Langsung ke konten utama

Kita Apa

suhendra

Ada yang sering tidak dapat di ubah, bahwa setiap orang memang berbeda. Sering kita datang untuk bermimpi, mengupayakan segalanya menjadi serupa. Kita melihat keangungan tahta raja dan para punggawanya. Mengharap bahwa kita lah putra mahkota itu, kitalah yang duduk di ketinggian tahta.


Namun, dalam proses menuju insan mulia itu, sungguh setiap orang memiliki ruang sendiri. Nilai keagungan itu bukan hal kasat mata atau seberapa besar tinggi dan megahnya tempat duduk. Melainkan nilai manfaat dan kontribusi yang diberikan untuk sebuah ikhtiar kebaikan. Tidak ada istilah lebih tinggi sebenarnya, yang ada adalah setiap kita lahir dengan nilai dan ruang berbeda.

Mungkin benar, bahwa setiap kita sungguh sangat ingin duduk di ketinggian tahta itu. Sebagaimana pun posisi kita, tahta emas itu sangat mengagumkan. Namun kawan, mungkin kita tidak akan pernah sampai di tahta emas itu, bahkan menjamah sekali pun. Kita hanya akan menjadi pengagum yang terus mengagumi ukirannya. Kita selalu bermimpi. dan Itu tidak dapat di ubah.

Tapi, jangan bersedih. Kita mungkin tidak akan pernah punya kesempatan sama sebagaimana raja yang pernah kita lihat itu, Kita mungkin juga tidak akan pernah bisa, walau sebagaimana pun kau memenangkan pikiranmu. Karena dalam banyak konteks nyata, ada banyak keberbedaan dan tingkatan ruang.

Memimpikan diri sebagai putra mahkota bukan sebuah jalan. Tidak pula menentramkan. Namun bangunlah istanamu, buatlah tahtamu, dan jadilah raja bagi dirimu sendiri. Keagungan itu bukan tetang dari apa tempat dudukmu. Namun seberapa lapang kau menyediakan ruang untuk membangun istana kesyukuran. Maka kita semua menjadi raja yang bahagia.

Jika kita bukan anak raja, maka jangan bersedih.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…