Langsung ke konten utama

Kelopak Ketujuh - Prolog

**PROLOG**

Kau tau Al, desa ini lahir dari sebuah legenda. Legenda bungan putik surga. Ah siapa peduli soal kebenaran, Wak hanya ingin bercerita saja. Ketika adam dan hawa hijrah dari surga, ada sebuah bunga yang begitu sedih karenanya. Sekali lagi Wak ingatkan, ini hanya cerita turun temurun saja. Kau pun tau pasti dalam Al Quran tak menyebut soal ini. Lagi-lagi ini hanya legenda, cerita yang boleh kau ragukan kebenarannya.

Bunga itu akan menebar wangi yang sangat ketika tujuh kelopaknya mekar. Bahkan, tanah di sekelilingnya akan menjadi subur dan wangi, bebatuan akan menjadi permata, atau air yang mengalir akan menjadi jernih dan wangi, saat kelopak ketujuhnya mekar.

Nah saat Hawa hijrah dari surga, bunga itu amatlah sedih. Maka ia memohon pula agar diturunkan ke bumi, supaya merasakan perjuangan Hawa di sana.Sehiingga diturunkanlah ia ke bumi.
Wak Harun menghela nafas, diseruputnya teh buatan istrinya. Lamat-lamat dari lampu templok, kulihat ia menerawang.

Hanya rupanya, ia diturunkan jauh dari Hawa. Ia tak dapat merangkak, akarnya terlalu kokoh menghujam. Akhirnya ia merasa asing dan semakin sedih. Lima tahun sekali ia menghadirkan bunga, berharap air yang wangi itu dapat menyampaikan pesan kepada Hawa. Tapi, setiap kali bunganya hendak mekar sempurnya, kelopak ke tujuh selalu gugur. Di tahun sesudahnya pun seperti itu, jika kelopak ke tujuh mekar, maka enam kelopak akan gugur. Jika enam kelopak merekah, maka dapat dipastikan kelopak ketujuh tak kan mekar karena gugur.

Bumi memang berbeda dengan surga. Maka sepanjang hidup di bumi, tak pernah sekali pun ia berhasil mengirimkan pesan lewat air yang wangi sebagaimana di surga. Lebih-lebih, setiap bunga yang hendak mekar itu selalu tak sempurna, bukan wangi yang hadir. Melainkan bau yang teramat menyengat.

Lambat laun daerah itu pun menjadi mati. Tumbuhan layu, kayu-kayu meranggas, air mengering. Bahkan rumput liar pula tak sudi sekedar tumbuh di sekitar. Binatang buas atau melata, juga enggan membangun sarangnya. Tanah kering. Dan hanya soal waktu, bunga cantik itu layu, dan mati. Bersama berubahnya daerah itu menjadi padang tandus.

Begitulah kisah lahirnya desa ini Al. Namanya seindah bunga itu, Putik Surga. Namun kau lihat, bahkan sulit membayangkan desa kita sebagai surga. Kopi kita selalu berbuah kecil. Pemuda harus berjalan sehari semalam demi garam dan baju. Di sekeliling kita, hutan lebat dengan harimau yang tak segan memangsa petani pencari rumput dan kayu.

Ah dimana surga itu. Barangkali memang inilah kutukan kesedihan Bunga Putik Surga. Semoga saja, suatu hari, kelopak ketujuh itu berhasil mekar. Supaya wewangain surga kembali hadir di sini. Membuat kopi kita lebat dan besar, atau rambutan yang manis dan merekah.


Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Menelaah Kebijaksanaan Hidup Lewat Tradisi dan Tari #5

Judul  'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'

1.Tweepz terimakasih karena sudah stay tune di kultwit sy, khususnya yang sudah di chrip
2.Mulai dari Tari Kejei, Tari Andun, hingga Tari Ganau yang syarat akan keelokan pesan budi
3.Hari ini kita akan bicara soal Tari Bubu
4.Judulnya 'Tari Bubu : Tari Kreasi Baru dan Lestari Budaya Kreatif Bengkulu'
5.Ya, Tari Bubu adalah tari kreasi baru yang mengangkat semangat
6.Idenya dari kebiasaan masyarakat dalam menangkap ikan di sungai menggunakan bubu
7.Bubu adalah alat penangkap ikan yang dibuat dari bambu dan sifatnya pasif
8.Bubu ini jebakan yang sering di sebut 'traps' atau 'guiding barriers'
9.Alat ini berbentuk kurungan yang di desain untuk ikan dapat masuk namun tidak bisa keluar
10.Alat ini banyak ditemukan di seantero Indonesia dan kerap dipakai masyarakat
11.Tari bubu dimainkan dengan jumlah genap, penarinya mengenakan baju kurung bewarna cerah
12.Warna pakaian adat Bengkulu m…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…