Langsung ke konten utama

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.


Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.

Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total pesertanya. Untuk universitas berkembang tentu dalam hal jumlah delegasi akan lebih sedikit ketimbang universitas maju.Sehingga untuk penilaian yang menggunakan sistem ini, dipastikan tidak akan optimal.

Yang menarik adalah soal kualifikasi mahasiswa dari sebuah universitas berkembang, kenapa bisa berbeda dengan universitas unggulan.Bahkan dengan rentang yang terlampau jauh. Padahal, jika dinilai dari kualitas personal pramasuk universitas, jika seorang yang kerap meraih prestasi semasa sekolah menengah lalu masuk universitas berkembang, sering kalah saing dengan rekannya satu sekolah yang awalnya tidak terlalu menonjol. Dan jumlahnya tidak sedikit.

Kenapa bisa terjadi demikian? Dengan bibit yang sama, namun memberi hasil yang berbeda.

Mahasiswa atau Kampus?

Kampus yang unggul, dengan fasilitas yang memadai, dengan pengajar yang berkualitas, serta sistematika manajemen kampus yang baik, akan menjadikan sebuah kampus memiliki tata kelola yang bagus. Buah dari tata kelola yang bagus itu adalah kenyamanan bagi mahasiswa, dikarenakan mahasiswa mendapatkan fasilitas yang sesuai dengan apa yang diperlukan. Kelengkapan fasilitas memudahkan pemahaman mahasiswa serta kebebasan melakukan aktivitas praktik, karena yang ia dapatkan di kelas dapat langsung diperkaya di praktik.

Pengajar yang berkualitas, tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi gelar dan dalam jumlah berapa panggilan profesor tertuju, tetapi lebih pada bagaimana posisi pengajar yang sesungguhnya, yang mengajar dalam artian mendidik, bukan hanya menyampaikan. Jika pengajar telah benar mendidik, tidak membuka peluang terjadi pelanggaran yang bahkan sering dilakukan secara terbuka dengan membiarkan muridnya mencotek di depan mata, merupakan wujud pendewasaan murid akan manfaat kerja keras yang sepadan dengan hasil.Bukan hasil muncul tanpa memperhitungkan kejujuran usaha atau tanpa usaha.

Dari dua hal sederhana ini, setidaknya dapat mempengaruhi mental mahasiswa yang bertindak langsung dalam menentukan telah seberapa berhasil kampus menjadi institusi pendidikan yang memang mendidik menuju kecerdasan. Karena dengan kelancaran ini, mahasiswa tidak harus lagi memikirkan kerja keras menyelamatkan diri dari belenggu ketidaknyamanan kampus, melainkan hanya harus berfokus pada pengembangan diri dan pencerdasan personal.

Lain halnya bagi kampus yang secara fasilitas belum memadai. Yang memaksa mahasiswa menemukan gambaran sendiri bagaimana terapan dari suatu ilmu. Dan dalam pelibatan bidang ilmu yang tidak mudah di bayangkan, maka mahasiswa sering gagal menaklukkan teori sehingga hanya menjadi penganut teori yang tidak dapat melakukan banyak hal pada tataran terap.

Kondisi pelayanan kampus yang carut marut, dapat menyebabkan tekanan mental mahasiswa. Ini membuat sebagian waktu mahasiswa hanya diisi oleh celaan dan keluhan dari sistem pelayanan yang sangat buruk. Seperti pengurusan porsi akademis yang berbelit, tidak transparan, dan bahkan seperti mempersulit, akan menyita lebih banyak waktu mahasiswa.

Tak heran ini menimbulkan keputusasaan yangsering dijadikan alasan kenapa mahasiswa justru menjadi agen pembenci kampus, dan secara psikologis, ini menjadi beban penghalang bagi kemandirian mahasiswa. Dimana mahasiswa diperlakukan tidak sebagai kaum yang harus dilayani, melainkan orang lain yang tidak pantas mendapatkan kemudahan.

Bertemunya dua faktor ini yang menentukan tingkat semangat mahasiwa di dalamnya. Serta menurunnya atau lemahnya semangat mengembangkan diri,menjadi bibit tumbuhnya ketidakpedulian mahasiswa terhadap apa yang terjadi di kampusnya.Pada akhirnya timbul rasa ketidakpedulian apakah dirinya telah cukup layak menjadi mahasiswa atau belum. Karena ia tidak diajarkan bagaimana cara menghargai, sebagaimana perlakuan kampus terhadapnya.
Peluang kecurangan dalam kelas yang dibuka lebar oleh pengajar, juga sebuah proses melemahkan semangat kompetisi mahasiwa. Mahasiswa yang dibiarkan melakukan tindak kecurangan tidak tahu bagaimana rasanya berkompetisi, yang akhirnya membunuh ketertarikan akan kompetisi itu sendiri. Tak heran jika jumlah peserta sebuah ajang seperti PKM, mahasiwa yang mengikuti dari kampus biasa masih sangat sedikit.

Sehingga jika dikatakan kondisi mahasiswa, meliputi semangat prestasi dan kemauan melakukan banyak hal besar dan manfaat,  berbanding lurus dengan kondisi kampusnya, mungkin dapat dikatakan benar. Tetapi apakah ini lalu menjadi mutlak?

Benar jika kondisi kampus yang sangat kondusif akan dapat menjadi gerbong perkembangan mahasiswa. Kampus yang tertata rapi, terstruktur, dan sinergi, dapat memacu mahasiswanya untuk berkembang dan berprestasi. Karena kondisi yang telah bagus demikian, memudahkan mahasiswa untuk fokus pada apa yang ingin ia raih.

Ia tak harus memikirkan dan ketakutan menghadapi birokrasi kampus yang tidak ramah. Ia tak harus ragu untuk berjuang keras karena ia dapat ujian selayaknya ujian yang sesungguhnya. Ia tak harus memusingkan pelayanan yang akan ia dapatkan, karena secara penuh ia telah berada dalam wilayah yang kondusif. Tugasnya hanya fokus pada pengembangan diri dan berhasil.

Pada tahap ini, mahasiswa bersama kebebasannya dari seragam putih abu-abu, tinggal mengecap kebebasan. Dan karena ruang akademis adalah wilayah dimana kebebasan hanya dalam lingkup pengembangan diri dan akademis untuk prestasi, maka mahasiswa leluasa bereksplorasi disana.

Mengikuti berbagai kompetisi dengan menyenangkan dan melenggang. Melangsungkan aktivitas praktik dengan seimbang setelah penat menelan materi kelas.
Alangkah indahnya yang demikian. Maka juara-juara banyak bermunculan dari tempat seperti ini, karena menjadi juara hanya diperlukan fokus pada sesuatu.

Namun bagi mahasiswa yang masuk dalam kampus yang masih semrawut, tekanan mental yang dirasakan jauh lebih hebat. Ini membuat fokus mahasiswa bercabang, tidak hanya memikirkan akademis, melainkan juga tekanan mental dari rupa birokrasi kampus yang umumnya berbelit.

Di lain pihak, ketiadaan fasilitas membuat mahasiswa harus mau menelan secara tidak nyaman teori yang tanpa pengimbangan dengan aplikasi. Bayangkan jika ilmu yang disampaikan bukan sekedar ilmu yang bisa diprediksi proses terapannya, dan ini membuat mahasiswa kehilangan semangat penerapan dan tumbuhlah pengagungan akan teori yang tanpa terapan.

Dalam kondisi ini, mahasiswa telah kehilangan kebebasannya untuk mengeksplorasi ilmu layaknya posisinya sebagai mahasiswa. Mahasiswa harus membagi waktu antara menekuni kenikmatan sebuah ilmu dengan kepahitan kondisi sekitarnya.

Disinilah perang pribadi terjadi, saat kemalasan dapat mudah hinggap atas kejenuhan yang bertumpuk sedemikian hebat. Maka semangat seorang mahasisiwa untuk menjadi agen intelektual pun luntur perlahan. Dan jadilah mahasiswa itu apatis terhadap kondisi kompetisi.

Seperti virus, apatisnya mahasiswa akan pengembangan prestasi akademis itu dapat menyebar dan menular dari satu ke yang lain, karena kondisi yang didapatkan sama. Sama-sama tidak menyenangkannya.

Mengingat keadaan yang kurang memungkinkan untuk unggul dalam hal ilmu, baik pemahaman maupun penarapan, maka mahasiswa dari universitas berkembang hanya tinggal punya pilihan untuk dapat unggul dalam bidang pengembangan diri nonakademis. Atau dalam istilah lain pengembangan softskill.

Namun, naasnya lagi, pada ruang ini pun mahasiswa harus menelan kesedihan dikarenakan kondisi organisasi dalam kampus sering tak sesuai yang diharapkan. Semuanya sama kacaunya dengan kampus. Dan tak heran bagi yang memilih wilayah ini sebagai pengalihan pun, akan berguguran.

Maka saksikanlah, hanya segelintir yang kemudian masuk menekuni dunia yang gersang, baik tataran akademis ilmiah, maupun organisasi, di kampus-kampus berkembang itu.

Memahami Kesetaraan

Tidak arif jika nilai keberhasilan diukur dari jumlah perolehan pialaBanyaknya jumlah penghargaan yang diterima bukan indikator pokok untuk mengatakan bahwa dengan jumlah itu dapat dikatakan suatu lembaga adalah unggul. Sehingga menyetarakan makna unggul antara satu dengan yang lain, tak mutlak hanya dilihat dari jumlah hasil yang dicapai. Tetapi mempertimbangkan faktor lain yang lebih dari itu.

Untuk itu, jika menginginkan kesetaraan antara satu kampus biasa dengan kampus unggulan hanya dilihat dari sbeberapa banyak jumlah prestasi yang diraih, terasa tidak adil. Pasti berbeda. Karena lingkungan di dalamnya pun telah berbeda.

Untuk mengukur kesetaraan itu, jika menjadikan hasil sebagai ujung penilaian, maka harus terlebih dahulu dilakukan penyetaraan lingkungan, sehingga dengan demikian kompetisi yang dibangun lebih fair.

Namun jika dalam hal lingkungan telah berbeda jauh, maka menemukan kesetaraan tidak bisa dihitung dari jumlah penghargaan. Karena pastilah berbeda antara mahasiswa yang biasa melakukan riset dalam laboratorium lengkap dan bimbingan intensif dengan mahasiswa yang bahkan tidak memiliki laboratorium untuk sebuah riset, jika keduanya mengikuti kompetisi yang mengharuskan wawasan terapan dari riset.

Mahasiswa yang tidak bisa melakukan riset hanya bisa meraba-raba, menerka, sehingga hanya sampai kajian pustaka saja. Sementara pengalaman mahasiswa yang pernah dan bisa melakukan riset, dapat lebih kuat dalam hal argumen, karena memiliki wadah penerapan atau praktik secara langsung, tidak sekedar asumsi.

Betul sekali bahwa riset tidak mutlak bergantung dari fasilitas laboratorium, tetapi benar juga jika banyak hal yang tak dapat dilakukan jika tidak dilaboratorium.

Jadi, hakikatnya semua kampus adalah setara jika dilihat dari kondisi lingkungan. Seorang mahasiswa yang bisa menulis prestasi kecil dalam kampus yang biasa, telah setara dengan mahasiswa yang juara dari kampus unggul. Seorang mahasiswa yang sampai bisa menjadi juara harapan dalam kampus biasa, lebih berprestasi dari mahasiswa yang juara satu dari kampus unggul. Dan mahasiswa dari kampus biasa yang sampai bisa meraih juara dalam sebuah kompetisi, sama halnya dengan mahasiswa yang sering mendapatkan juara dari kampus unggul.

Dia yang bisa bertahan dalam jalan sempit berduri, adalah pemenangjika ia berjalan di jalan mulus. Dia yang bisa berlari di jalan terjal, lebih terhormat dari juara yang lari di jalan mulus, walau dijalan terjal itu ia hanya bisa berlari dengan tertatih.

Karena keberhasilan menaklukan diri sendiri dari keterpurukan dan bertahan dalam lingkungan yang tak kondusif, lebih kuat dari menaklukan orang lain dalam lingkungan kondusif.

Semoga indikator seperti ini akan lebih digunakan oleh pihak berwenang, dalam membuat tingkatan dan memberi peluang antara satu kampus dengan kampus lain. Bahwa tidak ada kampus unggul, jika semua kampus diperlakukan sama, mendapatkan hal yang sama, dan memiliki hal yang sama.

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Mungkin bukan sebuah sanjungan yang diperlukan di negeri ini, tetapi ingatan bahwa hidup dalam keseragaman budaya juga membuat beragam pula tingkat pendidikan. Dan penghakiman pada pemaksaan bahwa semua adalah sama, tidak dapat dikatakan benar.

Nilai kesetaraan itu, dilahirkan dari kesiapan kita menerima perbedaan. Semakin luwes memahami bahwa berbeda wilayah berbeda kebutuhan, maka mestinya berbeda pula tingkat cara kita mengapresiasi kinerja. Agar kebanggaan itu tidak terlanjur menjadi kesombongan. Dan kekurangan itu bukan menjadi bahan olokan. 

Postingan populer dari blog ini

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…