Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Kelopak Ke Tujuh Part 2

Part 2.
Kami menyebut sebagai masa mandiri. Yaitu usia dimana kami siap untuk membantu orng tua ke ladang dan membantu gotong royong desa. Pada usia tersebut, anak seumuran kami akan diperkenankan memakai sepatu boat. Semua yang memakai sepatu boat dianggap sebagai lelaki sejati, atau bagi perempuan akan dianggap sebagai perempuan dewasa. Sebagaian orang tua bahkan menggelar syukuran.
Pertengahan bulan Juli adalah hari puncak perayaan masa mandiri. Pada hari tersebut, semua anak yang sebelumnya masih boleh bermain kepiting dan laying-layang, akan berganti seragam dengan sepatu boat gagah mereka. Sebagian bahkan membawa golok dalam rangka dari kayu meranti dan sebagian membawa arit (red; celurit). Maka tanggal 15 Juli adalah hari penting bagi hampir semua anak-anak. Karena mereka dinobatkan menjadi orang dewasa dan mulai beraktivitas sebagai orang dewasa.
Memang tak sama dengan tempat kebanyakan yang katanya dewasa saat usia 17 tahun. Di desa kami usia 12 adalah usia dewasa. Kami h…

Kelopak Ke Tujuh - Part 1

Part 1.
Aku, atau kami, tak tertarik dengan sekolah. Tepatnya tak tau apa itu sekolah. Kami hanya harus datang ke samping rumah Wak Harun dari senin sampai kamis. Pagi-pagi sekali, dimana kawan sepantaran kami memakai sepatu boat, dan arit dengan gagah, kami akan berbelok menuju rumah panggung dari papan yang semakin lapuk. Rumah panggung dengan balai-balai dari bambu di samping kanannya. Sepetak papan kuning berukuran dua kali satu meter di amplas halus. Bekas coretan arang tampak masih tersisa. Papan itu tak benar-benar bisa bersih jika tidak dicuci dengan air.
Mak mengantarku pagi ini, memegang tanganku kuat. Aku masih cemberut. Dari kemarin meronta-ronta karena Mak memaksaku ikut belajar di balai Wak Harun. Sepanjang jalan menuju rumah Wak Harun, aku menunduk. Kawan-kawanku mengejekku. Mereka kadang berdehem berkali-kali, yang lain dengan terang-terangan mengejekku. Ibu dengan santai memelototi kawanku yang mengejekku. Di depan rumah panggung, Wak Harun sumringah. Tangannya te…