Langsung ke konten utama

Kelopak Ke Tujuh - Part 4

Part 4.
Anak-anak sudah berkumpul di Surau. Selalu ada yang ,mereka kerjakan. Apapun bisa menjadi begitu menarik. Bahkan segenggam pasir pun adalah maninan bagi mereka. Atau tanpa menggunakan apapaun, mereka dapat memainkan seuatu yang ahnya mereka yang memahami. Sesekali tertawa riang, saling tepuk punggung. Sebagian main kejar-kejaran.

Melihat Wak Harun sudah di pelataran Surau, anak-anak yang tadi bermain lempar pasir, berdesakan masuk ke Surau. Dari tempatku terdengar seseorang berteriak menginformasikan kalau Wak Harun sudah datang. Suasana ramai itu menjadi hening seketika. Anak-anak yang tadi hampir menangis karena tersandung batu, juga reda.

Aku ingat, aku dulu juga seperti itu. Persisnya beberapa hari lalu sebelum aku khatam membaca Al Qur’an. Kami memainkan apapun yang ada. Siklusnya adalah bermain riang, tertawa begitu lepas, lalu akan ada yang menangis setelah itu. Bisa karena temannya tidak sengaja melemparkan kerikil, bisa juga karena kalah bermain, atau paling sering jatuh tersandung.

Wak Harun duduk di depan mimbar. Yang lain duduk rapi seperti saf shalat. Kegiatan mengaji di Surau segera dimulai. Tanpa aba-aba, usai mengucapkan salam, anak-anak akan muraja’ah surat-surat pendek. Kali ini ada tiga surat yang di muraja’ah, yakni Al Kautsar, Al Ma’un, dan Al Quraish dari Juz 30. Serentak anak-anak melantunkan bacaan. Wak Harun akan mendengar sambil memejamkan mata. Sesekali ia akan mengangguk-angguk, artinya bacaan benar. Namun sesekali dahinya mengeryit, yakni jika ada anak yang masih salah.

Usai muraja’ah, Wak Harun akan mengoreksi bacaan dengan menunjukkan cara membacanya. Anak-anak mengikuti. Kegiatan mengaji di Surau memang tidak hanya sekedar membaca, Wak Harun menambah muatan ajar dengan Tahsin, atau perbaikan bacaan. Tak da bedanya antara anak 5 tahun dengan 11 tahun, akan diajari dengan materi ajar yang sama. Bahkan untuk hafalan.

Menurut Wak Harun, sejak dini anak-anak memang harus dibiasakan untuk membaca Al Qu’an dan menghafalnya. Boleh jadi belum tau bagaimana cara bacanya, tapi dengan mengingat dari mendengar akan mempercepat daya serapnya kelak. Bukankah usia anak-anak itu adalah usia emas, maka sayang jika hanya dihabiskan untuk bermain tapi melalaikan aspek pembelajaran Al Qur’an.

“Anak-anak, hari ini Wak kenalkan guru baru kalian. Pastilah kalian semua kenal, Abang Al putranya Datuk Ibrahim. Dia akan membatu Wak untuk mengajar ngaji mulai hari ini” Wak Harun memulai.

Anak-anak itu diam dengan tenang, mengarahkan pandangan kepadaku sekilas. Mereka pasti mengenalku, terlebih sebelumnya aku juga adalah anak Surau seperti mereka. Sebenarnya tidak perlu memperkealkan nama, semua orang di desa salaing mengenal satu dengan lainnya. Baik kecil atau dewasa. Bahkan tau pasti anak dari siapa dan siapa kakekknya.

“Selain belajar membaca Al Qur’an dan menghafal, hari ini juga kita akan menambah satu kegiatan kita, yakni bercerita tentang dunia yang akan di sampaikan sepekan sekali oleh Abang Al” Wak Harun mengarahkan pandangan kepadaku. Sementara anak-anak di belakang berbisik-bisik, sebagian tersenyum riang.

Aku melemparkan pandangan pada Wak Harun, semacam bahasa non verbal yang mempertegas maksud perkataan sebelumnya. Wak Harun hanya tersenyum dan mengangguk.

“Nah sekarang, Abang Al akan bercerita tentang Tembok Besar China, ayo Bang Al maju ke depan dan bawa buku tebal itu, tunjukkan ke adik-adikmu, ceritakan tentang panjangnya tembok itu”.

Aku menelan ludah. 

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…