Langsung ke konten utama

Kelopak Ke Tujuh - Part 3

Part 3.

Hari ini, selain  menjadi hari pertamaku belajar, aku juga diminta Wak Harun untuk membantu mengajar anak-anak mengaji di surau. Wak Harun memang sedikit kualahan satu tahun ini, karena harus mengajar sendirian puluhan anak-anak dari umur 5 tahun samai 11 tahun mengaji. Cik Imah cukup repot mengurusi Umar Kecil yang menangis kalau terlalu berisik. Makanya mulai hari ini, aku yang membantu Wak Harun.

Usai belajar aku diajak makan siang di Rumah Wak Harun. Aku memang sering makan dirumah Wak Harun, Wak Harun adalah adik kandung Amak, jadi sudah seperti rumah sendiri. Bahkan aku sering diam-diam mengambil kue yang di letak di toples ruang tamu lalu mengantonginya banyak-banyak untuk ku bagi dengan kawan-kawan. Dan Cik Imah selalu tau kalau aku yang diam-diam kerumah dan mengambil kue di ruang tamu. Makanya, beberapa kali Cik Imah mengantarkan satu toples kue ke rumah.

“Al sepertinya senang sekali dengan kue ini, kebetulan Imah memang sering buat banyak, makanya Imah bawakan untuk Al”

Mak hanya akan melotot padaku biasanya. Tapi aku tak terpengaruh, karena aku akan langsung menyambar kue itu lalu berlari pergi. Dan selalu seperti itu.

Sepanjang makan, aku merancau banyak sekali tentang apa yang kupelajari hari ini. Wak harun sering hanya mengangguk.

“Apakah tembok besar cina itu dibuat dengan bambuseperti di balai-balai Wak?” aku bertanya sambil melahap sayur rebung Cik Imah.

“Bagaimana pula mereka bisa mendapatkan bambu sepanjang itu untuk membangun tembok yang begitu panjang. Tambah lagi, pastilah sangat banyak bambu ditebang.” Belum sempat Wak Harun menjawab aku sudah menyambung pernyataan baru.

“Ah sepanjang apa Tembok itu, apakah lebih panjang dari Sungai Wangi yang muaranya lebih dari jauhnya kota?”

“Jauh lebih panjang Al, lebih panjang dari aliran sungai ini ke muara di laut sana. Makanya, pergilah kesana suatu saat nanti jika dewasa.”

“Sekarang aku kan sudah dewasa Wak, apakah aku boleh pergi sekarang kesana?”

“Belum sekarang Al, kau harus belajar yang rajin dulu, pandai baca tulis dan berhitung. Kelak saat kau sudah tumbuh besar dan pintar, usai belajar di balai ini dan melanjutkan sekolah ke kota kecamatan, kau baru bisa pergi”

“Tapi Wak, setelah selesai masa belajar dengan Wak harun, aku hanya ingin menjadi lelaki sejati. Ke ladang dengan sepatu boat dan mengurusi kopi-kopi di ladang. Seminggu sekali aku akan ke kota menukar kopi dengan garam Wak.”

Wak harun malah tertawa. Piringny telah bersih dan segera mencuci tangannya.

“Ayo selesaikan makannya, setelah itu kita ke surau solah zuhur dan mengajar ngaji. Kau akan mengajar Iqro’ hari ini.” Aku masih tak puas karena Wak Harun tak menanggapi kalimat terakhirku. Dan lagi lagi, Wak Harun tau.

“Nanti akan Wak Jelaskan seperti apa lelaki sejati sesunguhya. Selain hanya memanggul kopi semalaman ke kota lalu menukarnya dengan garam Al. Terlalu banyak kesempatan yang akan membuatmu menjadi lelaki sejati luar biasa.”

“Maksudnya Wak?”


Wak Harun sudah mengangkat piringnya ke dapur, menghilang di balik tirai. Aku buru-buru menghabiskan makan dan bersiap ke surau. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…