Langsung ke konten utama

Matinya Seorang Guru


Mereka adalah sekelompok pekerja dengan modal kata dan buku-buku. Selama enam hari dalam sepekan, mereka akan melintasi jalan yang sama di pagi dan sore. Mereka mengisi daftar hadir, mengajar di kelas sepanjang hari, lalu pulang di kala petang. Esok pagi di jalan yang sama dan jam yang sama mereka akan kembali lagi, dengan cara yang sama, dengan aktivitas yang selelu seperti itu saja. Bergulir sepanjang tahun yang sangat panjang, mungkin hingga waktu pensiun atau ajal yang datang. Mereka adalah para guru sekolah. 

Mereka hidup dengan tuntutan yang unik. Kehadiran terlambat akan beresiko sangsi hukum atau pangkas penghasilan, tetapi bila mereka telah berhasil mencapai sesuatu, tidak juga ada reward yang cukup untuk mengapresiasi mereka. Paling hanya ucapan terimakasih di seremonial atau apel pagi, selebihnya kosong. Yah seperti itulah nasib yang akan mereka jalani di periode yang sangat panjang. 

Mereka juga siap dipersalahkan, dan mungkin akan selalu salah. Atas nama HAM mereka hanya akan menjadi buruh-buruh tak berdaya. Bila seorang murid membandel, mereka hanya akan menasihati. Sekali lagi membandel, sekali lagi menasihati. Diulang lagi membandel, mereka memilih tidak peduli. Saya sepakat bahwa guru harus memilih kepada siapa mereka harus peduli. Dari pada menghabiskan energi untuk anak-anak yang tidak suka diarahkan, lebih baik meningkatkan efisiensi penggunaan energi untuk mereka yang punya minat berkembang. Abaikan saja orang-orang yang tidak mau diurus itu, lihatlah orang lain yang lebih punya potensi berkembang. 

Kembali lagi kepada kisah mereka yang menyedihkan itu. Yang sepanjang hari melalui jalan yang sama di waktu yang sama. Pahlawan yang kehilangan passion dan berevolusi menjadi robot-robot angka. Ya, saya tidak suka mengatakan bahwa guru adalah pahlawan dengan jasa. Gelar pahlawan tersebut hanya pantas diberikan peda mereka yang belum berevolusi menjadi robot pencari gaji. Hanya untuk ketulusan mengabdi dan harapan yang tak putus. (Bahkan saya juga malu dengan ini). 

Untuk mereka yang walau bagaimana pun akan dikata tetap hanya akan melintasi jalan yang sama di waktu yang sama, yang tidak lagi punya pilihan untuk memilih cara lain, memiliki target atau cita-cita untuk di kejar adalah alternatif untuk membuat menjadi hidup. Karena matinya seorang guru  apabila ia tidak lagi punya target untuk di kejar. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…