Langsung ke konten utama

Kelopak Ke Tujuh - Part 6


Part 6.

Menjadi pertemuan berbeda, dan sejujurnya lebih menyenangkan dari yang pernah ku ketahui. Usai cerita Mesir, Amsterdam, dan Kurma tadi, anak-anak langsung belajar mengaji. Mereka yang Al Qur’an menghadap Wak Harun, sementara yang Iqra’ dan Juz Amma menghadappadaku. Satu persatu menyetorkan bacaannya. Sesekali akan diperbaiki apabila ada yang luput baca.

Mengaji di Surau yang sering terasa sangat lama itu, untuk kali pertama ini menjadi sangat cepat. Tetapi menunggu esok menjadi lebih lama beberapa kali lipat dari sebelumnya. Aneh, apakah itu berarti aku menyukai menjadi guru ngaji seperti Wak Harun? Atau mungkin karena aku tak sabar menanti cerita Wak Harun seperti hari ini. Atau juga, aku ingin lekas tau apa yang ada di tanganku. Huruf-huruf buta yang berjejer dengan susunan acak itu, menjadi sangat menarik. Ya, sangat menarik untuk ditakhlukkan. Aku ingin segera bisa membaca sendiri, dan menunjukkan ke anak-anak surau bahwa aku juga pandai membaca. Menunjukkan ke Amak bahwa aku bisa membaca tulisan di bungkus garam dapur rumah.

Aku berlari-lari kecil sambil melompat melewati jalan ke rumah. Bunga anyelir rumah Melati terlihat lebih indah rupanya. Matahari senja yang meyiratkan warna oranye pun lebih indah dari biasanya. Aku tak sabar. Kupacu dengan lari kencang menuju rumah. Semakin kencang seolah aku melintasi waktu. Lebih kencang meliuk di gang sempit dan menghindari jalan rusak. Lebih kencang lagi sampai aku hampir menabrak seseorang yang sedang memanggul rumput. Untung dengan sigap aku membelokkan langkah dan “Brukk !!!” aku terjatuh tepat di depan orang itu.
Aku mengaduh, lututku lecet.

“Apa yang kau perbuat Al? Macam anak kecil saja berlari di petang hari. Untung kau tak menjatuhkan rumput yang sedang ku panggul dengan payah. Tak tau kau betapa letihnya bekerja di ladang seharian”

Suara Budi, ya itu Budi. Wajahnya sebagian tertutup oleh sulur-sulur rerumputan yang sedang ia panggul. Nafasnya jelas terengah-engah. Mungkin memang itu jumlah yang sangat banyak. Ikatannya lebih besar dari pangkal batang kelapa. Dan dengan dua pengikat kuat, membuat rumput ditata dengan padat.

“Minggir kau, aku letih memanggul rumput sialan ini!”

Aku merangkak ke depan membiarkan ia lewat. Tak kuucapkan sesuatu pun. Budi menjauh. Langkahnya goyah. Jelas aku melihat Budi benar-benar kepayahan membawa rumput itu. Bila kuingat ladang Budi, jaraknya hampir dua jam perjalanan. Jika Budi mengambil rumput dari ladangnya, maka pastilah ia sangat letih. Apalagi dengan tubuh kecilnya yang bagai lidi tengah menopang bambu. Sesekali lidi itu tampak hendak patah dan terjatuh.


Apakah lelaki sejati akan seperti itu? Aku lebih senang mendengar caranya memamerkan sepatu boatnya seperti tadi pagi. Atau mengacungkan celurit mengkilapnya yang terasah tajam. Setidaknya aku mendengar kebanggan.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…