Langsung ke konten utama

...yang Bersemangat lah

lady_fly-wallpaper-1920x1080

....lambat laun, banyak pula yang mulai menemukan alasan untuk mengundurkan diri. Satu persatu memilih untuk kandas dan menyerahkan diri pada pola hidup biasa. Satu persatu memilih untuk menghamba pada pembenaran bahwa mereka tidak akan berhasil. Satu persatu mulai terformat, terdoktrin, untuk menjadi generasi yang biasa-biasa saja. Dan menghilang dari lingkaran semangat dan cita-cita.

Usai solat Magrib di Masjid Darul Ulum, saya ada janji untuk berjumpa dengan adik-adik. Bertemu dalam lingkaran penuh cinta. Berpaut dalam ruang penuh nilai dan manfaat, InsyaAlloh. Serta duduk dengan sebuah ikhtiar yang sama bahwa kita bersama dapat menjadi insan yang lebih berarti.

Selang berapa menit saat imam salam di rakaat terakhir, mulai terdengar desisan angin berserta titik-titik air menyuarakan bunyi di atap masjid. Tidak bertahan, maka hujan pun mengguyur dengan derasnya.

Selalu ada hal menarik saat hujan, saya selalu menyukai saat angin pertama berhembus. Menebarkan wangi kesegaran. Sejuk yang berbeda.

Kami sudah dalam formasi melingkar. Sebagian belum dapat hadir, atau tepatnya tidak dapat menyusul mengingat derasnya hujan. Dan pertemuan ini tetap berlangsung.

Ini adalah pertemuan ke empat. Berarti sebulan penuh telah berlangsung. Yang saya lihat adalah seleksi yang mulai berlaku. Semangat yang mulai bergejolak. Fluktuasinya semakin timpang. Dan seperti dahulu, maka saya melihat proses penempaan yang akan panjang.

Saya selalu yakin bahwa semangat memiliki peran lebih dari sekedar rasa yang bergejolak. Semangat dapat menjadi sumber energi yang menembus pemikiran dan belenggu kebanyakan. Sehingga kemenangan itu sering bukan berdasar dari keberhasilan menaklukkan sesuatu yang besar, atau mencapai sesuatu yang dahsyat. Namun berdasar semangat yang paling konsisten terjaga dalam sebuah visi jangka panjang. Semangat yang terjaga itu lah yang membuat proses menuju kemenangan menjadi bermakna. Sehingga menjadi sebentuk pengalaman berharga untuk menginspirasi orang di sekeliling.

Setiap tahun saat mahasiswa baru datang, maka di awal selalu berbondong-bondong mengikuti kegiatan ekstra. Bahkan tak tertampung kadang. Cermin semangat yang luar biasa. Namun lambat laun, banyak pula yang mulai menemukan alasan untuk mengundurkan diri. Satu persatu memilih untuk kandas dan menyerahkan diri pada pola hidup biasa. Satu persatu memilih untuk menghamba pada pembenaran bahwa mereka tidak akan berhasil. Satu persatu mulai terformat, terdoktrin, untuk menjadi generasi yang biasa-biasa saja. Dan menghilang dari lingkaran semangat dan cita-cita.

Tentu ini bukan hal baik. Namun kadang saya berfikir bahwa ini juga berarti proses seleksi. Akan terlihat sesiapa yang memiliki semangat tinggi. Akan tampak siapa yang bersungguh-sungguh menempuh visi. Akan terlihat mutiara itu semakin bersinar. Maka waktulah yang mengiringi pembuktian itu.

Apakah itu berarti setiap periode selalu akan sedikit orang yang 'luar biasa'?

Bagi saya setiap orang punya kesempatan untuk menjadi luar biasa. Masing-masing berpeluang untuk menjadi berhasil dalam usia muda. Hanya siapa yang paling kuat memegang cita-cita, memegang prinsip untuk berhasil, yang akan sampai di titik akhir. Artinya keluarbiasaan itu bukan di tentukan oleh jumlah, melainkan semangat personal yang terjaga. Keluarbiasaan itu bukan persoalan waktu dan seleksi, tapi siapa yang paling konsisten untuk dinamis.

Dia yang berhasil, maka dia yang paling lama bertahan. Bukan gebrakan besar di awal saja, namun mampu membuktikan kualitas diri yang tinggi di setiap momen. Kita dapat menjadi luar biasa, kawan. Itu pilihan, maka pilihlah tanpa ragu.

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…