Langsung ke konten utama

Anak Pandan - Novel

Seorang bayi telah lahir, di bulan purnama itu. Wewangian pandan merebak ke seluruh desa. Di setiap rumah, di sudut-sudut desa, di ujung jalan. Maka seorang bapak seketika itu akan menghambur ke dalam alas diiringi sekawalan pemuda. Melewati pemakaman di desa itu yang berpagar pohon-pohon berumur ratusan tahun, menuju Kali  Banyu untuk mengambil satu dari dua tanaman dalam pot dari batang pakis. Bapak itu lalu mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan “15 Wage, 21 Mei 1985”, membungkusnya dalam sbuah kantung plastik, dan menyelipkan ke dalam pot batang pakis itu, bersanding dengan satu tanaman sisa. Setelah itu tangan bapak itu menengadah bersama pemuda di belakangnya. Seperti mengucapkan sesuatu. Dan bapak serombongan itu bergegas pulang kembali.

Sesampainya di rumah, sang bapak menggali tanah di depan rumahnya untuk menanam tanaman yang baru ia ambil dari Kali Banyu. Tak lupa di sekeliling tanaman itu di tanami pandan, melingkari tanaman. Setelah itu bapak itu baru melihat putranya yang baru lahir, menggendongnya dengan hati-hati. Lalu menumandangkan azan di telinga kanannya, iqomah di telinga kirinya.

Pada malam purnama itu, Desa Rojo Wangi bergembira, menyambut kelahiran seorang putra. Tetabuhan rebbana bersahutan riuh melantunkan shalawat syukur di masjid Al Ikhlas, masjid tunggal Desa Rojo Wangi. Prosesi ini di sebut dengan selawat berjanji. Para bapak akan mengiringi dengan tetabuhan rebana alunan shalawat dan puji-pujian yang di senandungkan para ibu. Sebagian lainnya menyiapkan segala bentuk sajian dari hasil alam. Jagung muda, kacang tanah, keladi rebus, jambu air, dan banyak sekali. Secara sukarela masyarakat akan mengantarkannya ke masjid. Sebagian menghantarkan ke sebuah rumah panggung yang kini tengah ramai. Dimana satu persatu warga datang dengan membawa apa pun yang ia punyai. Tidak hanya hasil alam, yang lain membawakan kain jarik, beras, sapu lidi, kayu bakar, ayam, dan lain-lain.
Pada momen ini para pemuda desa dengan sigap membuat tratak untuk menjadi dapur dadakan. Para bapak menyembelih ayam yang dihantarkan sanak tetangga. Ibu-ibu ramai di dapur menyiapkan hidangan. Para gadis menyiapkan kopi, the tubruk, menggelar tikar sambil sesekali berbisik-bisik membicarakan pemuda yang sibuk menyiapkan tratak. Atau berandai-andai untuk segera menikah dan melahirkan anak, agar rumahnya ramai sepekan penuh seperti saat ini. Sementara anak-anak bermain di tratak depan. Membuat aneka mainan dari janur kuning. Ada pluit, jam tangan, ketupat, anyaman tikar, atau sekedar melipat daun-daun muda dari pohon kelapa itu.

Ya, ini masih tengah malam. Namun kegembirannya membuat orang lupa untuk rehat dari mencangkul di lahan sesiang tadi. Mereka antusias berkumpul di rumah panggung ujung desa. Berbagi tugas sebagai bentuk kesyukuran. Tidak peduli jam berapa pun, karena jika kau melongokkan kepala keluar halaman atau jendela, maka cahaya purnama yang bersih dari langit, membuat malam ini begitu benderang dan semakin terasa berkah. Tambah lagi aroma wangi pandan sepanjang jalan desa dan sudut desa, akan menentramkan batinmu. Tangisan bayi yang terdengar di ruang tengah rumah panggung ini, akan melenyapkan kantuk dan lelahmu.

Senandung shalawat terus meramaikan suasana desa. Melantunkan syukur sampai sampai begitu larut. Dan akan terus terdengar selama satu minggu penuh.Kegembiraan yang membuancah bagi semua kalangan. Anak-anak boleh bermain semalaman walau pun besok mereka harus sekolah. Karena guru-guru desa juga akan turut serta dalam sambutan kelahiran ini. Sehingga pasti ia akan memaklumi jika besok pagi ia menemukan anak-anak yang terkantuk-kantuk. Semua sepakat, ini kesyukuran besar atas lahirnya seorang bayi laki-laki di desa ini. Ya, kelahiran anak laki-laki sejak lima tahun terakhir.  Semua sepakat untuk bergembira. Semua sepakat bahwa setiapkelahiran itu adalah berkah Allah. Kelahiran anak laki-laki adalah hari raya. Kelahiran anak laki-laki adalah kebahagian bersama Desa Rojo Wangi. Kelahirannya adalah anugerah desa. Dan lebih penting, masyarakat percaya bahwa kelahiran itu juga berarti pengabulan doa akan kesehatan dan panen yang akan berlimpah.

Begitulah cerita kelahiranku kawan, putra Desa Rojo Wangi yang terus tumbuh. Seperti sebatang pohon tinggi menjulang di halaman rumahku. Juga sebatang pohon lagi di Hulu Kali Banyu. Pohon yang nanti saat aku masuk sekolah menengah atasdi kota, baru ku ketahui bernama Aquilaria malaccensis,atau lebih akrab dikenal dengan Pohon Gaharu. 

(Continue)

Postingan populer dari blog ini

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…