Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Membiasakan Mengapresiasi

...saya ingin menyampaikan pada mereka, mengajarkan, bila mereka menjadi pemimpin kelak, biasakan untuk mengapresiasi. Bukan apresiasi yang disimpan dalam hati, tapi harus ada yang ditunjukkan atau disampaikan, walau sekedar ucapan terima kasih. Boleh jadi mereka tidak mengharapkan atau membutuhkan itu, tapi sebagai pemimpin, sekedar ucapan terima kasih itu adalah wujud penghargaan tinggi akan kerja-kerja hebat mereka. 
Proses mengenalkan dan membiasakan berlaku profesional memang tidak pernah sederhana. Energi yang dikeluarkan selalu sangat besar dengan tantangan yang tidak sebentar. Meski berat, pengenalan karakter profesional menjadi penting untuk persiapan pelajar di studi lanjutnya. Kapasitas tersebut adalah seperangkat karakter yang ditempa dengan intens. Tidak hanya ditempa dengan proses kerja yang berat, tapi juga ditempa dengan apresiasi. Ya, ketika kita mengapresiasi sebuah kerja, selain wujud terima kasih, juga proses pengajaran bahwa apresiasi dan kerja adalah satu paket. 

Berapa Banyak Ide

Hari ini saya berkesempatan menyampaikan materi tentang bagaimana menggali dan menemukan ide pada penulisan cerpen. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu dengan peserta dari pelajar SMA se Kota Bengkulu. Tempat pelatihannya di Aula LPMP Bengkulu. Maka jadilah dari jam 10 sampai 14 saya berbicara soal ide. 
Saya menyampaikan bahwa ide itu hanya seperti abjad saja. Jumlah huruf tunggalnya hanya 26, dari A sampai Z. Kenapa demikian? Ya, karena kemungkinan pilihan dalam kehidupan manusia juga hanya begitu-begitu saja. Misal kisah cinta, pertama kenal, atau kalau tidak kenal ya diabaikan. Lalu menikah, kalau tidak itu pilihan lain hanya tidak menikah. Jika menikah, setelah itu punya anak, atau tidak punya anak. Pernikahan itu bisa jadi akhirnya kandas, atau tetap langgeng. Benang merah kisahnya hanya begitu-begitu saja. 
Inti sari cerita dalam Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah punyanya Tere Liye dengan Ayat-ayat Cinta punyanya Habibburahman El Shirazy  b…

Matinya Seorang Guru

Mereka adalah sekelompok pekerja dengan modal kata dan buku-buku. Selama enam hari dalam sepekan, mereka akan melintasi jalan yang sama di pagi dan sore. Mereka mengisi daftar hadir, mengajar di kelas sepanjang hari, lalu pulang di kala petang. Esok pagi di jalan yang sama dan jam yang sama mereka akan kembali lagi, dengan cara yang sama, dengan aktivitas yang selelu seperti itu saja. Bergulir sepanjang tahun yang sangat panjang, mungkin hingga waktu pensiun atau ajal yang datang. Mereka adalah para guru sekolah. 
Mereka hidup dengan tuntutan yang unik. Kehadiran terlambat akan beresiko sangsi hukum atau pangkas penghasilan, tetapi bila mereka telah berhasil mencapai sesuatu, tidak juga ada reward yang cukup untuk mengapresiasi mereka. Paling hanya ucapan terimakasih di seremonial atau apel pagi, selebihnya kosong. Yah seperti itulah nasib yang akan mereka jalani di periode yang sangat panjang. 
Mereka juga siap dipersalahkan, dan mungkin akan selalu salah. Atas nama HAM mereka hanya…

Kelas-kelas Kosong

Kelas-kelas itu kini lebih sering kosong, padahal dulu selalu penuh. Peralihan jam pelajaran itu kini berarti space waktu kosong untuk bermain, padahal dulu seorang guru pasti telah berdiri di luar kelas bahkan sebelum bel pergantian jam berbunyi. Mereka menunggu dan memastikan tidak ada waktu terbuang untuk pelajaran, karena lima menit sangat berharga. 
Tim kurikulum dulu bahkan sampai diskusi berjam-jam hanya untuk menentukan lama jam pelajaran yang disesuaikan dengan jumlah mata pelajaran. Mengurangi waktu dari 45 menit menjadi 40 menit itu memerlukan sampai dua jam pelajaran untuk berdebat, tentu dengan sebagian yang terpaksa menerima. Tapi kini, bahkan serasa proses belajar kelas hanya 30 menit, bahkan kurang, untuk sebutan satu jam pelajaran, dan semakin biasa. Mana upaya semangat menentukan durasi pelajaran itu? Milik siapa kini? 
Kelas-kelas itu kini lebih sering kosong, lalu saya berfikir kenapa lebih sering kosong. Siapa yang berperan dalam kekosongan kelas, apakah murid, a…

Manajemen Kritik

Saya menginisiasi membuat sebuah angket evaluasi yang di bagikan ke 200 orang tentang tanggapan mereka terhadap sebuah kerja sistem organisasi. Semua koresponden adalah orang yang pernah merasakan keterlibatan dengan organisasi  secara langsung, sehingga pasti mereka dapat memberikan masukan berdasar pengalaman yang mereka miliki.

Secara garis besar, angket terdiri dari pertanyaan dengan dua kolom isian, kolom pertama adalah kolom masukan terhadap hal-hal yang harus diperbaiki (red; kritik) dan kolom ke dua adaalaah kolom masukan terhadap hal yang harus ditingkatkan (red; apresiasi positif). Jumlah kolom jawaban sama berpasangan untuk setiap pertanyaan, sehingga setiap pertanyaan adalah seimbang.

Setelah beberapa waktu, angket ditarik untuk dianalisis. Yang saya lakukan adalah memilih angket layak baca dan layak abai. Angket layak baca adalah angket yang isinya akan saya pertimbangkan sebagai masukan utama. Sementara angket layak abai hanya akan menjadi angket cadangan untuk mengetah…