Langsung ke konten utama

Kapal Mengarung Jua

Siapa yang mau jadi nahkoda, memimpin ekspedisi kapal besar mengarung samudera? Boleh jadi di tepian pantai kita menyaksikan keindahan. Atau bagaimana kita dapat dengan jelas memberi penggambaran keindahan karang di laut. Dengan ikan berupa warna, atau terumbu yang lembut menari di dasarnya. Di atas, camar mencercit bermain musik. Indah sekali bukan menjadi nahkoda?

Tapi mungkin, keindahan itu hanya saat kapal tengah berlabuh. Dimana anak-anak pantai akan mengerumuni kapal besar dengan rasa takjub. Saat kita menyaksikan nelayan bersuka ria melempar jangkar dan menurunkan muatan ikan besar. Atau saat beberapa orang menyelam demi melihati pesona bawah laut. Saat kapal mengarung samudra, mulai meninggalkan pantai yang tenang dengan pasir putih, maka saat itu karang kemudia menyelam di dasar terjauh. Ikan-ikan menjadi perak atau hitam. 

Maka siapa yang akhirnya mau berlayar setelah tau di hadapan selalu ada badai yang membalikkan kapal. Atau siapa yang sampai berani diitari sekolompok hiu. Atau bahkan merasakan kekeringan haus di tengah siang karena air yang berlimpah itu menyakitkan kerongkongan. Siapa yang mau melalui hari yang panjang mengarung samudera? Keras menggulung badai dengan air luat sejauh mata memandang. Tanpa bukit hijau, tanpa sapi berkejaran, atau pepohonan rimbun. 

Namun pada suatu hari, saya kemudian tau, bahwa kehidupan ini adalah untuk menahkodai kapal. Membawa kapal besar menuju tengah samudera. Sampai detik ini, masih belum menyadari, apakah saya benar-benar siap menuju kehidupan nyata. Tetapi kapal mulai berlayar menjauhi pantai. Semakin menjauh dan menjauh, menemukan hal-hal besar di depan. 

Kapal akhirnya mengarung jua, meski hati belum rela menembus samudra. Kapal akhirnya memang harus mengarung, karena waktu akan membawa kisah hebat di dunia yang besar. Dengan cerita yang belum terbayang, dengan badai yang belum pernah dijumpai. 

Kapal akhirnya mengarung jua. Menahkodai kapal dengan kaki gemetar. Suka tak suka, saya adalah seorang kapten. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…