Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Pembinaan Motivasi Peserta Didik Melalui Aktivitas Riset

Bagian paling penting dalam proses pembelajaran adalah tumbuhnya kecerdasan dan motivasi belajar peserta didik. Kecerdasan, sebagaimana di ungkapkan oleh Christopher Chabris dari Union College, bersifat dapat tumbuh dan berkembang. Ia mengungkapkan bahwa kebanyakan gen spesifik yang selama ini dianggap memiliki keterkaitan dengan kecerdasan, mungkin tidak berpengaruh terhadap IQ (intelligence quotient) seseorang. Meski faktor genetik turut mempengaruhi kadar kecerdasan seseorang, tetapi motivasi lingkungan menjadi penentu apakah kecerdasan yang dibawa tersebut akan tumbuh atau stagnan. Pertumbuhan itu dipengaruhi oleh motivasi yang hadir dari lingkungan sekitarnya. Berkenaan dengan upaya meningkatkan motivasi peserta didik, kegiatan penelitian dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan motivasi keilmuwa peserta didik. Aktivitas ‘menemukan’ atau ‘membuat’ sebuah karya penelitian, selain menghadirkan tantangan, juga kaya akan muatan ilmu. Ditambah lagi proses tersebut memicu pesert…

DIAM DIAM BODOH

Diam diam menjadi bodoh,
Bodoh terdiam menjadi-jadi,
Siapa yang bodoh tetapi justru diam,
Padahal kebodohan tak pernah diam.

Diam diam menjadi tuli,
Tuli tak mendengar karena semua diam,
Tapi alangkah sukar hati yang tuli,
Karena diam meski saudara terbuang.

Diam diam menjadi bisu,
Terdiam selamanya itulah memang bisu,
Malang manusia yang memilih diam,
Lebih malang siapa memilih membisu
melihat saudara terkatung di lautan.

Ini negeri yang di didik diam,
Diam hingga bisu karena telah menjadi tuli,
Ini negeri yang di pertontonkan kebodohan,
Melihat saudara mati terkubur laut dalam diam.

Alangkah nelangsa bodoh di pertontonkan,
Bangga di tiru terbodoh bodoh,
Diam terdidik untuk bisu,
Tutup telinga pada apa yang melanda saudara.

Diam diam menjadi bodoh,
Semakin menjadi bodoh karena diam,
Apakah ini bangsa memang benar-benar bodoh,
Karena penguasanya memilih diam.

Diam diam menjadi tuli,
Semakin menjadi bodoh karena tuli,
Apakah ini penguasa bangsa telah tuli,
Tak dengar jerit muslim Rohi…

Gugur Gunung

Menabur alasan untuk kembali sendiri,
Meninggalkan sebab untuk sekali saja pergi,
Biarkan bumi tetap berputar,
Kehadiran hanya soal bertahan atau menghilang,
     Bagian bumi akan tetap sama, kan?

Apa sebab lahir dan hadir itu menjadi ada,
Bagi siapa pula keberadaan itu menjadi benar?
Ah bila tak ada lagi alasan untuk bertahan,
Menjauh pun tak ada yang mengetahui,
     Bagian bumi akan tetap sama, kan?

Sampai bila,
Hari semakin berat,
Rambut berguguran,
Pagi lebih sering menjadi siang,
Saat tiada lagi alasan ada,
Mungkin ini waktu untuk jauh,
Ya saat untuk jauh,
     Bagian bumi akan tetap sama, kan?

Karang menyerah pada ombak,
Gunung gugur oleh lahar,
Matahari sirna karena rembulan,
Kekuatan kokoh menghilang,
Seperti kekalahan, dan penyerahan,
      Bagian bumi masih akan tetap sama.






Raja Sedang Resah Bag 6

Bagaimana Ronin dapat meluapkan kekesalannya. Ini kemunafikan. Memuakkan. Istana macam apa ini? Jadi hanya seperti ini saja rupanya standar mutu dari balik bangunan yang katanya agung dan dipenuhi dengan dewa suci ini? 
Ronin melangkah keluar. Berdiri di tembok istana. Menyaksikan bulan utuh di balik bukit. Lama sekali. Ia perlu untuk memikirkan. Semakin lama dan semakin lama. Kadang ia ingin sekali menentang dengan lantang. Tapi ia tetap senyap. Ada kode etik bicara. Ada waktu yang harus diperhitungkan. Meski semakin lama semakin memuakkan. Semakin lama semakin membuat rumit. 
Ronin menghela nafas. Emosi berkecamuk ia redakan. Ronin tahu kalai ia masih harus bertahan. Mencoba bertahan beberapa waktu lagi. Sampai ikhtiar itu selesai dengan baik. Ada yang harus ia selamatkan. Masih ada tugas yang harus diselesaikan. 
Sepanjang waktu Ronin menghabiskan hari-hari diistana. Menahan diri dengan sebaik sikap. Tampil dengan cara yang sebaik mungkin. Terlebih mulai mendapatkan akses untuk be…

Kelopak Ke Tujuh - Part 6

Part 6.
Menjadi pertemuan berbeda, dan sejujurnya lebih menyenangkan dari yang pernah ku ketahui. Usai cerita Mesir, Amsterdam, dan Kurma tadi, anak-anak langsung belajar mengaji. Mereka yang Al Qur’an menghadap Wak Harun, sementara yang Iqra’ dan Juz Amma menghadappadaku. Satu persatu menyetorkan bacaannya. Sesekali akan diperbaiki apabila ada yang luput baca.
Mengaji di Surau yang sering terasa sangat lama itu, untuk kali pertama ini menjadi sangat cepat. Tetapi menunggu esok menjadi lebih lama beberapa kali lipat dari sebelumnya. Aneh, apakah itu berarti aku menyukai menjadi guru ngaji seperti Wak Harun? Atau mungkin karena aku tak sabar menanti cerita Wak Harun seperti hari ini. Atau juga, aku ingin lekas tau apa yang ada di tanganku. Huruf-huruf buta yang berjejer dengan susunan acak itu, menjadi sangat menarik. Ya, sangat menarik untuk ditakhlukkan. Aku ingin segera bisa membaca sendiri, dan menunjukkan ke anak-anak surau bahwa aku juga pandai membaca. Menunjukkan ke Amak bah…

Kapal Mengarung Jua

Siapa yang mau jadi nahkoda, memimpin ekspedisi kapal besar mengarung samudera? Boleh jadi di tepian pantai kita menyaksikan keindahan. Atau bagaimana kita dapat dengan jelas memberi penggambaran keindahan karang di laut. Dengan ikan berupa warna, atau terumbu yang lembut menari di dasarnya. Di atas, camar mencercit bermain musik. Indah sekali bukan menjadi nahkoda?
Tapi mungkin, keindahan itu hanya saat kapal tengah berlabuh. Dimana anak-anak pantai akan mengerumuni kapal besar dengan rasa takjub. Saat kita menyaksikan nelayan bersuka ria melempar jangkar dan menurunkan muatan ikan besar. Atau saat beberapa orang menyelam demi melihati pesona bawah laut. Saat kapal mengarung samudra, mulai meninggalkan pantai yang tenang dengan pasir putih, maka saat itu karang kemudia menyelam di dasar terjauh. Ikan-ikan menjadi perak atau hitam. 
Maka siapa yang akhirnya mau berlayar setelah tau di hadapan selalu ada badai yang membalikkan kapal. Atau siapa yang sampai berani diitari sekolompok hi…

Siapa Presiden

Saya sebelumnya tidak terlalu mau ikut campur. Soal cicak vs buaya (lagi), soal AS dengan modifikasi foto (kayak teori klem kebenaran), soal BW yang tiba-tiba di garap (haha, ingat LHI dulu kok rada-rada spesial si BW ini), soal penasihat presiden (katanya sih bos judi, entah lah), terus soal banjir Jakarta (yang dilempar sana sini). Semuanya tidak begitu saya hiraukan. Hanya ada yang kemudian menarik perhatian saya, yaitu soal Mobnas.
Hati saya benar-benar terluka kali ini. Oke lah kita tau kalau si Esemka itu cuma buat pencitraan (yang masih juga di bela sama tim fanatik JW), lalu redup hingga jadi Gubernur, lalu naik lagi pas Nyapres lalu redup lagi. Walau BJ Habibi pernah bilang kalau Esemka itu 'mobil tambal-tambal' (masih juga di bela sama fans JW), atau kalau mobil itu mirip sekali dengan mobil china, sampai batas itu saya tetap berusaha 'woles'. Namanya otak tumpul mau bagaimana pun tetap tumpul kan, mau di sodorin fakta rill kalau dasarnya memang hasil cucian…

Kelopak Ke Tujuh - Part 5

Part 5.  Hanya tatapan curiga. Apakah ini hanya perasaanku, seluruh anak-anak itu melihatku dengan curiga. Mereka mematung dengan tatapan hanya padaku. Beberapa detik kemudian masih tetap seperti itu. Kuakui tubuhku gemetar. Buku yang sudah ku pegang menjadi sulit bahkan untuk kubuka.
Di belakang, beberapa anak mulai berbisik satu dengan lainnya. Menyebar hampir ke seluruh anak hanya dalam hitungan detik pula. Aku semakin gugup. Kulihat Wak Harun disampingku hanya tersenyum, membiarkan kegugupanku.
Ah kenapa pula aku menjadi begitu gugup, bukankah aku sering diminta untuk memimpin muraja’ah dan bahkan sudah lulus khatam qur’an yang disaksikan seluruh warga desa. Sering juga diminta sebagai seksi konsumsi yang membawa nampan minum atau kue kalau sedang ada acara desa. Kenapa aku menjadi begitu gugup, atau bahkan tak sanggup menyuarakan sesuatu.
“Coba sebutkan bersama-sama, PYRAMID” Wak Harun memecah keresahan beberapa menit surau. Anak-anak yang tadi berbisik-bisik dan menyikut tem…

Raja Sedang Resah bag 5

Istana besar memang besar. Istana besar betul menjadi pusat semua istana. Maka wajar kalau Istana besar dirancang dengan besar. Dengan gerbang yang besar, panggung yang besar, ruang dansa yang besar, dan pintu yang besar. Lebih jauh sitana besar sering dikaitkan dengan orang-orang berjiwa besar. Ronin memasuki forum dan duduk di belakang. Menyakasikan sidang. Ingin mengetahui seberapa besar manusia di balik jubah-jubah itu.
**sekian menit kemudian**
"Acara apa ini? Dibalik jubah megah itu kenapa muncul sosok yang begitu kekanak-kanakan. Tak pantas bahkan dengan jubahnya. Di depan, di belakang, di setiap sisi dengan busa berbuih hanya membahas hal-hal mubazir. Saling keras, saling alih, saling tuding. Mana jiwa-jiwa besar itu. Yang ada hanya kerdil" gumam Ronin.
Rupanya memang, tak benar-benar yakin bahwa masih tersisa banyak cukup hati yang besar di era ini. Bahkan pada espektasi tertinggi. Bila melihati segala hal, Ronin semakin yakin bahwa ia adalah Ronin. Siapa yang berh…

Raja Sedang Resah - Bag 4

Saat terbangun dari waktu yang lelap, Ronin teringat akan tugasnya kembali. Mimpinya tentang tulip begitu lekat, tapi saat kesadaran sudah terkumpul, ia ingat kecamuk Istana. Bahwa masih perlu waktu sebentar lagi.

Ronin menyelinap ke istana. Entahlah ia merasa perlu menyelinap. Mugkin dengan demikian aspek kesadaran Patih-patih sedang dalam kondisi murni. Mereka akan menunjukkan diri dengan sebenarnya. Dalam beberapa pengamatan Ronin merasa tak perlu menyelinap, ia berjalan seperti biasa dengan melalui gerbang.

Seketika sepucuk surat melayang kepadanya. Terbuat dari pelepah akasia. Berisi perintah untuk ke Istana Besar. Ronin lalu menunggang kuda dan melesat ke Istana Besar. Menghalau hutan dan menyusuri perkumuhan.

Ia sampai teat waktu. Ninja memang selalu presisi. Ia duduk dan mengambil ruang, bertemu dengan pejabat negari lain. Espektasi tantang kerajaan besar memang besar bagi sebagian orang. Tapi Ronin adalah pemilik diri.


Raja Sedang Resah - Bag 3

Kerajaan lengang, Raja sedang safari. Tapi jangan kira kerajaan akan sepi. Justru kerajaan semakin panas. Para Patih banyak plesir. Para Resi juga ingin plesir, tapi tidak bisa karena terikat kewajiban. Resi baru sadar kalau tugasnya tak berhenti, bahkan setiap saat harus selalu di istana mengurusi putra mahkota. Maka Resi mengajukan protes ke Panglima, suasana lalu panas. 
Ronin duduk termangu, merasakan sengketa balik panggung yang rumit. Tepatnya seperti taman bermain bocah usia 3 tahun. Riuh ramai, dan saling tuding. Panglima mencoba menenangkan, tapi Resi menuntut hak sama dengan Patih. Masalahnya Patih tidak tau kalau plesirnya sering jadi masalah. Atau mungkin plesir itulah bagian paling lekat dari kewajibannya. Atau juga memang dasar Patih yang suka bikin runyam. Maka suasana semakin panas, hingga lupa kalau kelakuan Resi juga malah sudah melebihi bocah-bocah itu. 
Sepersekian menit Ronin merasa muak. Ia pergi ke ladang jagung. Menikmati alam yang luas di depan layar. Di satu…

Raja Sedang Resah - Bag 2

Ronin Berseloroh: 
"Ini dagelan, ceritanya lucu. Malah mirip komedi. Halah apa coba yang pantes untuk menyebutkan, ini garong ngomongin kucing. Kadang kok lucu, ora patut, pada ributin masalah, keren-kerenan mau cari solusi katanya, tapi kok ora sadar masalahnya itu di situ. Iya di kepalamu Patih. 
Jreng jreng jreng...datang kayak pahlawan, diplomatis, sok peduli, tapi pas ada kepetingna saja, yo ora urus, terserah. Besoknya hilang, cari ikan di kolam, tapi kok malam-malam perginya. Lho kenapa kok cari ikan malam, ngapain, siang siang kenapa? Ada yang di khawatirkan? 
Maka pantas, kucing garong itu memang tidak nyaman diajak bicara. Isinya tipu-tipu. Keren sih, tapi karena keseringan tipu-tipu, jilat-jilat, maka ya siapa percaya. Malah sebenarnya itu tidak pantas di dengar. Ha ha ha, ini dagelan apa, orang kok lupa sumbernya, heleh heleh heleh...."
Raja tau, tapi raja terlalu bijaksana. Ini soal negara, bukan soal satu manusia. Maka raja biarkan Ronin berseteru di tengah es…

Raja Sedang Resah - Bag 1

Raja bingung, kerajaan gonjang-ganjing. Raja panik, semakin lama semakin panas. Walau Raja panik, raja tetap harus jadi raja. Kerajaan tetap perlu pemimpin, negeri harus beroprasi. Maka raja, meski gundah gulana, tetap memimpin negeri. 
Waktu semakin bergulir, raja mulai resah prihal kerajaan yang semakin kacau. Tapi tak semudah duga, diplomasi itu terlalu mengikat. Tak serta merta-merta bisa dituntaskan, ada hati manusia yang masih tersangkut. 
Maka raja menjadi resah lagi. Sampai kapan? Siasat silih benganti di depan mata, bermain dengan lembut. Semua disadari, tapi diplomasi birokrasi dan hukum mengikat untuk tidak melakukan apa-apa. Raja jadi bingung, kenapa justru hukum yang mengikat. Tapi itu sudah terjadi. Raja menjadi benar-benar resah. Bagiama kerajaan tetap akan dapat mengayomi rakyat negeri, ia tak dapat bekerja sendiri sementara kerajaan pun sedang dilanda krisis. 
Sebagaimana kisah kerajaan yang dilanda konflik, ditengah gejolak cahaya mentari muncul ronin-ronin pembela …

Kelopak Ke Tujuh - Part 4

Part 4.
Anak-anak sudah berkumpul di Surau. Selalu ada yang ,mereka kerjakan. Apapun bisa menjadi begitu menarik. Bahkan segenggam pasir pun adalah maninan bagi mereka. Atau tanpa menggunakan apapaun, mereka dapat memainkan seuatu yang ahnya mereka yang memahami. Sesekali tertawa riang, saling tepuk punggung. Sebagian main kejar-kejaran.
Melihat Wak Harun sudah di pelataran Surau, anak-anak yang tadi bermain lempar pasir, berdesakan masuk ke Surau. Dari tempatku terdengar seseorang berteriak menginformasikan kalau Wak Harun sudah datang. Suasana ramai itu menjadi hening seketika. Anak-anak yang tadi hampir menangis karena tersandung batu, juga reda.
Aku ingat, aku dulu juga seperti itu. Persisnya beberapa hari lalu sebelum aku khatam membaca Al Qur’an. Kami memainkan apapun yang ada. Siklusnya adalah bermain riang, tertawa begitu lepas, lalu akan ada yang menangis setelah itu. Bisa karena temannya tidak sengaja melemparkan kerikil, bisa juga karena kalah bermain, atau paling sering…

Benci

Benci merayap dengan lembut, merengkuh waktu yang berjatuhan. Benci tumbuh dengan subur, pada kisah yang sudah berubah. Benci menyeruak dengan garang, padahal ia dulu adalah rindu yang begitu lembut, kan? Benci menatapi jasad hidup dengan nanar, lalu menerkam hati yang tengah terluka.

Apakah benci memang harus datang dengan begitu kasar? Walau pada waktu yang memapahnya dengan renta setiap hari? Benarkan benci itu adalah rindu yang dulu? Benarkah benci adalah bagian dari hati manusia?

Pada penyadaran akan kisah yang panjang, memandangi benci yang kini mengagungkan diri. Tidak indah sama sekali, bahkan hanya untuk membayangkan. Tapi benci itu ada, benar-benar nyata. Sesak, memenuhi hati. Memakan jiwa yang renta oleh luka.

Lelah, lelah... untuk membenci kebencian. Lelah, melihati waktu yang kini suram. Lelah, bersama benci.

Luka

Luka terbiar menganga sesamaan dengan keputusasaan. Bukankah luka memang perlambang putus asa atau perlambang dera akan waktu yang selalu tak pernah sama. Bagaimana luka hadir menyerang tanpa memberi kesempatan untuk merasa sakit. Luka yang hadir dari rindu yang menua itu, menyiksa tanpa sempat memberikan tanda. 
Luka membuat hati penuh dengan pengharapan yang berbeda. Wujud keinginan untuk terobati dan bangkit. Luka itu menghadirkan pengharapan untuk sembuh dan kembali kepada waktu yang semula. Namun, pengharapan itu sering hanya akan menambah luka semakin terluka. Karena waktu tak pernah akan kembali seperti sedia kala. Maka wajarlah, luka yang kian terlukai itu, kelak akan tumbuh menganga, menjadi Benci.

Rindu

Siapa yang bisa membahasakan rindu? Ia merayap dalam hati yang rentan. Muncul dengan bahasa yang sulit diterjemahkan. Bila sebagian menilai bahwa hanya cinta yang layak untuk dijadikan rasa yang tak terjabar, maka bagiku, rindu lebih sulit untuk dimengerti.

Bisa jadi memang tak selalu, ya, ini subjektif. Tapi siapa yang dapat memahami rindu?
Sepanjang langit menaburkan bintang, saat angin malam mengantarkan waktu yang luang untuk berfikir, maka rindu datang dengan tanpa pengertian yang sanggup terbahasakan.
Ah rindu, betapa hati ini merindukan sesuatu namun hanya sampai ada pengharapan saja. Ah rindu, bagaimana aku dapat memahaminya? Atau bahkan aku tak sanggup membahasan kenapa dan apa yang aku rindukan kini.
Rindu? Bersama waktu yang tua, saat hati rentan ini bergulat dengan waktu yang terus berjalan, rindu akhirnya menua, rindu akhirnya renta. Maka perlahan rindu itu hanyut menjadi Luka....