Langsung ke konten utama

Berapa Banyak Ide


Hari ini saya berkesempatan menyampaikan materi tentang bagaimana menggali dan menemukan ide pada penulisan cerpen. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu dengan peserta dari pelajar SMA se Kota Bengkulu. Tempat pelatihannya di Aula LPMP Bengkulu. Maka jadilah dari jam 10 sampai 14 saya berbicara soal ide. 

Saya menyampaikan bahwa ide itu hanya seperti abjad saja. Jumlah huruf tunggalnya hanya 26, dari A sampai Z. Kenapa demikian? Ya, karena kemungkinan pilihan dalam kehidupan manusia juga hanya begitu-begitu saja. Misal kisah cinta, pertama kenal, atau kalau tidak kenal ya diabaikan. Lalu menikah, kalau tidak itu pilihan lain hanya tidak menikah. Jika menikah, setelah itu punya anak, atau tidak punya anak. Pernikahan itu bisa jadi akhirnya kandas, atau tetap langgeng. Benang merah kisahnya hanya begitu-begitu saja. 

Inti sari cerita dalam Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah punyanya Tere Liye dengan Ayat-ayat Cinta punyanya Habibburahman El Shirazy  bila ditilik sebagi cerita dengan genre cinta, pada dasarnya sama. Buku motivasi Laskar Pelangi dengan Negeri 5 Menara juga sama, mengisahkan orang yang menggapai cita-cita. Karena siklus dasanya memang hanya seperti itu saja. Kemungkinannya selalu 2, kalau tidak hidup ya mati, kalau tidak langgeng ya putus, kalau tidak berhasil ya gagal. 

Karena dasar ide itu hanya sedikit, maka kekuatan ide yang dapat dikembangkan ketika hendak menulis  adalah dengan memasangkan pola abjad itu. Satu cerita polanya bisa AFGJ, satu cerita polanya bisa JKLY, satu cerita polanya bisa DFGH, dan lain seterusnya. Seperti itu saja proses mengembangkan gagasan. Kita yang menentukan kolaborasi ide dasar apa yang akan digunakan, hingga menjadi kisah utuh yang layak dibacakan. 

Itu adalah salah satu potongan materi yang saya sampaikan, semoga dapat sedikit memberikan pencerahan, dan semoga saya berkesempatan menuliskan potongan materi lain dari sesi mengisi materi saya di dua hari ini. 

Salam Akselerasi.

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…