Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Catatan Pagi

Ada penyadaran yang kemudian hadir. Kesadaran yang kembali. Membawa pada ingatan-ingatan yang panjang. Sering membuat tersenyum, sering pula membuat saya bersedih. Bagian dari proses berjalan yang menghabiskan banyak waktu.Pagi ini saya sempatkan untuk bersandar dan menulis. Sekedar untuk melegakan dan membahagiakan hati. Merenungi apa-apa saja hal baik yang telah terjadi akhir-akhir ini.Saya sangat bersyukur akhirnya Pesta Karya Mahasiswa 2013 usai. Sebuah momen menarik dan sarat kesan. Serangkaian agenda yang InsyaAlloh menjadi ruang bagi peningkatan atmosfir akademis kampus Universitas Bengkulu. Sebentuk kegiatan penghargaan yang didedikasikan untuk ilmu pengetahuan.Rangakaian kegiatan apresiasi dan kompetisi siswa dan mahasiswanya. Membekas indah.Masih dapat saya ingat, dimana peserta Magic Science Competition memaparkan karya-karya 'magic'nya yang sebenarnya adalah trik ilmiah. Satu persatu. Saya juga dapat mengingati, saat menarik membaca naskah-naskah Lomba Cerpen. Mene…

Ada yang menyingkir

Ada yang menyingkir. Ada yang tersingkir. Dan ada yang disingkirkan.

Mereka yang menyingkir adalah mereka yang putus asa. Mereka yang lelah berharap dan mengharapkan bahwa ia akan dapat menjadi lebih. Mereka yang merasa bahwa dunia telah menolak kehadirannya. Bahwa segala bentuk interaksi itu adalah palsu. Bahwa dunia tak lagi mengharapkan kehadirannya.

Mereka yang tersingkir adalah yang kalah dalam bertahan. Yang gagal dalam berjuang. Terlindas oleh pola hidup yang tidak seperti yang ia inginkan.

Mereka yang disingkirkan adalah mereka yang ditolak oleh lingkungan. Mereka yang berbeda sehingga tidak di terima. Mereka yang terlanjur menjadi pesakitan dengan segala tuduhan dan prasangka. Mereka adalah golongan yang tidak di kehendaki lagi perannya.

Pria di balik layar

Lelaki itu, mendengar dengan seksama. Mendengar dengan rasa iba. Lalu sekilas ia melihat panggung. Ah, ia akan menghias panggung itu, menjadi tahta megah dan memukau. Di lihatnya baju para pria lusuh di hadapanya. Ah, akan kubuatkan baju yang berenda permata. Menjadikan mereka sebagai maestro dan tokoh utama di panggung itu. 



Jika saya boleh bercerita, tentang sebuah agenda. Dimana semua mata terpukau. Sorak sorai sahut menyahut. Rasa takjub yang tak pernah putus. Lalu beriring gemuruh musik memenuhi ruangan. Ini adalah agenda yang besar. Dan yang membuatnya utuh sebagai agenda besar karena jumlah pesertanya pun besar. Penuh sesak. Sangat memukau.

Di panggung sang masetro memandu acara. Dengan busana yang rapi elok dan elit. Memainkan intonasi. Menampilkan senyum nan megah. Berkeliling di panggung dengan pola-pola menawan. Setiap jengkalnya di isi dengan ketakjuban dan keterpesonaan. Oh, ia pun sungguh indah di panggung besar itu. Bukan melebihi atau mengurangi, namun menambah kemegahan…

Tentang Persoalan itu

....kita benar diuji kekuatannya. Apakah kita lebih kuat menyelesaikan masalah itu, atau masalah itu lebih kuat menghabiskan waktu-waktu kita yang berharga. Apakah kita lebih kuat bertahan dengan semua masalah itu, atau masalah itu yang lebih kuat menyerang dari kecepatan kita menyelesaikan persoalan


Jadi, setiap kita pastilah sering menemukan dan terbentur sebuah persoalan. Baik secara personal mau pun secara kelompok. Mau tidak mau, suka tidak suka, persoalan itu adalah hal yang akan selalu ada.

Persoalan itu pastilah akan selalu ada. Namun keberadaannya bukan untuk di hindari, melainkan untuk di selesaikan. Keberadaannya bukan untuk di kutuki, tetapi dicarikan solusi.

Saya sering menemukan, kita belum cukup dewasa dalam menentukan sikap. Kita sering gamang dalam memilih tindakan. Mana yang semestinya kita lakukan saat dibenturkan  persoalan, dan mana yang harus di tinggalkan.

Lebih menyedihkan, dalam posisi himpitan persoalan itu, justru kita senang meng ada-ada. Menghayalkan sesuatu d…

Menjadi Akar atau Bunga?

Ingatlah apa yang telah di lakukan oleh akar. Jangan karena kotor lalu ia abai. Bukankah saat tanaman mulai tumbuh, maka ia julkan akarnya lebih dahulu. Baru mulai mengembangkan tunas hingga saat dewasa muncullah bunga. Bukankah yang membuat bunga itu layu lebih cepat saat ia di pisahkan dari akarnya. Sehingga jika kita menimbang, maka lebih berharga akar atau bunga?

Pernah melihat setangkai bunga yang indah bukan? Aha, bunga memang identik sekali dengan keindahan. Bunga juga menunjukkan ketinggian niai. Representasi dari keberhasilan dan kemahsyuran. Bunga juga diperlambangkan dengan derajat. Karena mahkota bunga adalah perhiasan yang membuat bunga itu indah.

Dalam banyak hal, sering kita temui ada yang dapat berubah dengan setangkai bunga. Ketika seorang istri yang marah, maka berilah seikat bunga mawar. Maka akan ia simpan sebagai hadiah yang indah. Saat kau melihat seorang petinggi datang ke pulau mu, aha, sambutlah ia dengan kalung dari untaian bunga. Saat seorang berbahagia atas j…

Kita Apa

Ada yang sering tidak dapat di ubah, bahwa setiap orang memang berbeda. Sering kita datang untuk bermimpi, mengupayakan segalanya menjadi serupa. Kita melihat keangungan tahta raja dan para punggawanya. Mengharap bahwa kita lah putra mahkota itu, kitalah yang duduk di ketinggian tahta.

Namun, dalam proses menuju insan mulia itu, sungguh setiap orang memiliki ruang sendiri. Nilai keagungan itu bukan hal kasat mata atau seberapa besar tinggi dan megahnya tempat duduk. Melainkan nilai manfaat dan kontribusi yang diberikan untuk sebuah ikhtiar kebaikan. Tidak ada istilah lebih tinggi sebenarnya, yang ada adalah setiap kita lahir dengan nilai dan ruang berbeda.
Mungkin benar, bahwa setiap kita sungguh sangat ingin duduk di ketinggian tahta itu. Sebagaimana pun posisi kita, tahta emas itu sangat mengagumkan. Namun kawan, mungkin kita tidak akan pernah sampai di tahta emas itu, bahkan menjamah sekali pun. Kita hanya akan menjadi pengagum yang terus mengagumi ukirannya. Kita selalu bermimpi.…

Sebuah Puisi: Maaf,

Bahwa aku belum cukup bangun untuk sadar bahwa kita bukan di mula lagi. Bahwa saat perpisahan itu sudah menghampiri. Karena, yang kutau kau sungguh ada dalam hati ini. Sebegitu dekat hingga walau nun disana, saat-saat kebersamaan itu, menjadi sebentuk ingatan yang membuatku damai.

Maafkan aku yang tak pandai memaknai arti persahabatan ini. Maafkan aku yang belum dapat memperlakukan dengan baik. Sungguh kau pun tau, sebenarnya aku adalah seorang anak kecil. Masih perlu banyak belajar tentang bermacam etika di duna ini.

Maafkan aku, yang tak pandai memaknai pertemuan ini. Bukan akhir yang indah untuk kisah yang di bina sekian lama. Bukan sebuah akhir yang layak untuk menghargai persaudaraan ini. Namun sungguh, kau pun tau, aku belum cukup dewasa untuk mengerti semua hal.

Maafkan aku yang tak pandai memaknai hati ini. Telah terpaut dalam rajutan ukhuwah demi mengingatkan arti sebenar dari persaudaraan itu sendiri. Haingga waktu yang bergulir, dirasa belum cukup sekedar membuatku mengerti.

Ma…

Workshop

Pesta Karya Mahasiswa 2013
By UKM Pengembangan Penalaran dan Penelitian Mahasiswa

Cerita si Kakek di Hari Jum'at

'Hei lihatlah, ada karnaval ! Ramai sekali berarak kendaraan yang dihias cantik. Orang-orang ramai berkerumun. Mereka sungguh indah', kata kakek pertama suatu waktu. Walau kakek ke dua tak mendengar suara tetabuhan karnaval, tapi sungguh ia membayangkan seolah ia lah yang menyaksikan karnaval itu langsung.

Jum'at selalu istimewa. Saya selalu ingat banyak sekali hal yang istimewa dipersiapkan untuk jumat. Konteks bahagian bukan selalu santai atau liburan, namun sering bahagia itu justru karena kesibukan yang lebih dari hari lainnya.

Jum'at ini pun bahagia. Saya ada jadwal pertemuan mentoring empat pertemuan dalam satu hari. Tentu membuat hati ini sangat berbahagia, karena di pertemuan tersebut saya berjumpa dengan adik-adik yang cemerlang. Penuh semangat. Dan berpancar masa depan yang mantap.

Sepagian, saya telah duduk di Masjid Darul Ulum, jam 07.30. Lebih awal dari agenda yang akan kita mulai jam 08.00. Sengaja kusiapkan waktu tersebut untuk duduk menghadap Allah. Mengha…

Kisah Monyet di Pohon Kelapa

Berada pada posisi puncak, bukan keberhasilan sesungguhnya. Karena ia masih dapat jatuh dengan itu. Berapa banyak orang yang gagal setelah beberapa waktu lalu masih menjadi suskses. Berapa banyak yang hidup terhida, padahal beberapa detik lalu masih menjadi raja yang di elu-elukan. 

______________

Siapa yang menang adalah ia yang akan bertahan lama. Bukan ia yang membuat aksi besar di depan, lalu akhirnya kandas. Namun , apabila dengan sebentuk pencapainnya itu, ia menjadi pribadi yang manfaat. Itulah puncak kemenangan sebenarnya.

***

Saya teringat sebuah kisah seekor monyet. Ah sudah melalui tahap adaptasi dan revisi dari sumber aslinya tentunya.

Seekormonyet melihat kelapa di ujung pohon kelapa. Ranum dan menawan. Ia sangat ingin memanjat pohon itu, lalu memetik buahnya. Sangat nikmat. Lalu ia mulai memanjat.

Beberapa kali pijakan kaki di batang itu, tanpa sadar telah menghadang kawat berduri yang melingkari pangkal pohon. Karena terlalu terpana akan keindahan kelapanya, ia pun lupa dan m…

Catatan dari Bermani

Namun, sungguh, apabila saya hanya punya kesempatan untuk berdo'a, maka saya sangat berharap agar mereka suatu waktu akan menjadi insan bermanfaat. Menemukan konsep 'manusia' utuh, bukan sebagai duplikasi dari mode tontonan.

Hari ini kami berkesempatan untuk kunjungan ke SMK Bermani Ilir, Kepahiang, Bengkulu. Agendanya, selain Road show pesta Karya Mahasiswa 2013, pengenalan Media Cendekia, juga training motivasi ke para siswa disana. Saya datang untuk mengisi training motivasi di sana, dengan label Media Cendekia Learning Center.

Kami berangkat jam 08.30, melewati pegunungan sepancang perjalanan dari Kota Bengkulu ke Kabupaten Kepahiang. Ini adalah rute yang kerap saya lalui. Sehingga dalam hitungan saya, menempuh perjalanan yang berliku dan sarat tibunan longsor ini, bukan hal yang beresiko.

Sesampainya di Kepahiang, saya yang mengekor rekan saya kehilangan jejak rekan saya. Tepat di simpang bundaran Pasar Kepahiang. Otomatis, saya yang tidak tau rute mulai khawatir. Tetapi…