Langsung ke konten utama

Pembinaan Motivasi Peserta Didik Melalui Aktivitas Riset

Bagian paling penting dalam proses pembelajaran adalah tumbuhnya kecerdasan dan motivasi belajar peserta didik. Kecerdasan, sebagaimana di ungkapkan oleh Christopher Chabris dari Union College, bersifat dapat tumbuh dan berkembang. Ia mengungkapkan bahwa kebanyakan gen spesifik yang selama ini dianggap memiliki keterkaitan dengan kecerdasan, mungkin tidak berpengaruh terhadap IQ (intelligence quotient) seseorang. Meski faktor genetik turut mempengaruhi kadar kecerdasan seseorang, tetapi motivasi lingkungan menjadi penentu apakah kecerdasan yang dibawa tersebut akan tumbuh atau stagnan. Pertumbuhan itu dipengaruhi oleh motivasi yang hadir dari lingkungan sekitarnya.
Berkenaan dengan upaya meningkatkan motivasi peserta didik, kegiatan penelitian dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan motivasi keilmuwa peserta didik. Aktivitas ‘menemukan’ atau ‘membuat’ sebuah karya penelitian, selain menghadirkan tantangan, juga kaya akan muatan ilmu. Ditambah lagi proses tersebut memicu peserta didik untuk berfikir kreatif, solutif, tekun dan produktif, karena orientasi menemukan sebuah ‘karya penelitain’ memicu sistem kerja komplek yang berdampak positif bagi perkembangan kecerdasan.
Pembinaan riset bagi peserta didik di SMAIT IQRA’ Kota Bengkulu, telah saya lakukan dan kembangkan sejak awal pembelajaran tahun 2014. Proses pengembangan riset ini di mulai dengan perekrutan calon peneliti dan melakukan pembimbingan penulisan karya tulis ilmiah. Tahap ini dimaksudkan guna meningkatkan kebiasaan membaca peserta didik, khususnya membaca artikel ilmiah dan jurnal penelitian. Mengingat dalam proses menulis karya tulis ilmiah, terdapat beberapa prosedur baku yang harus dipatuhi. Seperti pemilhan referensi yang falid terbarukan, dan bukan hasil plagiasi. Membaca jenis artikel ilmiah juga mengasah tata bahasa peserta didik agar sesuai dengan kaidah bahasa karya ilmiah, yakni lugas, padat, dan menggunakan kalimat efektif.
Kendala terbesar pada tahap awal ini bukan pada ketersediaan pemimbing atau kemudahan mengakses referensi. Tetapi minimnya kemauan peserta didik yang ingin ditempa menjadi seorang peneliti. Oleh karenanya pada proses ini, saya sedikit melakukan ‘pressure’ kepada peserta didik untuk mau menjadi cikal bakal pengembangan aktivitas riset di sekolah. Beberapa peserta didik mulai diperkenalkan dengan aktivitas penulisan karya ilmiah pada semester pertama mereka.  
Masuk semester kedua, peserta didik di perkenalkan dengan aktivitas mengkreasikan gagasan menjadi sebuah bentuk karya nyata. Tahap ini adalah tahap menentukan, karena proses membuat produk riset memiliki tantangan yang lebih tinggi dari menulis karya ilmiah.  Selain energi yang diperlukan tidak sedikit, proses membuat produk penelitian juga memerlukan waktu yang lebih panjang. Khususnya pada kemungkinan terjadinya kesalahan yang dapat berakibat pada pengulangan penelitian, atau mengganti judul penelitian.
Tantangan terbesarnya adalah ketahanan peserta didik yang masih lemah, sehingga pendampingan motivasi guru pembimbing menjadi penting. Tahap ini adalah tahap yang rentan, karena peserta didik menghadapi pekerjaan yang lebih besar dari sebelumnya, bahkan hampir setara dengan aktivitas riset perguruan tinggi. Proses ‘high pressure’ ini berjalan sampai satu semester dengan hasil riset yang belum tampak.
Tahun ajaran baru saat generasi peneliti pertama masuk kelas 11, akhirnya proses riset berjalan lebih cepat. Di awali dengan hadirnya alat Pemurni Air Laut, Sea Eco Electrical penghasil listrik dari air laut, penyiram tanaman otomatis, desain rumah pengantisipasi kebakaran, Society Rotary Evaporator penguap bioethanol, dan Autorecycle Trash Technology. Hadirnya produk-produk riset tersebut menaikkan taraf ‘gengsi’ kegiatan riset di SMAIT IQRA’ Kota Bengkulu. Terlebih saat beberapa produk riset itu menjadi juara di beberapa kompetisi.    

Motivasi yang Bertumbuh
Ketika mengajar English Conversation, beberapa peserta didik terlihat tidak fokus. Beberapa dari mereka menguap, melamun, dan sebagian gelisah dengan berkali-kali mengganti posisi duduk. Padahal kelas  hanya berisi 13 murid dan melingkar di aula. Saya mencoba meminta mereka membacakan dongeng berbahasa inggris yang telah mereka tulis. Hasilnya masih sama. Mereka masih tetap tidak fokus.
Di sesi selanjutnya, saya coba sampaikan kisah para pelajar sukses Indonesia. Beberapa mulai antusias tetapi sebagian besar masih tetap tidak fokus. Sampai di akhir sesi saya memberi tantangan. Bahwa setiap peserta didik dalam kelas EC saya, harus mengajukan sebuah gagasan proyek penelitian, dimana gagasan tersebut akan di bimbing secara khusus serta akan diikutkan untuk mengikuti Indonesian Science Project Olympiad (ISPO). Gagasan bersifat universal, dapat berupa riset teknlogi, IPA, lingkungan, fisika, dan semua bidang eksakta. Semoga hal tersebut menjadi tiket untuk masuk perguruan tinggi juri ISPO, ada Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP). Bahkan bila dilanjutkan di National Young Inventor Award (NYIA), akan mewakili Indonesia di ajang perlombaan inovasi IPTEK dunia yaitu The Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF).
Di akhir sesi tersebut itulah suasana menjadi hidup. Bahkan ketika usai pelajaran, hampir semua peserta didik dengan semangat bergantian menjelaskan inovasi yang ingin mereka buat. Sangat variatif dan menunjukkan tingkat imajenasi yang tinggi. Keesokan harinya, hingga saat ini, peserta didik tersebut bergantian menemui saya di sela istirahat dengan menunjukkan gambar inovasi yang ingin mereka buat. Motivasi mereka tumbuh dengan diberikan kepercayaan untuk berkarya inovasi.
Beberapa kasus serupa juga terjadi sebelumnya. Ketika uji coba proyek ‘Autorecycle Trash Technology’ yakni inovasi alat sederhana pendaur ulang sampah palstik menjadi minyak dan bata bangunan untuk lomba Indonesia Sociopreneur Challenge (ISoC), beberapa peserta didik menghadap saya dan menyampaikan keinginan mengikuti sebuah proyek penelitian. Kalangan tersebut di dominasi oleh peserta didik yang tidak mendapatkan apresiasi khusus untuk diutamakan mewakili sekolah di berbagai kompetisi, juga bukan dari kalangan 10 besar juara di masing-masing kelas. Kasus lebih banyak juga terjadi dimana ketika tengah dilakkan pembimbingan peserta didik untuk mengikuti Lomba Inovasi IPTEK, beberapa peserta didik lain menyaksikan dengan antusias, sebagian membantu, dan lebih banyak menyampaikan keinginan untuk juga memiliki sebuah karya inovasi riset.

Kecerdasan dan Apresiasi Adalah Hak Semuanya
Tidak semua peserta didik mendapat kesempatan untuk mengikuti lomba akademik seperti Olimpiade Sains. Tidak juga semua peserta didik dapat menjadi delegasi untuk kompetisi bidang kesenian dan olah raga. Karena kompetisi tersebut hanya menyaratkan sebagian orang sebagai peserta, dengan kemenangan bersifat individu dan dengan rentang kemenangan 3 digit. Lebih penting lagi, bahwa kompetisi tersebut menghendaki peserta dengan kemampuan akademik di atas kebanyakan pelajar.
Kondisi khusus itu membuat sebagian peserta didik tidak termotivasi untuk bersaing. Karena mereka tau bahwa hanya orang-orang tertentu yang akan mendapat kesempatan. Bila seleksi terbuka diadakan pun, tetap saja orang dengan kemampuan khususlah yang akan terpilih dan mewakili. Secara berkelanjutan, kondisi tersebut menjadi seperti aturan baku. Maka saat peserta didik dengan kemampuan prioritas cadangan dan prioritas akhir menyadari aturan baku tersebut, mereka akan kehilangan motivasi untuk belajar. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut mempengaruhi ‘passion’ selama belajar di sekolah, dan berdampak pada prestasi akademik. Pada tingkat seperti ini, sekolah tidak lagi tempat untuk mengembangkan potensi dan sarana pengembangan diri, malainkan formalitas belajar untuk mengisi waktu keseharian dan menghindari konflik sosial.
Tetapi, pengembangan aktivitas riset di SMAIT IQRA’ Kota Bengkulu adalah sarana pengembangan keterampilan dan prestasi yang berbeda dari kompetisi lainnya. Ia bersifat dapat diikuti oleh semua kalangan peserta didik. Mengingat, dalam riset tidak ada kriteria spesifik yang harus dimiliki oleh peserta didik. Selain itu, ruang kompetisi juga terbuka lebar dan selalu tersedia.
Sifat riset yang terbuka bagi setiap kalangan, akan menghadirkan semangat baru dalam beraktivitas di sekolah. Secara berkala, proses riset juga meningkatkan aktivitas otak peserta didik. Kinerja otak yang aktif tersebut akan merangsang aktivitas fisik dan mencegah peserta didik untuk masuk dalam mode ‘blank’ serta mengarah pada semangat untuk berkarya produktif.
Selain belajar untuk menjadi produktif, peserta didik secara tidak langsung juga sedang membangun karakter positif seorang peneliti. Yaitu jujur, teliti, tekun, tidak pantang menyerah, dan terbuka. Dalam melakukan aktivitas penelitian, seorang peserta didik akan belajar bagaimana harus menyelesaikan suatu proyek dengan maksimal. Ada kala suatu perlakuan dalam penelitian tidak memberikan hasil sesuai yang di harapkan, sehingga harus dilakukan pengulangan berkali-kali. Pada tahap seperti ini, peserta didik akan mengupayakan memperbaiki proses dengan mengamati secara rinci sebab terjadi kesalahan. Proses ini mengajarkan pada peserta didik sikap ketelitian dan ketekunan dalam bertindak.
Boleh jadi, suatu penelitian benar-benar harus dilakukan berulang-ulang. Bahkan sangat mungkin gagal dalam berbagai metode dan harus dimulai dari awal. Tetapi frame berfikir bahwa penelitian harus dituntaskan dan sebagai bagaian dari pembuktian hipotesis, adalah tahapan proses pembentukan dan pengembangan karakter tangguh dan tidak mudah menyerah bagi peserta didik. Keyakinan tersebut ditanamkan kuat menjadi bagaian dari sifat yang berulang hingga melekat menjadi karakter yang mencirikan kepribadian seorang peserta didik peneliti.
Apabila proses penelitian telah mendapatkan hasil, bisa jadi sesuai hipotesis atau tidak, seorang peneliti harus menunjukkannya secara terbuka. Tidak ada manipulasi informasi atau data, karena hasil penelitian itu akan menjadi rujukan keilmuwan bagi sekmen yang lebih luas. Bukankah sebuah penelitian yang baik dan berhasil adalah penelitian yang secara terbuka dilakukan dan bisa dilakukukan ulang oleh orang lain di tempat lain? Hal ini juga mengajarkan bagaimana proses berbagi. Dan sepanjang penulisan laporan penelitian, ada kaidah penulisan ilmiah yang harus di taati. Seperti penggunaan referensi secara benar, pemaparan hasil penelitian yang benar, dan itu semua membutuhkan tingkat kejujuran yang tinggi.

Sarana Baru
Saya meyakini, proses riset pelajar berdampak baik dalam peningkatan motivasi peserta didik. Keunggulan yang diperoleh dalam aktivitas ini, adalah seperangkat metode komplek yang di arahkan untuk memberikan hak berkreasi dan berprestasi yang sama bagi semua kalangan peserta didik. Tanpa mendeskritkan satu tingkat kecerdasan, dan sifatnya demokratis.
Bila sekolah tidak sekedar lembaga pendidikan formal untuk meluluskan pelajar, maka hak setiap peserta didik untuk berkembang harus menjadi prioritas. Aktivitas riset adalah cara untuk membuat suasana menjadi aktif dan produktif dalam lingkungan sekolah. Selain mendididik karakter positif, juga menaikkan kadar partisipasi peserta didik dalam berbagai bidang kompetisi. Keuntungan lain adalah lahirnya karya inovasi peserta didik yang merupakan refleksi nyata hasil pemikiran.
Kita mengapresiasi setiap peserta didik yang melakukan aktivitas riset, karena hadirnya riset di sekolah adalah apresiasi ilmu dalam dunia pendidikan.

SMAIT IQRA' Kota Bengkulu
Bengkulu, November 7th, 2015. 11.14 AM

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…