Langsung ke konten utama

Kelas-kelas Kosong


Kelas-kelas itu kini lebih sering kosong, padahal dulu selalu penuh. Peralihan jam pelajaran itu kini berarti space waktu kosong untuk bermain, padahal dulu seorang guru pasti telah berdiri di luar kelas bahkan sebelum bel pergantian jam berbunyi. Mereka menunggu dan memastikan tidak ada waktu terbuang untuk pelajaran, karena lima menit sangat berharga. 

Tim kurikulum dulu bahkan sampai diskusi berjam-jam hanya untuk menentukan lama jam pelajaran yang disesuaikan dengan jumlah mata pelajaran. Mengurangi waktu dari 45 menit menjadi 40 menit itu memerlukan sampai dua jam pelajaran untuk berdebat, tentu dengan sebagian yang terpaksa menerima. Tapi kini, bahkan serasa proses belajar kelas hanya 30 menit, bahkan kurang, untuk sebutan satu jam pelajaran, dan semakin biasa. Mana upaya semangat menentukan durasi pelajaran itu? Milik siapa kini? 

Kelas-kelas itu kini lebih sering kosong, lalu saya berfikir kenapa lebih sering kosong. Siapa yang berperan dalam kekosongan kelas, apakah murid, apakah guru, tapi tentu lebih sering guru. Karena seperti itulah kewajiban guru. Mentransfer ilmu, mengolah nilai, dan menjaga sikap. Tidak ada hak untuk protes, bila ada murid yang berlaku hiper, guru menasihati, lalu bila nasihat itu diabaikan, maka selesai sudah kewajiban. Apa lagi yang dapat dilakukan kan? Saya sering berfikir, kenapa guru harus selalu pada posisi tunduk. Kepada sistem sekolah, mereka tunduk. Kepada sikap murid yang keterlaluan, mereka tunduk. Di lain waktu, waktu libur mereka terlalu sering direnggut.

Ya, mungkin saja kekosongan kelas itu karena gurunya sudah mulai lelah. Mereka leelah dengan berbagai tuntutan. Sepanjang pagi hingga petang harus terus berada di sekolah. Di waktu libur semester, di hari cuti negara, secara ajaib undangan pelatihan dengan kop `WAJIB` dan seribu ancaman melayang. Kapan mereka akan libur? Kenapa harus selalu dipaksakan meenyelesaikan tuntutan, tanpa ada kata terimakasih dan maaf. Mereka guru, atau panci dengan tekanan tinggi? Mereka juga berhak lelah, kan?

Kelas-kelas itu kini lebih sering kosong, lalu saya berfikir kenapa lebih sering kosong. Siapa yang berperan dalam kekosongan kelas, dan bahkan bila sudah pasti kosong, apa kah kekosongan itu menjadi masalah yang serius? Jika iya, siapa yang beratnggung jawab memperbaiki masalah tersebut. Saya, mereka para guru, atau kamu yang duduk di posisi tinggi?

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…