Langsung ke konten utama

Pria di balik layar

redanimator_the-man-behind-the-maskLelaki itu, mendengar dengan seksama. Mendengar dengan rasa iba. Lalu sekilas ia melihat panggung. Ah, ia akan menghias panggung itu, menjadi tahta megah dan memukau. Di lihatnya baju para pria lusuh di hadapanya. Ah, akan kubuatkan baju yang berenda permata. Menjadikan mereka sebagai maestro dan tokoh utama di panggung itu. 



Jika saya boleh bercerita, tentang sebuah agenda. Dimana semua mata terpukau. Sorak sorai sahut menyahut. Rasa takjub yang tak pernah putus. Lalu beriring gemuruh musik memenuhi ruangan. Ini adalah agenda yang besar. Dan yang membuatnya utuh sebagai agenda besar karena jumlah pesertanya pun besar. Penuh sesak. Sangat memukau.

Di panggung sang masetro memandu acara. Dengan busana yang rapi elok dan elit. Memainkan intonasi. Menampilkan senyum nan megah. Berkeliling di panggung dengan pola-pola menawan. Setiap jengkalnya di isi dengan ketakjuban dan keterpesonaan. Oh, ia pun sungguh indah di panggung besar itu. Bukan melebihi atau mengurangi, namun menambah kemegahan ruang pertemuan ini.

Seketika musik pengiring meninggi, di sambut dengan kemerduan suara maestro. Memanggil tokoh utama. Sekedar menyapa, menyebarkan kata-kata bijak. Walau pun sekedar, namun betapa tidak, ia bukan tokoh yang sekedar hadir. Dan ia mendapat nilai lebih dari kesempatannya maju ke panggung kebanggaan itu.

Ah, rihnya suara itu. Riuhnya kalimat-kalimat pendek itu. Riuhnya antusias itu.

Di belakang layar, seorang lelaki  duduk menyandar. Membiarkan punggungnya yang telah lelah merapat pada sisi sebalik panggung kemegahan. Seyumnya mengembang mendengar kalimat yang selalu di per-ulang-kan. Matanya berbinar membayangkan betapa megahnya kegiatan di sebalik tabir besar itu.

Ia tersenyum semakin manis tatkala suara tepukan juga bertambah ramai. Ia semakin manis, bahkan mulai terdengar suara tawanya, setiap sorak sorai meninggi. Ia merengtangkan tangannya begitu mendengar sorak sorai itu berbadu dengan dentuman musik. Ia akan berdiri saat suara dari sebalik layar itu semakin ramai dengan terang benderang lampu.

Tanpa terdengar. Seperti berbisik. Ia berkata 'Akhirnya tiba waktu bunga mekar menyebarkan pesona harum yang menawan. Akhirnya terlaksana jua cita yang telah sekian waktu dijaga dengan rapinya. Aku bahagia'.

***

Sangat sepi. Seperti ruang tua yang tak sedikit pun berarti. Dengan warnanya yang suram dan bahkan pudar. Dengan bola lampunya yang berserakan. Dengan dentuman yang bukan mernu, melainkan memekakkan. Dengan segala yang berserak tanpa ada yang menyadari.

Lelaki itu, mulai meraih sapu. Membersihkan dedaunan kering. Menyapu debu. Merapikan kursi dan meja.

Ia juga mengambil kuas. Sekali usap, dua kali, perlahan, hingga warna dinding ruang menjadi begitu sempurna.

Lalu ia mengambil tangga. Memasang segala bentuk bola lampu yang tercecer . Memadukan nyala dan warna. Dan ia memperbaiki segala bentuk sumber suara, hingga nyaring dan berdentu. Saat semua ia saksikan, segelanya telah menjadi begitu harmonis. Indah kembali.

Seorang pria datang, dengan pakaiannya yang lusuh. Mengadu. Menunjukkan muka yang memelas. Bercerita tentang nasib dan ketidaktahuan. Kemudian pria lain datang. Gemetar. Terbalut dalam ketakutan. Semuanya tak mampu berkata-kata.

Lelaki itu, mendengar dengan seksama. Mendengar dengan rasa iba. Lalu sekilas ia melihat panggung. Ah, ia akan menghias panggung itu, menjadi tahta megah dan memukau. Di lihatnya baju para pria lusuh di hadapanya. Ah, akan kubuatkan baju yang berenda permata. Menjadikan mereka sebagai maestro dan tokoh utama di panggung itu.

***

Lelaki itu berjalan. Masih melangkah dengan gagah. Menuju ruang yang beberapa menit lalu begitu riuh. Melihat keluasan ruang yang kemarin masih suram dan berdebu. Yang sejam lalu begitu ramai dan memukau.

Ia berdiri di panggung. Melihat sekeliling. Lalu mengambil sapu. Membersihkan lantai yang di penuhi oleh sampah plastik. Mengambil kuas untuk mengembalikan warna dinding yang tercoreng arang. Ia mengambil tangga, untuk merapikan lampu yang tidak lagi bersinar terang.

***

Masih menikmati keindahan taman, duduk di bawah pohon rindang. Sepoi angin membuat sore itu menjadi sangat manis. Seorang anak membawa selembar kertas. Tergulung. Poster. Bergambar dua orang gagah dengan wajah dan pakaian yang elok rupa. Tulisan kapital besar berjejer berebut tampil di halamannya.

'Acara Memukau dan  Luar Biasa karya Sang Maestro dan Tokoh Utama', ia tersenyum.

Ia hanya lelaki yang duduk di waktu senja. Lelaki yang bersandar di balik layar.

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…