Langsung ke konten utama

Sebuah Puisi: Maaf,

Kaver 1Bahwa aku belum cukup bangun untuk sadar bahwa kita bukan di mula lagi. Bahwa saat perpisahan itu sudah menghampiri. Karena, yang kutau kau sungguh ada dalam hati ini. Sebegitu dekat hingga walau nun disana, saat-saat kebersamaan itu, menjadi sebentuk ingatan yang membuatku damai.

Maafkan aku yang tak pandai memaknai arti persahabatan ini. Maafkan aku yang belum dapat memperlakukan dengan baik. Sungguh kau pun tau, sebenarnya aku adalah seorang anak kecil. Masih perlu banyak belajar tentang bermacam etika di duna ini.

Maafkan aku, yang tak pandai memaknai pertemuan ini. Bukan akhir yang indah untuk kisah yang di bina sekian lama. Bukan sebuah akhir yang layak untuk menghargai persaudaraan ini. Namun sungguh, kau pun tau, aku belum cukup dewasa untuk mengerti semua hal.

Maafkan aku yang tak pandai memaknai hati ini. Telah terpaut dalam rajutan ukhuwah demi mengingatkan arti sebenar dari persaudaraan itu sendiri. Haingga waktu yang bergulir, dirasa belum cukup sekedar membuatku mengerti.

Maafkan aku sekali lagi. Aku hanya dapat mengutarakan semua ini. Pun seandainya kau bertanya, adakah jawaban yang pantas untuk mewakili. Bahwa aku belum cukup bangun untuk sadar bahwa kita bukan di mula lagi. Bahwa saat perpisahan itu sudah menghampiri. Karena, yang kutau kau sungguh ada dalam hati ini. Sebegitu dekat hingga walau nun disana, saat-saat kebersamaan itu, menjadi sebentuk ingatan yang membuatku damai.

Maafkan aku. Maaf belum dapat memberi kesan sejati. Maafkan aku belum dapat menjadi, sebagaimana yang selalu kita utarakan. Maafkan aku jika di saat terakhir itu justru hadir bukan sebagai saudara yang kau harapkan. Maafkan aku, dan terimakaih telah menjadi sahabat yang baik untukku.

***

Pada suatu saat nanti, aku sangat berharap kau akan tetap tersenyum untukku. Kita akan dapat berbicara dengan senangnya. Bebagi dengan riangnya. Duduk pada tahta cita-cita tertinggi. Atas pembuktian mimpi yang kita bangun sepanjang usia ini.

Namun, pabila tak sempat Allah mempertemukan kita dalam ketinggian cita-cita itu, maka Ya Robb, aku ingin berjumpa dengannya di surga kelak. Bersama para syuhada. Amin.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…