Langsung ke konten utama

Tentang Persoalan itu

suhendra....kita benar diuji kekuatannya. Apakah kita lebih kuat menyelesaikan masalah itu, atau masalah itu lebih kuat menghabiskan waktu-waktu kita yang berharga. Apakah kita lebih kuat bertahan dengan semua masalah itu, atau masalah itu yang lebih kuat menyerang dari kecepatan kita menyelesaikan persoalan


Jadi, setiap kita pastilah sering menemukan dan terbentur sebuah persoalan. Baik secara personal mau pun secara kelompok. Mau tidak mau, suka tidak suka, persoalan itu adalah hal yang akan selalu ada.

Persoalan itu pastilah akan selalu ada. Namun keberadaannya bukan untuk di hindari, melainkan untuk di selesaikan. Keberadaannya bukan untuk di kutuki, tetapi dicarikan solusi.

Saya sering menemukan, kita belum cukup dewasa dalam menentukan sikap. Kita sering gamang dalam memilih tindakan. Mana yang semestinya kita lakukan saat dibenturkan  persoalan, dan mana yang harus di tinggalkan.

Lebih menyedihkan, dalam posisi himpitan persoalan itu, justru kita senang meng ada-ada. Menghayalkan sesuatu dan berandai jika persoalan itu tidak pernah ada. Menyesali waktu yang telah berlalu. Dan menghabiskan waktu dengan pengandaian yang tidak membuat berubah sedikit pun.

Sahabat, semua proses itu adalah kewajaran. Kita semua pasti tahu itu. Proses itu ada sebagai jalan menuju pendewasaan dan kebijaksanaan. Sehingga tidak mungkin dewasa jika tidak pernah di uji. Tidak akan menemukan kebijaksanaan, jika tidak pernah terbentur. Tidak akan menemukan makna jika tidak terjadi apa-apa. Dan tidak akan ada kedewasaan tanpa persoalan yang menumbuhkannya.

Berapakali kita justru di sebukkan dengan memikirkan masalah, sementara banyak di sekitar kita menunggu apa yang akan kita putuskan. Berapa kali kita hanya menghabiskan waktu untuk mengkaji masalah, padahal dunia dan waktu tidak akan berputar ulang demi usaha kita sekedar mengangkat masalah tersebut. Dan berapa kali itu semua terjadi, tanpa pernah kita sadari.

Mari kita renungkan,apakah dengan terus menerus membicarakan masalah itu maka semuanya akan selesai? Apakah dengan menyerahkan lebih banyak waktu untuk mengutuki persoalan yang mendera itu lantas semua berubah indah?

Membicarakan masalah itu tidak sama dengan mengkaji masalah. Mengutuki masalah itu pasti berbeda dengan merumuskan masalah. Dan itu bukan soal istilah apa yang kita gunakan. Melainkan bagaimana kita menyiapkan waktu untuk masalah tersebut. Bagaimana cara kita membahasakan masalah, serta bagaimana tindakan kita atas masalah itu.

Saat kita lebih banyak mengutuki, berandai, dan memporsir pemikiran kita hanya untuk 'membicarakan masalah', maka pasti itu sia-sia. Berbeda dengan kita meluangkan waktu untuk 'merumuskan masalah' lalu menempatkan aloskasi yang tepat untuk itu. Dengan hanya membicarakan, maka kita mengutuki. Namun dengan perumusan dan analisis, maka itu menjadi kajian persoalan.

Berhenti sampai di sana kah?

Tentu masih jauh. Masalah adalah sebagai dasar baku. Masalah adalah sebagai tahapan awal. Setelah mengkaji masalah itu, lalu terorientasi untuk mencari solusi terbaik, barulah 'sebenar penyelesaian'.

Saya ingat ilustrasi yang menarik. Anggap saja kita tengah berada dalam sebuah kapal. Ingin menuju pulau terdekat. Dan kita adalah nahkodanya.

Suatu waktu, kita melihat ada sebuah bilik yang bocor dari dinding kapal yang telah rapuh. Tidak lama setelah itu, di tempat lain, mulai muncul kebocoran serupa. Semakin banyak.

Pada saat itu, jika kita hanya memaki para wak kapal, menyalahkan merekan tentang bagaimana dinding kapal bisa bocor, maka percaya atau tidak, air dalam kapal akan segera menggenang. Dan kita semua tenggelam. Padahal kita memiliki waktu yang lebih berharga selain hanya mengutuki kesalahan.

Lain jika setelah kita tahu ada yang bocor, segerakita meminta awak menyumbatnya. Semakin banyak kebocoran, semakin banyak kita menambalnya. Saat waktu itu telah semakin menipis, kita menyuruh sebagian mengambil ember untuk menguras air yang telah terlanjur menggenang di dalam kapal.

Semakin gigih kita menguras air dan menambal kebocoran, maka semakin cepat waktu itu termanfaatkan dengan sebentuk solusi nyata.

Kadang dalam menghadapi sebuah persoalan itu, kita benar diuji kekuatannya. Apakah kita lebih kuat menyelesaikan masalah itu, atau masalah itu lebih kuat menghabiskan waktu-waktu kita yang berharga. Apakah kita lebih kuat bertahan dengan semua masalah itu, atau masalah itu yang lebih kuat menyerang dari kecepatan kita menyelesaikan persoalan.

Sahabatku, jadi, mari temukan ketenangan hati. Bukan memaki lantas semua selesai, melainkan tuntaskan dan kerjakan. Bukan terus membicarakan masalah yang membuat waktu kita berharga, tapi mari temukan strategi untuk sebuah solusi yang lebih membuat waktu kita berarti.

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…