Langsung ke konten utama

Kelopak Ke Tujuh Part 2

Part 2.

Kami menyebut sebagai masa mandiri. Yaitu usia dimana kami siap untuk membantu orng tua ke ladang dan membantu gotong royong desa. Pada usia tersebut, anak seumuran kami akan diperkenankan memakai sepatu boat. Semua yang memakai sepatu boat dianggap sebagai lelaki sejati, atau bagi perempuan akan dianggap sebagai perempuan dewasa. Sebagaian orang tua bahkan menggelar syukuran.

Pertengahan bulan Juli adalah hari puncak perayaan masa mandiri. Pada hari tersebut, semua anak yang sebelumnya masih boleh bermain kepiting dan laying-layang, akan berganti seragam dengan sepatu boat gagah mereka. Sebagian bahkan membawa golok dalam rangka dari kayu meranti dan sebagian membawa arit (red; celurit). Maka tanggal 15 Juli adalah hari penting bagi hampir semua anak-anak. Karena mereka dinobatkan menjadi orang dewasa dan mulai beraktivitas sebagai orang dewasa.

Memang tak sama dengan tempat kebanyakan yang katanya dewasa saat usia 17 tahun. Di desa kami usia 12 adalah usia dewasa. Kami harus mulai bertanggung jawab pada sesuatu sejak usia tersebut. Beberapa anak laki-laki akan memelihara sapi atau kambing. Sementara anak perempuan akan menyiapkan bekal dan menanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa bahkan di beri tanggung jawab mengurusi tanaman kopi.

Tradisi tersebut berjalan cukup lama, sampai Wak Harun dari perantauan di Kota Kecamatan pulang ke desa. Sejak Wak harun pulang, kebijakan baru muncul, yaitu anak yang berusia 12 tahun selain harus ke ladang dengan sepatu boat mereka, boleh memilih belajar baca tulis di rumah Wak Harun dari senin hingga kamis. Saban pagi hingga zuhur. Kebijakan baru yang awalnya ditertawakan oleh masyarakat. Tapi Datuk Sol, sebagai tetua adat menyatakan setuju dengan gagasan tersebut. Sejak saat itu, Wak Harun, selain mengajar ngaji di surau bagi anak-anak di bawak 12 tahun, juga mengajar anak-anak 12 tahun untuk belajar baca tulis.
Namun sayang, meski kebijakan mulia tersebut telah di sahkan, masyarakat justru banyak mencemooh. Beberapa anak malah malu jika belajar baca tulis. Lebih memilih untuk ke ladang mengurus sapi. Maka dalam kurun waktu hampir empat tahun, hanya 6 orang yang memilih dan bertahan untuk baca tulis. Dan itulah mereka, yang kini menjadi teman sekelasku. Aku satu-satunya anak baru dalam dua tahun terakhir. Yang kehadiranku bukan karena aku mau, tapi karena Mak memaksaku untuk belajar dengan Wak Harun.

“Baik Al, hari ini kau akan mulai berkenalan dengan huruf. Yang lain, boleh melanjutkan belajar merajut dengan Imah di teras depan.” Tutur Wak Harun.

Ke enam murid itu patuh, lalu menuju teras depan rumah. Disana Cik Imah sambil menggendong Umar kecil yang tertidur, sudah menunggu dengan beberapa benang dan peralatan yang aku tak paham, tapi kutau itu untuk belajar merajut.

Istri Wak Harun memang bukan warga asli Putik Surga, Wak Harus mengenal dan menikah dengannya semasa masih merantau di Kota. Mungkin karena tinggal dan tumbuh di kota, Cik Imah menjadi sangat berbeda dengan masyarakat kami. Kulitnya putih dan selalu berseri, tanpa mengenakan polesan bedak murahan yang sering di pakai kawan-kawanku. Di samping itu tudung Cik Imah lebar dan besar. Cik Imah juga selalu mengenakan baju kurung.
Selain penampilannya yang berbeda, Cik Imah juga memiliki keterampilan yang berbeda. Semua orang tau keahlian memintal kain Cik Imah tak tertandingi di desa. Bahkan satu-satunya. Ia juga pandai membuat mainan menggunakan barang bekas. Dan terpenting, masakan dan kue yang di buat Cik Imah selalu sepesial. Saban lebaran rumah Wak Harun selalu ramai karena kami, puluhan anak-anak, akan berbondong-bondong kerumah Wak Harun untuk mencicipi kue buatan Cik Imah. Kue yang selalu dirindukan. Bahkan, kami boleh membawanya pulang karena Cik Imah membuat banyak sekali kue.
Tak hanya lebaran, pada hari kemerdekaan dan Idul adha, Cik Imah juga memasak kue yang sedap yang dibagikan kepada anak-anak pengajian surau. Ya, Cik Imah dan Wak Harun yang menjadi guru ngaji bagi anak-anak desa di surau setiap sore. Pastinya setelah mengajar murid-muridnya yang kini telah bertambah menjadi tujuh orang.

“Al, jika kau melihat bentuk seperti ini, namanya huruf ‘A’” Wak Harus mengagetkanku. Ia mempraktikkan pengucapan sebuah huruf yang baru ia tulis di papan menggunakan arang. Aku mengikutinya.

“Ucapkan yang bebas, jangan malu-malu, buka mulutmu lebar-lebar, seperti hendak memakan ayam goreng yang besar” Ucap Wak Harun yang membuat kumpulan gadis di teras tertawa kecil, suara Wak Harun memang lantang, tambah lagi jarak teras dan balai-balai ini hamper tak ada. Selain hanya sekat setinggi setengah meter.

Aku mengikuti cara Wak Harun. Dan pengucapanku selalu salah. Aku cemberut, masih malu untuk membuka mulutku lebar-lebar.

“Ah sejak kapan bujang Ibrahim ini menjadi pemalu, hehehe” kekeh Wak Harun.
“Oh, Wak Ingat punya sesuatu yang barang kali menarik untuk memulai kelas kita.” Wak Harus beranjak dan masuk ke dalam rumahnya. Sambil menunggu, aku melihat ke sekeliling. Kebun sayur yang tertata rapi di atas bedengan. Tumbuh segar dan menggoda. Beberapa cabai rawit mulai berbunga.

Sebenarnya,balai-balai ini sangat menyenagkan. Di sampingnya terbentang kebun sayur terawat dengan ayam mondar-madir mencari belalang. Lebih jauh sedikit, jagung yang tinggi mulai berbunga. Hamparan yang menyenangkan.
“Ya ini, ketemu Al!” Wak Harun mengagetkanku kembali. Di tanganya membawa sebuah buku, tebal dengan sampul yang juga tebal. Lalu memberikannya padaku.
“Bukalah Al” Pinta Wak Harun.
Maka kubuka buku tebal tersebut, dan tampaklah disana gambar-gambar bagus dengan tulisan yang tak kumengerti.
“Itu namanya Ensiklopedia, tentang keajaiban dunia. Wak juga punya tentang antariksa dan dunia laut, tapi itu nanti.” Aku masih membuka halaman demi halaman. Melihat gambar-gambar bewarna yang bagus di kertas tebal mengkilat.
“Orang menyebutnya Piramida. Tengok gambar seorang yang berdiri di depannya, kecil sekali bukan. Itu adalah peninggalan Firaun, lebih tepat kuburan Firaun atau Raja Mesir. Ya, selain Desa Putik Surga yang menjadi bagian dari Negara Indoensia, juga banyak Negara lain di luar sana. Terpisahkan laut yang penuh dengan air luas sekali. Nah salah satunya Mesir.” Aku melihat Wak Harun, ku akui aku takjub. Terpesona. Benarkan ada tempat yang berbeda dengan Putik Surga.
“Taka ada pohon rambutan, apalagi kopi. Disana hanya pasir kuning yang begitu luas Al” Wak Harun menambahkan.
“Jadi jika mereka tak punya kopi, bagaimana mereka bisa mendapat garam Wak” Ups, aku mulai tertarik rupanya. Aku jadi sedikit malu. Tapi memang aku mulai tertarik, kan.

Wak harun senyum, lalu membuka beberapa lembar kedepan buku yang masih ku pegang.
“Nah tengoklah ini, namanya Kurma. Di daerah padang pasir, banyak kurma tumbuh. Rasanya manis sekali, bahkan mendapat pahala jika memakannya” Aku mengernyitkan dahi.
“Nanti bila bulan puasa, Insha Alloh Wak sempatkan membeli Kurma, supaya kau dapat mencicipi manisnya buah surga” Aku hanya mengangguk.

Aku membuka beberapa halaman lagi, lalu menemukan sebuah gambar batu bata bersusun rapi yang panjang.
“Kalau ini namanya apa Wak?”
“Nah, lebih menarik jika kau membacanya sendiri bukan?”
“Tapi…aku tak bisa membaca Wak” aku menunduk.
“Bukan tak bisa, tapi belum bisa, makanya kita belajar. Coba kau cari bentuk huruf yang seperti ini” Perintah wak harun sambil menunjuk ke huruf di papan.
“Ya ketemu wak, yee ketemu, seperti ini, namanya huruf ‘A’, betul kan Wak?” Aku girang.
“Ya, pandai sekali Putra Ibrahim ini, mau tau huruf yang lain lagi Al?”

Aku mengangguk antusias. 

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…