Langsung ke konten utama

Catatan dari Bermani

Image

Namun, sungguh, apabila saya hanya punya kesempatan untuk berdo'a, maka saya sangat berharap agar mereka suatu waktu akan menjadi insan bermanfaat. Menemukan konsep 'manusia' utuh, bukan sebagai duplikasi dari mode tontonan.

Hari ini kami berkesempatan untuk kunjungan ke SMK Bermani Ilir, Kepahiang, Bengkulu. Agendanya, selain Road show pesta Karya Mahasiswa 2013, pengenalan Media Cendekia, juga training motivasi ke para siswa disana. Saya datang untuk mengisi training motivasi di sana, dengan label Media Cendekia Learning Center.

Kami berangkat jam 08.30, melewati pegunungan sepancang perjalanan dari Kota Bengkulu ke Kabupaten Kepahiang. Ini adalah rute yang kerap saya lalui. Sehingga dalam hitungan saya, menempuh perjalanan yang berliku dan sarat tibunan longsor ini, bukan hal yang beresiko.

Sesampainya di Kepahiang, saya yang mengekor rekan saya kehilangan jejak rekan saya. Tepat di simpang bundaran Pasar Kepahiang. Otomatis, saya yang tidak tau rute mulai khawatir. Tetapi setahu saya Bermani Ilir berada satu arah dengan jalan menuju Kabupaten Rejang Lebong. Sehingga saya pacu kencang, berharap menemukan jejak rekan saya.

Saat telah sampai di Ujan Mas, saya belum juga dapat menemukan jejak teman saya. Apakah ia berjalan dengan begitu cepatnya. Saya mulai ragu, jangan-jangan saya salah arah. Saya menepi sedikit, lalu mengambil Telpon genaggam. Benar saja, beberapa kali panggilan tidak terangkat. Beberapa buah pesan juga tak sabar berkedip-kedip.

Saya telpon balik ke rekan saya, dan benar, saya tersasar. Bermani ilir sejalur dengan perjalanan menuju Pagar Alam, bukan Rejang Lebong. Itu artinya rute yang berlawanan.

Cukup lama, dan pasti memakan waktu. Rekan saya sudah lama menunggu saya di Tebat Karai. Sepertinya lama sekali. Setelah berjumpa, kami melaju kencang kembali.

Yang saya rasakan perjalanan menuju tempat itu jauh sekali. Namun jalan beraspal di sana menarik untuk menambah kecepatan. Yang menawan adalah, tidak jauh dari pandanganmu, setelah mengahbiskan pemandangan perumahan yang renaggang dan berhalaman luas. Dengan desain sederhana dan khas, tampak begitu dekat bukit rendah yang hijau di tanami pepohonan. Kanan kiri jalan, tepat, menjadi trotoar, ditumbuhi ilalang dan sejenisnya dengan tinggi lebih dari satu meter. Di sisi lain, lahan pertanian masyarakat terhampar dengan beragam jenis tanaman.

Ah ini menakjubkan, suasana yang tenang dan asri.

Sekitar dua puluh menit, kami sampai di bermani ilir. Masuk ke sebuah gang yang di sambut dengan plang bertuliskan SMK 01 Bermani Ilir. Sampai juga kami di sekolah itu.

***

Yang saya hadapi adalah sekelompok remaja yang penuh semangat sesusungguhnya. Namun ketika peluang dan dukungan tidak cukup memenuhi gairahnya, mereka menuntut dengan banyak cara. Sejujurnya saya seperti menemukan potret masa lalu saat menginjakkan kaki ke gedung tempat berlangsungnya pertemuan. Remaja yang sangat aktif, remaja yang beremangat, dan remaja yang sangat ceria. Sebuah laku yang justru dianggap sebagai pola tidak seimbang dan dilekatkan gelar 'nakal'. Ah, saya selalu sulit menerima bahwa apakah benar-benar ada istilah 'anak nakal' itu. Karena yang saya temui adalah anak yang tidak dapat tenag, itu saja. Mungkin mereka jenuh dengan sekolah, atau jenuh terhadap dirinya sendiri. Dan itu membuat saya tertarik. Menantang.

Agenda pertama di mulai dengan beberapa penyampaian Kepala Sekolah. Tentang sekolah mereka. Pada saat itu, perlu beberapa orang guru yang harus berada di antara para siswa. Sebagai netralisir agar keributan yang di timbulkan tidak mencolok, mungkin. Walau tidak dapat di pungkiri, suara ribut mereka tetap terdengar.

Usai sambutan itu, maka saya mendapat sesi untuk berbicara, Saya kurang senang disebut sebagai trainer pada waktu-waktu seperti ini. Saya lebih senang di sebut sebagai kakak bagi mereka semua. Itu lebih manusiawi, tidak benar-benar ada sekat.

Di ruang itu saya punya tugas khusus. Mengondisikan ruangan. Menenangkan peserta. Merapikan barisannya. Saya harus punya metode. Terlebih saat slide sound tidak tersedia. Membuat back sound dari power point saya tidak terlalu bernilai. Padahal itu salah satu power untuk membuat ruangan menjadi kondusif.

Saya maju, tidak lagi duduk di meja. Benar-benar di hadapan siswa dan dekat. Beberapa metode pembukaan saya kerahkan, masih belum bisa membuat siswa tenang. Sampai kemudian saya memeragakan Brain Gym, dan meminta mereka semua berdiri. Satu-satu saya praktikkan gerakan senam yang konon telah menjadi menu wajib bagi anak-anak Jepang itu. Pada fase itulah saya baru yakin, bahwa mereka sebenarnya adalah anak yang luar biasa.

Merka riang memeraktikkan gerakan Brain Gym itu. Sesekali saat mereka sadar bahwa gerakan mereka keliru, mereka langsung tertawa. Ada yang sambil menepuk rekannya. Yang lainnya saling menertawakan ketidak bisaannya satu sama lain.

Tiga menit kemudian, saya meminta mereka duduk. Mereka masih tersenyum dan tertawa. Step pertama yang baik. Lalu saya minta mereka duduk berbaris rapi. Dan saling memeijit pundak rekannya. Energizing yangcukupampuh, membuat barisan mereka rapi. Membiarkan mereka bercanda. Begurai seperti remaja yang sebenarnya.

Usai itu, barulah saya mulai dalam sesi-sesi presentasi. Dan merak benar-benar sudah tenag dan siap. Tanpa netralisir dari guru lagi.

***

Poin penting, mungkin bukan bagaimana saya menempuh perjalanan itu. Bukan pula melihat reaksi mereka akan kedatangan kami. Namun sungguh, yang membuat saya berfikir sampai larut adalah bahwa banyak sekali remaja yang tidak cukup mendapat asupan motivasi dari gurunya. Dari cara para guru berinteraksi dengan siswanya, saya cukup punya gambaran kalau tidak semua guru dapat menjadi inspirator yang baik. Boleh jadi mereka lelah menghadapi gejolak keceriaan yang berlebih itu. Membuat mereka bertindak ketus dan melupakan aspek psikologis anak didiknya. Tak heran, sekolah sering menjadi tempat yang hanya rutinitas. Membuat mereka lupa. Dan terpenting tidak cukup menampung motivasi mereka.

Aspek lain yang cukup penting adalah dukungan dari keluarga. Banyak remaja dari daerah-daerah tidak cukup mendapatkan dukungan psikologis dari orang tua mereka. Selain hanya merasa wajib untuk membiayai sekolah.

Ah banyak sekali hal yang membuat saya berfikir begitu lama. Tentang masa depan mereka, tentang kegagalan diri yang tidak cukup mampu membuat kondisi itu lebih baik. Tentang usaha yang belum banyak ini. Tentang waktu yang tidak semuanya termanfaatkan. Tentang nasib manusia yang tengah beranjak itu.

Namun, sungguh, apabila saya hanya punya kesempatan untuk berdo'a, maka saya sangat berharap agar mereka suatu waktu akan menjadi insan bermanfaat. Menemukan konsep 'manusia' utuh, bukan sebagai duplikasi dari mode tontonan.

Bukan saya yang berhak mengatur mereka. Tidak juga menjadi jaminan apa yang saya sampaikan akan menggugah mereka. Namun Ya Robb, senandainya itu sudah merupakan usaha yang baik, maka saya sungguh ingin melihat mereka menjadi manusia bermanfaat. Maka terangkanlah hati mereka Ya Robb, karuniakanlah azzam dan hidayah agar mereka, suatu waktu, menjadi manusia baik di usia dewasa dan senjanya. Amin Ya Robb.

_saya semakin menyadari, sangat banyak sekali yang bisa kita perbuat dan lebih banyak lagi hal yang harus kita perbaiki. Kitalah insan cerdas yang bertanggung jawab atas itu_

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…