Langsung ke konten utama

Menjadi Akar atau Bunga?

suhendraIngatlah apa yang telah di lakukan oleh akar. Jangan karena kotor lalu ia abai. Bukankah saat tanaman mulai tumbuh, maka ia julkan akarnya lebih dahulu. Baru mulai mengembangkan tunas hingga saat dewasa muncullah bunga. Bukankah yang membuat bunga itu layu lebih cepat saat ia di pisahkan dari akarnya. Sehingga jika kita menimbang, maka lebih berharga akar atau bunga?

Pernah melihat setangkai bunga yang indah bukan? Aha, bunga memang identik sekali dengan keindahan. Bunga juga menunjukkan ketinggian niai. Representasi dari keberhasilan dan kemahsyuran. Bunga juga diperlambangkan dengan derajat. Karena mahkota bunga adalah perhiasan yang membuat bunga itu indah.

Dalam banyak hal, sering kita temui ada yang dapat berubah dengan setangkai bunga. Ketika seorang istri yang marah, maka berilah seikat bunga mawar. Maka akan ia simpan sebagai hadiah yang indah. Saat kau melihat seorang petinggi datang ke pulau mu, aha, sambutlah ia dengan kalung dari untaian bunga. Saat seorang berbahagia atas janji pernikahan, hem pelaminannya pun di penuhi dengan bunga. Kunjungilah taman-taman nan megah itu, lebih banyak menjadi indah karena bunga.

Oh, bunga begitu sangat menggoda. Siapa yang tidak mau menjadi bunga/ Menyampai pesan dengan bahasa tinggi. Indah di telak di berbagai sisi ruang. Sesuai untuk istana pun gubuk derita.

Oh bunga, betapa banyak lirik tercipta karena keindahan bunga. Pun paisi menjadi penuh makna atas inspirasi dari bunga. Karena bunga itu ada diatas. Menghadap langit dalam ketinggian tingkat. Hadir dengan warna cerah nan molek memikat. Dan tersebar wewangi siang dan malam.

Maka maukah kau menjadi bunga?

Saya berfikir tentang pilihan ini. Bunga dapat menjadi penggambaran dari lebih banyak makna yang dapat diambil. Banyak sekali yang ingin menjadi bunga, menjadi mahsyur, menjadi di kenal, menjadi terpuji, menjadi simbol keindahan, duduk dalam tahta agung.

Namun, adakah yang sadar bahwa seindah-indahnya bunga, sesungguhnya ia adalah rapuh? Saksikanlah bunga yang terpangkas dan di letakkan dalam vas di meja ruang tamu. Berapa lama ia akan menjadi segar? Lalu kuncup yang lahir dan menjadi bunga itu, berapa lama ia sanggup berkembang? Tidakkah bunga sebenarnya begitu rapuh, begitu semu. Dan ia tumbuh bukan sebagai asal, namun dari hasil. Tidakkah ia dapat tumbuh bukan sebagai inti, namun sebagai simbol.

Ah bunga, begitu lebih penting kah kemahsyuran itu?

Saya teringat, pada akar. Ya, Akar. Saya lebih senang mengenang akar dari pada bunga. Mungkin ia tak tampak, ia di dasar. Terpendam dalam tanah. Saat terangkat, ia akan kering dan dipenuhi dengan tanah yang kotor. Mana pantas ia di sandingkan bersama tangkainya langsung dalam kalung-kalung bunga selamat datang itu. Mana pantas ia di letakkan satu paket bersama bunga dalam vas kaca yang indah pahat dan memikat itu. Yang diketahui bahwa akar tak pantas muncul ke permukaan.

Tetapi, duduklah sebentar. Ingatlah apa yang telah di lakukan oleh akar. Jangan karena kotor lalu ia abai. Bukankah saat tanaman mulai tumbuh, maka ia julkan akarnya lebih dahulu. Baru mulai mengembangkan tunas hingga saat dewasa muncullah bunga. Bukankah yang membuat bunga itu layu lebih cepat saat ia di pisahkan dari akarnya. Sehingga jika kita menimbang, maka lebih berharga akar atau bunga?

Yaha, keduanya berharga karena satu kesatuan yang menopang. Saling kontribusi untuk menjadi indah. Hanya satu menjadi simbol, sementara lainnya cukup tersembunyi tanpa nama.

Namun, bagi saya, menjadi akar itu lebih indah dari bunga. Man behind te scene. Bergerak dalam diam. Berkontribusi dalam diam. Namun nyata manfaat dan hasil. Tidak di kenal Kadang dihinakan. Namun bunga mana yang dapat tumbuh tanpa akar.

Dalam aspek bahasan yang lebih luas, dalam tatanan sistem organisasi yang lebih luas, memilih jadi mahkota atau memilih jadi pekerja. Memilih jadi penyanyi atau memilih menjadi pencipta lagu. Mungkin tak akan pernah mahsyur. Mungkin tak dianggap dan tak di akui. Namun, percaya tidak percaya, akarlah yang menjadi muara sebenar.

Apabila saya di beri tanya, maka saya meilih akar dari bunga. Meski hilang tak di kenal. Kotor kadang di hinakan.Namun ia penting dan tak dapat di pisahkan. Tak akan menemuia mahsur atau puji. Tetapi biarlah, saat yang lain masih ingin dalam ketakjuban pada rona dan warna bunga, biarlah saya yang bergerak dalam mengangkat tangkai bunga hingga mekarnya menghadap langit. Karena saya lahir sebagai akar, bukan bunga.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…