Langsung ke konten utama

Catatan Pagi

mAda penyadaran yang kemudian hadir. Kesadaran yang kembali. Membawa pada ingatan-ingatan yang panjang. Sering membuat tersenyum, sering pula membuat saya bersedih. Bagian dari proses berjalan yang menghabiskan banyak waktu.

Pagi ini saya sempatkan untuk bersandar dan menulis. Sekedar untuk melegakan dan membahagiakan hati. Merenungi apa-apa saja hal baik yang telah terjadi akhir-akhir ini.

Saya sangat bersyukur akhirnya Pesta Karya Mahasiswa 2013 usai. Sebuah momen menarik dan sarat kesan. Serangkaian agenda yang InsyaAlloh menjadi ruang bagi peningkatan atmosfir akademis kampus Universitas Bengkulu. Sebentuk kegiatan penghargaan yang didedikasikan untuk ilmu pengetahuan.

Rangakaian kegiatan apresiasi dan kompetisi siswa dan mahasiswanya. Membekas indah.Masih dapat saya ingat, dimana peserta Magic Science Competition memaparkan karya-karya 'magic'nya yang sebenarnya adalah trik ilmiah. Satu persatu. Saya juga dapat mengingati, saat menarik membaca naskah-naskah Lomba Cerpen. Menemukan pesan dari kata yang berjejer rapi itu. Serta banyak lagi hal yang membuat saya yakin, bahwa generasi muda yang peduli dengan ilmu pengetahuan, masih banyak rupanya. Bahwa masa depan bangsa yang cerah, terpancar dari sorot mata meraka. Luar biasa.

Saya sangat bersyukur saya masih dapat menyaksikan agenda tersebut. Masih dapat berbaur dengan seluruh rekan-rekan di Ukm Penelitian Universitas Bengkulu. Masih dapat terus meresapi semangat muda perjuangan sahabat UKM P3M.

Saya juga meanyampaikan rasa bangga  untuk Satria Wijaya & Deri Gustian. Sebagai pemimpin yang telah membersamai rekan-rekan dalam pelaksanaan ageda besar ini. Apresiasi saya juga untuk ketupat Dwi Cahyo Yulianto dan seluruh tim kerja angkatan 2012 & 2013. Yang dengan gigih bertahan dan berjuang untuk ikhtiar keberhasilan dan kemanfaatan yang besar itu. Semoga dapat menjadi ruang belajar untuk meningkatkan kualitas personal dan tim.

Semasa pelaksanaan itu, saya melihat bukan hanya proses perjuangan menuju keberhasilan. Namun ada semacam pembelajaran kedewasaan berorganisasi. Sesekali konflik itu muncul. Sesekali kita harus benar-benar mengevaluasi kinerja yang sering tidak sebagaimana fungsinya. Mengubah rencana yang tidak sejalan. Namun, saya lebih senang mengingati saat-saat kita semua dapat tertawa dengan bahagia. Saat kita berbagi kebahagiaan dalam suasana 'genting' sekali pun. Saat waktu-waktu sibuk itu, dilalui dengan kebersamaan. Sungguh itu momen yang lebih indah untuk diingat.

Saya juga berbahagia, bahwa saya diberi kesempatan untuk dapat menyambut dan mengenal Bpk Prof Ono Suparno. Waktu-waktu berdiskusi di sela perjalanan itu, sungguh waktu yang sangat berharga. Dimana saya banyak belajar dan mengumpulkan semangat baru. Meski bukan periode yang panjang, namun saya bersyukur menjadi penyambut dan pengiring perjalalanan itu. Semoga saya dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga suatu saat saya dapat lebih banyak belajar dari beliau.

Saya bersyukur masih dipercayai untuk berbagi banyak hal. Menyampaikan pesan sederhana di PMO HIMAILKA di sabtu sore lalu. Berbagi cerita dengan mahasiswa baru ilmu kelautan. Terimakasih Apriliansyah atas kesempatan dan kepercayaannya.

Saya juga bersyukur telah di beri waktu untuk bertemu generasi hebat SLE BEM UNIB. Berdiskusi dan bercerita tentang 'keberhasilan' yang kita cita-citakan itu. Menghabiskan minggu dengan lebih bermanfaat. Terimakasih pak wapres Yusuf Kurniawans sudah mengundang saya.

Hari senin lalu, usai rapat dengan FLP, saya minta kepada sahabat Hardin Ghifari untuk berkeliling sejenak menikmati sore. Mulai dari mengunjungi Toko Buku Gramedia dengan sebuah oleh-oleh berharga dari sana. Lalu sembari menunggu hujan reda kami menikmati empek-empek di seberang jalan Pasar Minggu. Sebuah momen sore yang membuatnya semakin indah. Usai itu, saya juga minta kembali untuk kita berkeliling menelusuri pantai. Menghabiskan waktu menjelang magrib dengan menikmati panorama keluasan alam.

Ada yang sangat menarik di sore itu. Dengan matahari yang muncul seorangan, di antara awan-awan gelap. Sinarnya menjadi semakin terang. Memantul di atas air pantai yang luas dan tenang. Seperti kaca yang begitu besar. Sinarnya menyebar bersama riak air laut. Bersama angin yang semilir membuat sejuk.

Saya meminta agar kami rehat tepat di kampung nelayan. Tempat yang sejak bertahun-tahun lalu selalu ingin saya kunjungi. Yang baru kali ini bisa banar-benar saya nikmati keindahannya. Memandangi kapal nelayan yang mengapung tenang. Nun di sana, anak-anak bekejaran menangkap kepiting dan mengumpulkan kerang. Sangat riang. Di sisi lain, nelayan melemparkan mata pancingnya. Hanya untuk menghabiskan sore yang begitu tenduh.

Saya duduk di bebatuan besar yang di buat untuk memagari air laut ketika pasang. Sepersekian menit, di sore yang teduh itu, di angin yang tenang itu, saya terlempar pada masa-masa panjang yang telah saya lalui di Bengkulu. Saya teringat banyak hal yang telah terlewatkan, di kota ini. Ingatan yang berpadu dengan sore yang indah. Saya memejamkan mata, anginnya semakin terasa.

Ada penyadaran yang kemudian hadir. Kesadaran yang kembali. Membawa pada ingatan-ingatan yang panjang. Sering membuat tersenyum, sering pula membuat saya bersedih. Bagian dari proses berjalan yang menghabiskan banyak waktu.

"Bahwa saya telah ikhlas. Bahwa saya telah siap. InsyaAlloh."

_Selasa 30 Oktober 2013_

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…