Langsung ke konten utama

Kisah Monyet di Pohon Kelapa

ImageBerada pada posisi puncak, bukan keberhasilan sesungguhnya. Karena ia masih dapat jatuh dengan itu. Berapa banyak orang yang gagal setelah beberapa waktu lalu masih menjadi suskses. Berapa banyak yang hidup terhida, padahal beberapa detik lalu masih menjadi raja yang di elu-elukan. 

______________

Siapa yang menang adalah ia yang akan bertahan lama. Bukan ia yang membuat aksi besar di depan, lalu akhirnya kandas. Namun , apabila dengan sebentuk pencapainnya itu, ia menjadi pribadi yang manfaat. Itulah puncak kemenangan sebenarnya.

***

Saya teringat sebuah kisah seekor monyet. Ah sudah melalui tahap adaptasi dan revisi dari sumber aslinya tentunya.

Seekormonyet melihat kelapa di ujung pohon kelapa. Ranum dan menawan. Ia sangat ingin memanjat pohon itu, lalu memetik buahnya. Sangat nikmat. Lalu ia mulai memanjat.

Beberapa kali pijakan kaki di batang itu, tanpa sadar telah menghadang kawat berduri yang melingkari pangkal pohon. Karena terlalu terpana akan keindahan kelapanya, ia pun lupa dan memegang kawat itu. 'Aw', tangannya terluka dan ia jatuh.

Ia kini tau bahwa ada kawat yang harus di hindarai. Dan ia memanjat lagi. Setelah melalui kawat itu, ia kembali melihat buah kelapa. Semakin menarik bentuknya. Semain ingian ia memetiknya. Dan beberapa pijakan lagi, ia tak menyadari bahwa lumut yang menempel di kulit batanya rupanya licin. Hingga tergelincirkan ia dan jatuh ke bawah.

Ia kini tau, bahwa selalin kawat ada lumut. Dan ia harus waspada lagi.

Ia memanjat lagi, menghindari kawat dan lumut. Ia yakin bahwa sudah tidak lagi ada bahaya. Ia mulai memerhatikan kulit batang kalapa itu. Benar saja, di atasnya sudah menunggu beberapa buah paku yang sepertinya digunakan oleh petani untuk memesang papan pijakan. Menyedari itu, ia pun melewati paku itu dengan aman. Ia bangga, tersenyum. Dan kelapa itu semakin dekat. Warnanya semakin memikat.

Saat hendah merain pelepah daun di puncak, saat ia yakin tidak ada sesuatu apa pun yang mengganggunya, ia melonggarkan pegangannya dan nyaris terjatuh. Bersyukur kakinya cukup kuat menopang badannya. Sehingga ia tidak terjatuh. Ia kini sadar bahwa ia harus berpegangan erat supaya tidak jatuh, yang tentu akan lebih sakit karena ia hampir di atas kali ini.

Saat merapatkan pegangannya, angin besar datang. Mengayun-ayunkan batang kelapa. Dan dalam hitungan detik, 'Debug', jatuhlah monyet itu ke dasar lagi.

Ia menjadi semakin bersemangat. Ujian yang di hadapinya rupanya lebih banyak. Bukan hanya dari jalan, bukan dari dirinya, namun juga dari luar kondisi itu. Dan tidak terduga. Maka kemudian ia mantap melanjutkan perjalanan kembali. Lebih sigap, lebih cepat. Dan lebih berhati-hati.

Melihat duri, ia hindari. Lumut, ia langkahi. Paku berhasil di lalui. Dan ia sangat erat saat angin besar berhembus lagi.

Sampailah ia di puncak pohon. Duduk santai di atas pelepahnya. Menikmati kelapa muda nan segar itu. Seperti membayar kejatuhan dan keringatnya. Rasanya lebih manis dari yang ia kira. Rupanya pun lebih molek dari sebelumnya. Ah manis lah pokoknya.

Sesekali ia mendengar dengungan angin mendekat, maka sigap ia memenag erat pelepah. Sehingga ia yakin bahwa ia aman. Ia waspada akan segala bentuk resiko besar itu.

Matahari telah mulai surut, sungguh tiada habis rasa nikmat dari kelapa itu. Ia mulai megangkan tangannya, namun ia tetap memetik dan mengupas kulit kelapa, lalu menikmati manisnya.

Sepoi sepoi angin sore berhembus, nyaman sekali. Menambah kenikmatan hari itu. Sangat nayaman. Membuat matanya mulai terkatup. Dan dalam beberapa menit saya, si monyet terjatuh ke dasar.

***

Kita sering hanya melihat cita-cita dari pencapaiannya saja. Kita sering lupa bahwa kemudahan dan kemanisan itu adalah hasil dari perjuangan. Kita lupa bahwa di balik sebuah cerita suskses, selalu ada proses gagal dan bangkit. Bahkan mungkin kesakitan yang luar baisa. Maka ia yang bertahan dan berjuang lebih lama. Ia yang belajar dari kesalahan lalu memperbaikinya, adalah yanga kan berada di puncak keberhasilan. Mencecap nikmatnya upaya.

Berada pada posisi puncak, bukan keberhasilan sesungguhnya. Karena ia masih dapat jatuh dengan itu. Berapa banyak orang yang gagal setelah beberapa waktu lalu masih menjadi suskses. Berapa banyak yang hidup terhida, padahal beberapa detik lalu masih menjadi raja yang di elu-elukan.

Keberhasilan sebenanrnya ialah saat kita dapat bertahan di posisi puncak. Bertahan itu berorintasi pada apa yang dapat diberikan sebagai kontribusi bagi lingkungan dan orang lain. Keberhasilan itu adalah saat kita tidak lupa bahwa selama proses menuju sukses itu, ada banyak sekali hal yang dipelajari, dan ada banyak hal yang harus direnungai.

Selamat menjadi pribadi bermanfaat.

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…