Langsung ke konten utama

Raja Sedang Resah - Bag 1

Raja bingung, kerajaan gonjang-ganjing. Raja panik, semakin lama semakin panas. Walau Raja panik, raja tetap harus jadi raja. Kerajaan tetap perlu pemimpin, negeri harus beroprasi. Maka raja, meski gundah gulana, tetap memimpin negeri. 

Waktu semakin bergulir, raja mulai resah prihal kerajaan yang semakin kacau. Tapi tak semudah duga, diplomasi itu terlalu mengikat. Tak serta merta-merta bisa dituntaskan, ada hati manusia yang masih tersangkut. 

Maka raja menjadi resah lagi. Sampai kapan? Siasat silih benganti di depan mata, bermain dengan lembut. Semua disadari, tapi diplomasi birokrasi dan hukum mengikat untuk tidak melakukan apa-apa. Raja jadi bingung, kenapa justru hukum yang mengikat. Tapi itu sudah terjadi. Raja menjadi benar-benar resah. Bagiama kerajaan tetap akan dapat mengayomi rakyat negeri, ia tak dapat bekerja sendiri sementara kerajaan pun sedang dilanda krisis. 

Sebagaimana kisah kerajaan yang dilanda konflik, ditengah gejolak cahaya mentari muncul ronin-ronin pembela kebenaran. Mereka datang dengan gagah, mengobati hati yang gundah. Mengisi kegelapan dengan cahaya harapan. 

Raja tampak lebih berseri, kerajaan beradu imbang. Kadang menjadi gembira, kadang juga resah. Tapi raja dapat memikirkan pekerjaan kini. Ronin beradu startegi dengan patih. 




Postingan populer dari blog ini

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…