Langsung ke konten utama

Kelopak Ke Tujuh - Part 1

Part 1.

Aku, atau kami, tak tertarik dengan sekolah. Tepatnya tak tau apa itu sekolah. Kami hanya harus datang ke samping rumah Wak Harun dari senin sampai kamis. Pagi-pagi sekali, dimana kawan sepantaran kami memakai sepatu boat, dan arit dengan gagah, kami akan berbelok menuju rumah panggung dari papan yang semakin lapuk. Rumah panggung dengan balai-balai dari bambu di samping kanannya. Sepetak papan kuning berukuran dua kali satu meter di amplas halus. Bekas coretan arang tampak masih tersisa. Papan itu tak benar-benar bisa bersih jika tidak dicuci dengan air.

Mak mengantarku pagi ini, memegang tanganku kuat. Aku masih cemberut. Dari kemarin meronta-ronta karena Mak memaksaku ikut belajar di balai Wak Harun. Sepanjang jalan menuju rumah Wak Harun, aku menunduk. Kawan-kawanku mengejekku. Mereka kadang berdehem berkali-kali, yang lain dengan terang-terangan mengejekku. Ibu dengan santai memelototi kawanku yang mengejekku.
Di depan rumah panggung, Wak Harun sumringah. Tangannya terentang.

“Selamat datang Bujang, Wak selalu yakin Bujang keturunan Ibrahim akan menjadi orang pandai”

Aku masih cemberut, lalu Mak mengkodeku agar berjalan ke samping rumah Wak Harun. Aku berjalan dengan malas. Di sana enam orang tengah duduk mengobrol sambil tertawa-tawa. Semuanya perempuan, dan usianya lebih tua dariku. Mereka sepantaran Dang Malik, empat tahun lebih tua dariku. Aku memilih duduk di pinggiran, yang lain tersenyum menyapaku.

Di depan rumah, Mak masih mengobrol dengan Wak Harun, cukup lama, lalu Mak melambaikan tangan padaku dan berjalan kembali. Aku menatap punggung Mak dengan lesu.

Ini adalah bencana, sepanjang tahun aku akan di ejek oleh Budi dan Rasya. Kemarin saja ketika aku cerita bahwa Mak memaksaku belajar baca di Balai Wak Harun, mereka tak henti menertawaiku. Mereka bilang akau akan menjadi gemulai karena diajarkan memintal benang, menjahit, dan bermain boneka-bonekaan bersama enam anak lainnya.

Pagi tadi, Budi sengaja mampir kerumah sebelum ke ladang, dia membanggakan sepayu Boatnya yang kebesaran, lungsuran dari abangnya. Hari ini Budi resmi memakai sepatu boat dan di pinjami celurit untuk ke ladang. Mematut-matut diri di hadapanku. Seangkan aku, dengan telanjang kaki akan menuju balai Wak Harun.

“Lelaki gagah itu tak kan mampir di Balai Wak Harun. Mereka kelak menjadi pemintal boneka. Lelaki itu ke ladang dengan karung besar mencari rumput, atau mengangkat kopi. Mereka memanjat rambutan, lalu membawanya dengan gagah ke Kota.” Tutur Budi.

Aku murka, kuambil batu sebesar kelereng, lalu kulempari tubuh Budi. Ia berlari sampi tertawa girang. Dengan tak henti memanggilku lelaki pemintal boneka.

“Bujang, selamat dating di kelas Wak Harun. Ingin sekali Wak menyebutnya sekolah, tapi sayangnya tak ada peresmian oleh Pejabat Kota. Pun kita tak mengenakan seragam. Bahkan kita tak memakai buku tulis selayaknya sekolah di kota kecamatan.” Wak Harun tersenyum manis. Aku masih belum mau membalas senyumannya.

“Ratih, coba sebutkan apa yang telah kita pelajari kemarin?” Tanya Wak Harun menatap Ratih, lalu Ratih mengambil  arang dan menuliskan sesuatu. Menuliskan sesuatu yang belum dapat ku pahami.

“Mari kita baca bersama-sama yang dituliskan Ratih, satu, dua, tiga..” Aba-aba Wak Harun.

“One, Two, Three, Four, Five, Six, Seven, Eight, Nine, Ten” serentak semuanya,  kecuali aku. Itu adalah kata yang belum pernah ku ketahui. Dan dibaca dari serangkaian simbol yang tersusun dari garis lurus dan lengkung.

Diam-diam aku mulai terpesona, bagaimana bisa rangkaian garis itu membentuk sesuatu yang bernama hurf. Atau tepatnya, bagaimana pertama kali orang memikirkan untuk membuat huruf? Siapa yang memulainya pertama dulu? Lebih menarik, dari rangkaian itu kemudian menjadi landasan berbagai macam bahasa. Ya, siapa yang pertama kali mengenalkan istilah bahasa, atau bagaimana bahasa pertama lahir.

Setahun kemudian baru aku tahu, Wak Harun menyampaikan kalau bahasa adalah salah satu kecerdasan yang Allah turunkan pada manusia, yang tak dimiliki mahkluk lain. Pertanyaanku saat itu menjadi, bagaimana ceritanya satu bahasa itu lalu menjadi begitu banyak bahasa. Sangat bayak. Bahkan juga banyak aksara?

Sampai disana Wak Harun hanya termenung. Menatapku lamat-lamat.

“Bujang, jika kita kita punya sejarah, maka Wak berharap semoga kau menjadi kelopak yang membuat Putik Surga mewangi sampai ke muara”


Dahiku mengernyit. “Apa yang sedang Wak dibicarakan?”. Wak Harun hanya terkekeh. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…