Langsung ke konten utama

Cerita si Kakek di Hari Jum'at

suhendra'Hei lihatlah, ada karnaval ! Ramai sekali berarak kendaraan yang dihias cantik. Orang-orang ramai berkerumun. Mereka sungguh indah', kata kakek pertama suatu waktu. Walau kakek ke dua tak mendengar suara tetabuhan karnaval, tapi sungguh ia membayangkan seolah ia lah yang menyaksikan karnaval itu langsung.

Jum'at selalu istimewa. Saya selalu ingat banyak sekali hal yang istimewa dipersiapkan untuk jumat. Konteks bahagian bukan selalu santai atau liburan, namun sering bahagia itu justru karena kesibukan yang lebih dari hari lainnya.

Jum'at ini pun bahagia. Saya ada jadwal pertemuan mentoring empat pertemuan dalam satu hari. Tentu membuat hati ini sangat berbahagia, karena di pertemuan tersebut saya berjumpa dengan adik-adik yang cemerlang. Penuh semangat. Dan berpancar masa depan yang mantap.

Sepagian, saya telah duduk di Masjid Darul Ulum, jam 07.30. Lebih awal dari agenda yang akan kita mulai jam 08.00. Sengaja kusiapkan waktu tersebut untuk duduk menghadap Allah. Mengharap ramhat rezeki agar dimudahkan. Berdoa dalam sujud dan mengharap nilai dari bacaan Qur'an.

Mereka telah berdatangan sebelum jam delapan. Langsung menuju tempat berwudu dan mulai Solat Dhuha. Bergantian silih berganti. Siapa yang datang, meletakkan tasnya di tepian masjid, lalu solat. Indah sekali bukan pemandangan ini. Sementara banyak orang di luar sana yang sudah berkutat dengan aktivitas rutinnya, menempuh rizki. Atau mungkin banyak yang masih berjibaku dengan selimut dan kasur. Namun mereka telah datang lebih awal untuk bermunajat. Mengharap memeroleh sebingkis ilmu.

Sambil menunggu generasi tangguh itu usai melaksanakan prosesi dhuha pagi, saya sempatkan membuka PC lalu membaca beberapa artikel. Semoga dapat menjadi oleh-oleh untuk mereka.

***

Dua orang kakek tengah di rawat di sebuah kamar di rumah sakit. Mereka menjadi sahabat dalam tempat itu. Saling bercerita tentang masa lalu, keluarga, dan banyak lagi cerita lainnya. Membuat waktu-waktu mereka menjadi lebih bermakna. Kakek pertama setiap hari harus duduk untuk mengeluarkan sebuah cairah dari paru-parunya. Sementara kakek ke dua hanya dapat berbaring karena bermasalah dengan punggungnya.

Momen paling berharga bagi kedua kakek itu justru saat si kakek pertama tengah duduk untuk mengeluarkan cairan itu. Ia akan menghadap tepat sebuah jendela dalam beberapa waktu cukup lama. Dan saat itu, kakek pertama akan menceritakan segala hal yang ia saksikan lewat jendela itu. Ia bercerita tentang sebuah taman yang terdapat air mancur indah. Di kelilingi anak-anak yang riang bermain balon, sepeda, dan lain sebagainya. Di sisi taman, sebuah pohon menjulang rimbun memberi teduh pada sebagian lainnya. Di atas, cakrawala membentang biru, indah, jernih.

Saat kakek pertama menceritakan itu, kakek ke dua akan menutup mata lama. Membayangkan seolah ia menyaksikan pemandangan itu. Ia akan bertanya ini itu, benar-benar bersemangat membayangkan gambaran itu.

'Hei lihatlah, ada karnaval ! Ramai sekali berarak kendaraan yang dihias cantik. Orang-orang ramai berkerumun. Mereka sungguh indah', kata kakek pertama suatu waktu. Walau kakek ke dua tak mendengar suara tetabuhan karnaval, tapi sungguh ia membayangkan seolah ia lah yang menyaksikan karnaval itu langsung.

Hingga suatu waktu seorang perawat mendapati kakek pertama telah istirahat tenang. Tak mampu lagi sekedar bercerita. Kakek ke dua sangat sedih menyaksikan kakek pertama di bawa ke luar kamar.

'Perawat, bisa tolong pindahkan aku ke bed tempat sang kakek itu?', pinta kakek ke dua. Lalu perawat memindahkan bed kakek kedua menuju bed kakek pertama yang telah dtiada. Dan perawat itu pun keluar.

Sungguh, si kakek benar-benar ingin melihat jendela itu. Ia ingin  menyaksikan langsung taman, bunga, pohon, cakrawala, dan semua bentuk keindahan yang selama ini hanya dapat ia bayangkan. Dengan bersusuah payah, ia mencoba untuk duduk. Rasa sakit dari punggungnya ia halau sekedar mencoba melihat semua keindahan itu. Keinginannya sangat kuat, harap-harap cemas, antara bahagia dan cemas.

Sampai ketika ia berhasil melihat keluar jendela, ia terperangah. Di depan jendela itu rupanya hanya tembok kosong.

Si kakek memanggil perawat. Menanyakan dimana taman dan karnaval yang dulu sering di ceritakan kakek pertama. Lalu perawat itu berkata 'jadi, kakek itu sebenarnya buta, tidak dapat melihat'.

***

Kurang lebih itu cuplikan cerita yang saya baca. Dengan pembahsaan yang pasti tidak sama dengan asalnya. Namun InsyaAlloh intinya sama.

Pesan sederhana adalah, bahwa sesungguhnya kata-kata yang sering dipandang sebagai hal sederhana itu, memiliki makna lebih dari yang tampak. Kata-kata dapat merubah suasana hubungan seorang dengan lainnya. Kata-kata dapat membuat orang tersenyum, bahagian, namun juga dapat membuat mereka sedih atau marah.

Kata-kata yang baik, sopan, santun, manfaat, adalah sebaik kata-kata.

Kakek pertama selalu mengatakan hal-hal yang baik, dan itu sungguh membahagiakan kekek ke dua. Membuatnya sejeka lupa bahwa mereka sedang berada di rumah sakit. Kakek pertama memilih menggunakan kata-kata yang baik, dari pada kata-kata keluhan. Karena itu justru membuat suasana menjadi tidak lebih baik.

Ah banyak sekali pelajaran dan makna yang dapat diperoleh dari cerita sederhana tersebut.

Semoga bermanfaat kawan.

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…