Langsung ke konten utama

Koalisi Superhero : Sensasi Film Tanpa Rasa


Saya baru saja menyisihkan waktu untuk menyaksikan Batman Vs Superman : Dawn of Justice. Saya masihlah generasi 90 yang pasti kenal betul dengan sosok superhero itu, maka melihat judulnya Batman Vs Superman, saya penasaran bagaimana alur cerita yang mengolaborasikan 2 superhero besutan DC Comic itu. Rasa penasaran itu membuat saya tetap fokus menyaksikan plot demi plot di layar lebar di depan saya. 
Setelah lebih dari 2 jam, akhirnya film usai, dan apa yang saya rasakan ? Speechless, tidak sanggup berkata-kata. Saya takjub dengan efek suara, efek gambar, dan ke gagahan superhero di depan, tapi hanya sebatas itu saja. Hanya nilai bagus dari efek gambar, tokoh, suara. Sementara bekas kesan di hati saya, tidak ada. Saya tidak cukup tersentuh usai menyaksikannya. Kenapa ? 
Hampir sama dengan kesan setelah menyaksikan The Avenger: Age of Ultron besutan Marvel. Saya girang melihat tebaran pahlawan super saling bahu-membahu melawan musuh-musuh tangguh. Saya terpada dengan efek suara, gambar, dan kostum tokohnya. Tapi hanya sebatas itu, saja. Tidak ada kesan khusus. Kenapa ? 
Menurut hemat saya, kekeringan makna dari film hebat yang menyuguhkan koalisi superhero itu karena tenggelamnya alur cerita oleh kecanggihan efek visual. Atau boleh jadi karena tokoh yang diangkat banyak, maka pembagian porsi waktu dan cerita membuat ruang kisahnya menjadi sempit. Atau mungkin juga karena terlalu fokus pada persaingan pasar, maka yang menjadi objek hanya jualan superheronya saja. Bahkan di Dawn of Justice, diberikan waktu untuk mengenalkan superhero wanita 'Wonder Woman' dan 3 superhero lain di salah satu kilasan filmnya. Seakan memberi sinyal bahwa dalam waktu dekat mereka akan membuat sekuel tentang masing-masing superhero dan nanti akan dikolaborasikan lagi menjadi koalisi superhero. Konon Marvel juga akan memasukkan si laba-laba Spiderman ke Avenger juga, sehingga menjadikannya semakin ruarrrbiasa. 
Entahlah apa yang selanjutnya akan tayang, saya berharap kedepannya, saya akan menyaksikan sebuah suguhan film yang tidak kering makna lagi, sehingga paduan tokoh yang kece-kece itu menjadi semakin hidup lagi. Salam Mumi (Mu(o)vie Mania, hehe)

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kesetaraan

Sematan predikat unggul itu, hanya sebuah cermin ketidaksanggupan menyetarakan lingkungan. Semakin dramatis memaknai keberbedaan itu, lalu melakukan tindakan berlebihan dengan sentiasa menyanjung satu sisi, maka semakin tampak ketidaksanggupan mengelola semua dengan baik.

Dalam banyak ajang kompetisi yang melibatkan komunitas mahasiswa yang hetero, terlebih dalam tingkatan nasional, sering terdengar keluhan “Kenapa hanya mahasiswa dari universitas terkemuka yang selalu menjuarai?”, dan saksikanlah seperti ajang bergengsi itu, maka universitas terkemuka yang selalu mendominasi. Bahkan tak heran, banyak universitas yang belum pernah sama sekali masuk sebagai semifinalis.  Atau sekedar sampai mengirimkan perwakilannya dikarenakan telah tumbang sebelum sempat melihat gerbang.
Persoalannya bisa disebabkan dari tingkat kualitas pesertanya yang memang berbedajauh sehingga tidak memenuhi kualifikasi.Atau disebabkan penilaian secara keseluruhan dimana nilai individu dilihat pula dari total peser…

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…