Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Raja Sedang Resah Bag 6

Bagaimana Ronin dapat meluapkan kekesalannya. Ini kemunafikan. Memuakkan. Istana macam apa ini? Jadi hanya seperti ini saja rupanya standar mutu dari balik bangunan yang katanya agung dan dipenuhi dengan dewa suci ini? 
Ronin melangkah keluar. Berdiri di tembok istana. Menyaksikan bulan utuh di balik bukit. Lama sekali. Ia perlu untuk memikirkan. Semakin lama dan semakin lama. Kadang ia ingin sekali menentang dengan lantang. Tapi ia tetap senyap. Ada kode etik bicara. Ada waktu yang harus diperhitungkan. Meski semakin lama semakin memuakkan. Semakin lama semakin membuat rumit. 
Ronin menghela nafas. Emosi berkecamuk ia redakan. Ronin tahu kalai ia masih harus bertahan. Mencoba bertahan beberapa waktu lagi. Sampai ikhtiar itu selesai dengan baik. Ada yang harus ia selamatkan. Masih ada tugas yang harus diselesaikan. 
Sepanjang waktu Ronin menghabiskan hari-hari diistana. Menahan diri dengan sebaik sikap. Tampil dengan cara yang sebaik mungkin. Terlebih mulai mendapatkan akses untuk be…

Kelopak Ke Tujuh - Part 6

Part 6.
Menjadi pertemuan berbeda, dan sejujurnya lebih menyenangkan dari yang pernah ku ketahui. Usai cerita Mesir, Amsterdam, dan Kurma tadi, anak-anak langsung belajar mengaji. Mereka yang Al Qur’an menghadap Wak Harun, sementara yang Iqra’ dan Juz Amma menghadappadaku. Satu persatu menyetorkan bacaannya. Sesekali akan diperbaiki apabila ada yang luput baca.
Mengaji di Surau yang sering terasa sangat lama itu, untuk kali pertama ini menjadi sangat cepat. Tetapi menunggu esok menjadi lebih lama beberapa kali lipat dari sebelumnya. Aneh, apakah itu berarti aku menyukai menjadi guru ngaji seperti Wak Harun? Atau mungkin karena aku tak sabar menanti cerita Wak Harun seperti hari ini. Atau juga, aku ingin lekas tau apa yang ada di tanganku. Huruf-huruf buta yang berjejer dengan susunan acak itu, menjadi sangat menarik. Ya, sangat menarik untuk ditakhlukkan. Aku ingin segera bisa membaca sendiri, dan menunjukkan ke anak-anak surau bahwa aku juga pandai membaca. Menunjukkan ke Amak bah…