Langsung ke konten utama

Raja Sedang Resah - Bag 3

Kerajaan lengang, Raja sedang safari. Tapi jangan kira kerajaan akan sepi. Justru kerajaan semakin panas. Para Patih banyak plesir. Para Resi juga ingin plesir, tapi tidak bisa karena terikat kewajiban. Resi baru sadar kalau tugasnya tak berhenti, bahkan setiap saat harus selalu di istana mengurusi putra mahkota. Maka Resi mengajukan protes ke Panglima, suasana lalu panas. 

Ronin duduk termangu, merasakan sengketa balik panggung yang rumit. Tepatnya seperti taman bermain bocah usia 3 tahun. Riuh ramai, dan saling tuding. Panglima mencoba menenangkan, tapi Resi menuntut hak sama dengan Patih. Masalahnya Patih tidak tau kalau plesirnya sering jadi masalah. Atau mungkin plesir itulah bagian paling lekat dari kewajibannya. Atau juga memang dasar Patih yang suka bikin runyam. Maka suasana semakin panas, hingga lupa kalau kelakuan Resi juga malah sudah melebihi bocah-bocah itu. 

Sepersekian menit Ronin merasa muak. Ia pergi ke ladang jagung. Menikmati alam yang luas di depan layar. Di satu pemandangan ia tersenyum lega melihat ciptaan Indah, di lain pikiran tak berhenti memikirkan sengketa. 

"Kadang memang sangat politis. Tapi memang ini yang jadi laku to. Yo wis, tak tunggu saja sampai kapan perseteruan menjadi semakin ramai. Sampai batas mana bedungan akan bertahan" 

Lalu Ronin menuju sebuah gubuk. Ia tertidur bersama kelembutan angin dan wangi bunga jagung. Di tidurnya ia bermimpi, bunga tulip mulai bersemi menyambut musim. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…