Langsung ke konten utama

Surat 1

Image

Jika tidak bisa menaikkan IPK setelah bertahun-tahun, jika tetap tidak serius dengan bidang akademis, maka tinggalkanlah. Ambillah peluang lain selain hanya menyibukkan diri dengan persoalan IK saja, karena mengejar dan fokus pada sesuatu yang tidak memberikan banyak manfaat, hanya menghabiskan waktumu saja. Sementara umurmu sebagai mahasiswa tiak kekal, hanya empat tahun saja. Alangkah sayang jika empat tahun mu hanya dipakai untuk meratapi buku yang tak kunjung kau pahami. Hanay digunakan untuk membuang waktu menaikkan IPK yang pada kenyataanya, hanya menghabiskan umurmu.

Kenapa demikian? Karena tak mungkin seorang yang telah mengatakan “saya serius ingin fokus di akademik, meikkan IPK” namun hasilnya tidak pernah berubah, bisa dikatakan serius. Kemungkinan besar hanyalah penghamburan waktu dari kemalasan yang menggunakan tedeng aling-aling fokus akademik. Jangan jadikan dirimu mahasiswa “dungu” yang tidak menyempatkan diri melakukan hal bermanfaat selama menjadi mahasiswa. Padahal, berdirinya kamu sebagai mahasiswa bukan atas usaha yang kamu lakukan secara individu, yang tidak melibatkan banyak orang. Orang tuamu yang selalu mensubsidi ongkosmu, yang banyak melakukan pengorbanan untukmu, bahkan mungkin mereka tak sempat membeli sikat gigi baru selama berbulan-bulan, demi memberimu uang saku. Lebih dari itu, subsidi pendidikan untuk meringankan beban biayamu, dengan sebuah harapan bahwa semakin banyak mahluk cerdas yang akan mengangkat bangsa ini dari pelecehan yang tak masuk akal.

Mari sadari bersama-sama sahabatku, membuat satu hal bermanfaat. Membuat karya, menulis selembar prestasi, dan menggunakan sisa umur sebagai mahasiswa kita. Tidak mungkin kita bisa berubah jika belum bisa bangkit dari keluhan-keluhanmu akan IPK yang selalu rendah, padahal mengaku diri telah fokus dan rajin. Jika benar itu telah dilakukan, namun tetap beum memberikan hasil sebagaimana harapanmu, bisa jadi ada yang salah dengan kejujuranmu. Bisa saji kamu masih menjadi satu yang belum mempercayai kekuatan diri lalu mengantungkan jawaban pada kawan sebangku. Atau menjadi penyimpan wasiat yang ketika ujian tiba dikeluarkan dalam lebaran dan catatan kecil. Jika itu yang terjadi, percayalah nasib IPK mu belu akan brubah, selama belum bisa berani mempercayai dirimu sendiri.

Namun, jika telah jujur pun kamu tetap belum memperoleh gundukan kemegahan IPK, maka sadarkanlah diri, bukan disana tempatmu berada. Ambillah wilayah lain yang akan mengasah potensimu. Bisa jadi bakatmu sebenarnya adalah sebagai manajer dalam sebuah organisasi, yang bisa mengendalikan dan mengatur porganisasi. Atau bisa jadi sesungguhnya kamu adalah agen paling ditunggu oleh masyarakat. Menjadi penyambung tangan, menjadi pengarah msyarakat, dan pemerhati keresahan masyarakat. Serta lebih banyak pilihan yang bisa kamu tepuh, karena tak mungkin Alloh SWT tidak meberimu sebuah potensi yang kelak akan kamu temukan. Bagaikan paku yang tinggal menunggu magnitnya saja, dimana ketika kau dekat, dengan senyum kenyamanan, kamu akan bersandar dengan itu. Mari mengenali diri dan potensi kita sahabatku.

Sebua Kresahan

Ada yang dengan mengantungkan pada wasiat lalu mendapatkan ketinggian IPK, lalu membuatmu iri. Padahal kamu pula telah melakukan hal yang sama. Bagaimana ini bisa terjadi, katamu. Ada yang mengandalkan pada kecerdasan kawan sebangku, juga memperoleh ketinggian IPK, lagi-lagi membuatmu iri. Bagaimana mungkin bisa terjadi, katamu.

Oh sahabatku, tidak lelahkan kamu selalu melihat dan iri pada mahasiswa yang demikian. Cobalah tanya pada mereka, adakah kelegaan dan kebanggaan yang damai dihati mereka, walau predikat tertinggi dari sebuah IPK telah mereka raih? Sesungguhnya dalam hati kecil mereka malu, mereka malu menjadi yang tertinggi. Namun, ketidak percayaan amereka akan diri serta ketakutan mereka pada kejujuran, membuat mereka senantiasa melakukannya. Sehingga membiasakan mereka. Ah senyum tawa merekan meyaksikan taburan nilai A hanyalah sebuah kejap yang dalam hati tertangisi. Karena ketika mereka bertemu dengan mahasiswa yang berabi jujur, mereka malu hati. Mereka menyadari kesalahan itu, namun apa daya, mereka hanya bisa beralasan “saya tidak bisa berubah’. Hanya alasan, ya hanya alasan, dari ketakutan dan semunya memaknai jabatan sebagai mahasiswa, yang hanya dinilai sebatas angka sampai empat saja. Jangan pernah iri pada mereka, generasi pemalu yang sesungguhnya sangat menyedihkan. Berdiri pada kekohona kejujuran, maka kamu akan dapatkan hal lain yang kamu butuhkan. Karena kejujuran itu tidak mungkin tidak mendapatkan nilai dari Alloh SWT.

Jika kemudian kamu tetap tidak terima apa yang telah mereka dapatkan, maka sesungguhnya apa yang membuatmu tidak terima? Apakah kamu merasa bangga jika bisa seperti mereka? Apakah menjadi koruptor yang tidak berani jujur itu sebuah prilaku yang membuatmu  iri? Irilah pada mereka yang bernasib sama sepertimu, namun mereka mendapatkan nilai itu dengan kejujuran, dengan keihlasan. Mereka adalah orang yang kelak akan menadaptakan kejutan atas kejujuran mereka. Sungguh menjadi pembigong yang harus menahan beban ketidakbangaan dan rasa bersalah, adalah bukan kenikmatan. Kelapangan dada akan hasil murni dari usahamu, dari keringatmu, seberapapun itu, lebih melegakan. Ibarat petani padi yang telah berjuang penuh semangat merawat padinya, dengan sepenuh hati, namun belum memberikan keuntungan penjualan membanggakan. Tetapi mereka bangga menikmati nasi yang mereka tanak dari beras yang ditabur dengan keringat perjuangan.

Bebaskan diri kita sahabat. Irilah pada mereka yang jujur,karena mereka selalu dapat tersenyumlapang penuh damai. Jangan iri pada mereka yang tertawa terbahak mendapatkan puji sanjung, padahalhati mereka sangat sempit dan penuh rasa bersalah. Karena, predikat IPK tertinggi itu, hanya di sorak soarai sanjung dengan tepuk tangan sebanyak dua kali saja selama umurmu. Yakni yudisium dan wisuda. Setelah itu, apa peduli orang dengan apa itu IPK. Maka relakah kamu mengejar dan membohongi diri, hanya demi dua tepuk tangan saja, sementara kamu punya banyak peluang untuk mendapatkan tepukan tangan lebih dari itu, bahkan seumur hidupmu, atau sampai engkau dalam dekapan surga pun akan tetap medapatkan tepuk tangan atas sebuah karya besar yang sangat berharga. Tidak menggiurkankah? 

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…