Langsung ke konten utama

Kelopak Ke Tujuh - Part 5


Part 5. 
Hanya tatapan curiga. Apakah ini hanya perasaanku, seluruh anak-anak itu melihatku dengan curiga. Mereka mematung dengan tatapan hanya padaku. Beberapa detik kemudian masih tetap seperti itu. Kuakui tubuhku gemetar. Buku yang sudah ku pegang menjadi sulit bahkan untuk kubuka.

Di belakang, beberapa anak mulai berbisik satu dengan lainnya. Menyebar hampir ke seluruh anak hanya dalam hitungan detik pula. Aku semakin gugup. Kulihat Wak Harun disampingku hanya tersenyum, membiarkan kegugupanku.

Ah kenapa pula aku menjadi begitu gugup, bukankah aku sering diminta untuk memimpin muraja’ah dan bahkan sudah lulus khatam qur’an yang disaksikan seluruh warga desa. Sering juga diminta sebagai seksi konsumsi yang membawa nampan minum atau kue kalau sedang ada acara desa. Kenapa aku menjadi begitu gugup, atau bahkan tak sanggup menyuarakan sesuatu.

“Coba sebutkan bersama-sama, PYRAMID” Wak Harun memecah keresahan beberapa menit surau. Anak-anak yang tadi berbisik-bisik dan menyikut temannya menjadi gugup dan mencoba mengikuti perkataan Wak Harun.

“Nah Al coba buka halaman dimana kau menemukan Pyramid” aku segera membuka halaman tempat menemukan bangunan di atas pasir itu. Anak-anak berdesakan kedepan untuk melihat gambar dari buku yang ku pegang. Aku spontan berdiri dan mendekat, lalu memperlihatkan secara bergilir gambar Piramida. Mereka mengangguk-angguk, sebagian jelas tampak bingung dengan apa yang ada di gambar.

“Jelaskan Al tentang piramida yang kau tengokkan itu” pinta Wak Harun.
“Emm ini adalah gambar Pyramid. Pyramid lebih tepat disebut sebagai kuburan Raja Firaun, atau Raja Mesir. Negeri yang sangat jauh serkali. Jika kita ingin keana menggunakan rakit batang pisang, maka kita perlu waktu berbulan-bulan, atau bahkan setahunan lebih. Belum tentu pula rakit kita akan  kuat mengarungi laut yang airnya sangat luas, lebih luas dari muara.” Aku memulai menjelaskan apa yang kuketahui dari Wak Harun beberapa jam lalu. Tampak anak-anak itu kini berbisik-bisik.
“Ya, ini memang kuburan raja. Tinggi sekali, coba tengok gambar orang di depannya, sangat kecil. Tingginya berkali lipat dari tinggi pohon kopi tertinggi. Jika kita sudah begitu susah memanjat batang kopi yang tinggi dan dihuni semut merah, maka Piramida jauh lebih tinggi dari itu.” Kembali anak-anak berbisik-bisik.
“Jangan berpikir kenapa disana tidak tampak pohon kopi, orang Mesir tak menanam kopi. Tak pula banyak rambutan, mungkin orang mesir juga tak tau apa itu rambutan.  Orang disana menanam kurma. Bentuknya seperti aren. Kata Wak Harun rasanya manis sekali. Dan kurma adalah makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW.”
Aku membuka halaman berikutnya yang berisi gambar pohon kurma.

“Apakah itu bisa dijual ke kota kabupaten dan ditukar dengan garam?” seorang anak, kuingat namanya Rasyid umur 10 tahun, bertanya. Ia duduk tepat dihadapanku dengan gambar kurma yang dapat jelas ia lihat. Aku sering bermain dengan Rasyid sebelum khatam beberapa hari lalu.

“Kurma adalah makanan surga. Memakannya saja dapat menjadi pahala bagi kita. Dan kurma tumbuh dengan baik sekali di padang pasir. Ia menjadi makanan favorit kaum muslimin di dunia. Ingat, dunia, bukan hanya Putik Surga. Dunia yang sangat besar dengan laut yang begitu luas. Yang jauhnya lebih jauh dari perjalanan ke kota kabupaten. Kurma bahkan menjadi menu utama selama bulan Ramadhan, karena memakannya akan mendapat pahala” Wak Harun menjawab dari belakang. Tau kalau akau tak dapat menjawab pertanyaan Rasyid.

“Nah Rasyid dan anak-anak Wak sekalian, jangan pernah mengira bahwa dunia yang kita lihat hanya sebatas Putik Surga saja. Bahkan di luar sana, ada surga yang lebih indah dari Putik Surga. Melati, bukankah kau senang menanam bunga beraneka warna di depan rumah kan?” Melati mengangguk.

“Maka di bagian lain Negara ini, kau dapat melihat taman berisi Bunga yang luasnya lebih dari dua kali luas Putik Surga. Semuanya bunga. Lihat ini, ini di Amsterdam, tengok dari kejauhan warna yang berbaris rapi dan sangat luas. Itu semua adalah Bunga Tulip yang sedang mekar. Mau ke taman bunga yang sangat luas seperti itu Melati?” Melati mengangguk, takjub. Dikepalanya terbayang sebuah taman yang begitu luasnya, dimana ia berlari memetik satu persatu bunga. Bahkan warnanya tak hanya merah, kuningm atau putih. Tapi ada wana ungu, biru, bahkan ada yang hitam.


Aku ikut takjub mendengar penjelasan Wak Harun. Semua yang ada di Surau ini sepakat, itu adalah tempat yang sangat luas. Dengan imajenasi tak terbatas kami, dengan modifikas yang bebas kami lakukan, semua sepakat juga, sebuah impian baru telah muncul di kepala kami sore itu. 

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…