kisah menarik dari mereka. Ada saat dimana bunga bermekaran wangi, segalanya menjadi indah, dan mereka menamakan itu sebagai cinta. Dan itulah yang ia alami. Tentang cinta antara laki-laki dan perempuan. Cerita klasik.

Menghadapi persoalan itu, mereka benar-benar perlu seorang kakak untuk berdiskusi. Memberi nasihat barang sepatah dua patah kalimat saja. Mereka perlu tempat nyaman, untuk menyampaikan keluh kesah mereka. Dan sebaik-baik penyampai itu adalah kita yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya.

Saya  belajar  menanggapi cerita mereka dengan sebijak mungkin. Bagaimana pun, mereka bercerita untuk menemukan solusi, bukan hujatan. Mereka bercerita dengan dasar kepercayaan. Mereka memiliki hak untuk menentukan pilihan. Sehingga solusi itu bukan atas dasar intervensi, namun lebih terasa sebagai bagian dari pembelajaran menuju kedewasaan.

Saya mengawali dengan meyakinkan bahwa itu bukan sebagai hal terburuk. Karena esensinya yang ia minta bukanlah justifikasi baik atau buruk.  Namun saya lebih menyampaikan tentang kondisinya sebagai seorang pelajar yang jauh merantau. Ya, saya sampaikan bahwa saat ini ayah dan ibunya tengah lelah beristirahat karena seharian tanpa henti berjuang. Bahkan boleh jadi mereka masih bekerja saat ini. Sehingga sekedar menghabiskan waktu untuk melayani curahan hati. Melayani kerinduan yang mengada-ada, yang tak lain hanya hasrat oleh sugesti sinetron murahan. Serta menghabiskan waktu hanya dengan bunga-bunga hanyalan, bukan sesuatu yang produktif.

Saya sampaikan pula bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang menjaga harga diri wanita. Lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik. Begitu pula sebaliknya. Sehingga jika kita benar-benar mengatakan diri sebagai lelaki yang baik, bertanggung jawab, pastilah tidak akan mungkin mengotori nilai sucinya. Karena apabila kita saat ini telah menyentuh tangannya. Maka berarti kita telah merusak nilai suci seorang wanita. Dan boleh jadi saat kita kelak mendapatkan seorang istri, maka istri kita dulu semasa muda adalah juga pernah di sentuh tangannya oleh pemuda lain. Jika saat ini kita melakukan lebih dari itu, maka bukan mustahil istri kita juga pernah melakukan hal yang lebih dari itu. Pun sebaliknya. Pabila saat ini kita tidak membiarkan diri kita terjerumus di dalam hubungan itu, tidak mengurangi nilai harga seorang wanita. Maka InsyaAlloh kita akan mendapatkan seorang istri yang tetap terjaga nilainya.

Ia mengutarakan pertanyaan, bagaimana jika merasakan rindu?

Aha, rindu. Manis sekali kedengarannya. Bukankan kerinduan itu hanya muncul saat kita tengah sendiri, atau saat kita dalam keluangan waktu? Sehingga mengalahkannya adalah dengan mencari aktivitas sebanyak mungkin agar rindu tidak sempat datang diantara waktumu. Dan sejujurnya, saya meragukan konsep rindu yang semacam itu. Terlalu agung rasanya jika kata 'rindu' itu harus di sematkan dalam hubungan murahan sekelas kresek sampah itu. Rindu memiliki makna bukan sekedar bunga dan senyum hayalan. Rindu lebih indah dan lebih layak untuk mendapat tempat yang  lebih halal dan agung.

Dia pun bertanya kembali, bagaimana cara menghentikan hubungannya? Maka saya sampaikan untuk mengambil telepon genggam, lalu menulis sebuah pesan untuk dikirimkan esok siang. 'Terimakasih telah menjadi teman cerita. Dan saya sangat berterimakasih jika anda tidak lagi membalas dan mengirim pesan kepada saya. Selamat belajar'.

Akhirnya dia tersenyum. Pun sudah malam diskusi ini. Saya berharap agar ia lebih memilih untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Ketimbang memikirkan persoalan murahan semacam 'cinta monyet' dan 'rindu kresek'. Dia punya masa depan lebih panjang, dan kesempatan lebih luas untuk berhasil. Hingga saat tiba, dia akan meminang seorang wanita soleha, lalu menemukan cinta dan rindu pasca ijab qobul. Menemukan momen paling mesra dan halal, untuk menjalin hubungan penuh cerita.

Aha, betapa puitisnya saya rupanya.

Postingan populer dari blog ini

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…