Langsung ke konten utama

Manajemen Kritik


Saya menginisiasi membuat sebuah angket evaluasi yang di bagikan ke 200 orang tentang tanggapan mereka terhadap sebuah kerja sistem organisasi. Semua koresponden adalah orang yang pernah merasakan keterlibatan dengan organisasi  secara langsung, sehingga pasti mereka dapat memberikan masukan berdasar pengalaman yang mereka miliki.

Secara garis besar, angket terdiri dari pertanyaan dengan dua kolom isian, kolom pertama adalah kolom masukan terhadap hal-hal yang harus diperbaiki (red; kritik) dan kolom ke dua adaalaah kolom masukan terhadap hal yang harus ditingkatkan (red; apresiasi positif). Jumlah kolom jawaban sama berpasangan untuk setiap pertanyaan, sehingga setiap pertanyaan adalah seimbang.

Setelah beberapa waktu, angket ditarik untuk dianalisis. Yang saya lakukan adalah memilih angket layak baca dan layak abai. Angket layak baca adalah angket yang isinya akan saya pertimbangkan sebagai masukan utama. Sementara angket layak abai hanya akan menjadi angket cadangan untuk mengetahui respon umum yang hasilnya tidak akan saya proses secara khusus untuk kepentingan analisis data. Saya kira pembagian prioritas itu cukup adil, untuk menelaah mana yang layak diperhatikan atau mana angket yang hanya sekedar isi.

Indikator angket layak baca adalah bila jumlah isian dalam kolom kritik sama dengan kolom apresiasi, atau jumlah kolom kritik lebih sedikit dari isian di kolom apresiasi. Tentu ini tidak sekedar indikator, jauh sebelum itu saya telah melakukan analisis kinerja dan sistem organisasi sehingga saya punya pandangan apa saja yang harus diperbaiki dan apa saja yang baik. Informasi tersebut saya rangkum dengan mengambil sudut pandang berbagai pihak, semoga upaya ini akan membuat keputusan dan penilaian saya lebih objektif.
                                                                                           
Saya tidak akan menjelaskan seperti apa hasil analisis angket tersebut, tapi menjelaskan kenapa saya membagi indikator berdasarkan keterisian pada kolom kritik dan apresiasi. Sederhananya, saya beranggapan bahwa seorang kritikus yang baik adalah orang yang paling pandai mengapresiasi. Semakin seseorang tahu bagaimana cara mengapresiasi orang lain, kritikan yang dia ucapkan adalah hal yang murni membangun dan objektif. Sementara mereka yang hanya pandai mengkritik tanpa pernah mengapresiasi, berarti juga memiliki masalah dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri. Pembicarannya hanya keluhan dan ungkapan kekecewaan, isi pembicaraan yang demikian sangat tidak layak untuk diprioritaskan.  
                                                                                                           
Tentu saja ini hanya anggapan saya pribadi. Tapi memang saya sering menemukan, lebih banyak orang dengan kapasitas ilmu rendah dan kualitas pemikiran buruk, hanya mengisi kesehariannya dengan menghujat dan mengutuki sekitarnya. Pada yang demikian saya sering gagal memikirkan secara logis. Saya beri contoh, ada seorang yang setiap hari hanya bicara soal Negara Indonesia yang bobrok. Hari ini bicara keburukan perintah, besok bicara parahnya pendidikan, besoknya kebijakan, besoknya memaki negara karena kebudayaannya diambil orang lain. Tipe ini di ibaratkan sebagai seorang yang setiap hari memaki nasi tapi sambil memaki nasi sambil tetap memakan nasi. Atau setiap hari dia memaki rumahnya yang bocor, tapi hanya memaki, padahal itu adalah rumahnya.
Gagal paham, ya pastinya. Makanya, agar kritikan tidak mengungkapkan kebodohan kita, kita harus belajar dan membiasakan diri untuk memanajemen kritik. Tahap paling dasar adalah belajar mengapresiasi dan menghargai orang lain. Sekedar mengucapkan terimakasih kepada rekan yang sering membantu, kepada bawahan yang telah banyak berupaya membangun lembaga, itu akan menaikkan kredibilitas kita dan kepercayaan bagi lainnya. Belajar mengapresiasi juga belajar memberikan penghargaan pada upaya baik sekecil apapun, dan belajar berfikir positif terhadap berbagai hal yang terjadi di sekeliling. Sehingga waktunya dipenuhi dengan prasangka baik.

Setelah seseorang telah pandai menghargai dan mengapresiasi, ia akan peka terhadap bahasa dan tau kapan memberikan masukan dengan tutr yang baik. Kepekaan itu yang membuat kritiknya adalah hal serius dan perlu diprioritaskan. Mereka dapat melihat kertas putih yang luas dari satu titik hitam ditengahnya.

Mari belajar mengritik produktif,
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…