Langsung ke konten utama

Membiasakan Mengapresiasi


...saya ingin menyampaikan pada mereka, mengajarkan, bila mereka menjadi pemimpin kelak, biasakan untuk mengapresiasi. Bukan apresiasi yang disimpan dalam hati, tapi harus ada yang ditunjukkan atau disampaikan, walau sekedar ucapan terima kasih. Boleh jadi mereka tidak mengharapkan atau membutuhkan itu, tapi sebagai pemimpin, sekedar ucapan terima kasih itu adalah wujud penghargaan tinggi akan kerja-kerja hebat mereka. 

Proses mengenalkan dan membiasakan berlaku profesional memang tidak pernah sederhana. Energi yang dikeluarkan selalu sangat besar dengan tantangan yang tidak sebentar. Meski berat, pengenalan karakter profesional menjadi penting untuk persiapan pelajar di studi lanjutnya. Kapasitas tersebut adalah seperangkat karakter yang ditempa dengan intens. Tidak hanya ditempa dengan proses kerja yang berat, tapi juga ditempa dengan apresiasi. Ya, ketika kita mengapresiasi sebuah kerja, selain wujud terima kasih, juga proses pengajaran bahwa apresiasi dan kerja adalah satu paket. 

Setelah kami berjibaku dengan sangat hebat dan menyelesaikan secara kilat 20 naskah proposal penelitian untuk ajang LKIR LIPI, dua hari kemudian saya carikan waktu untuk mengumpulkan mereka di laboratorium. Mereka telah melakukan hal hebat. Belum selesai Ujian Tengah Semester, mereka saya berikan tugas untuk menyelesaikan proposal penelitian dan mengirimkannya di detik terakhir. Tidak sampai 3 hari mereka menyelesaikan semua proses itu. Boleh lah saya kata bahwa kapasitas kerja dari tekanan mereka hampir mirip dengan mahasiswa, atau bagi sebagian mahasiswa pasti lebih tinggi. Maka seperti ucapan terima kasih, saya harus mengapresiasi kerja mereka. 

Ya, kami berkumpul kembali di laboratorium. Tidak cukup sepesial memang, dengan ucapan terima kasih saya kepada mereka yang telah berjuang. Tertawa pada diri kami sendiri yang mengulangi kesalahan yang sama, yang selalu saja terburu buru di buru deadline. Atau sekedar minum es manis murahan bersama-sama, sesuai kapasitas dompet saya. Saya bahkan tidak tau apa yang dapat cukup menggantikan perasaan terima kasih saya itu, maka izinkanlah agar meski sekedar berucap, itu adalah bagian hati yang dipenuhi kebahagiaan dan kesyukuran.

Boleh jadi, semua ucapan itu masih sangat rendah, atau dengan segelas jus murahan juga tidak sanggup mengimbangi kerja mereka. Tambah lagi bahwa tidak ada jaminan apa yang mereka buat kelak akan menjadi pemenang. Namun, selain apresiasi itu, saya ingin menyampaikan pada mereka, mengajarkan, bila mereka menjadi pemimpin kelak, biasakan untuk mengapresiasi. Bukan apresiasi yang disimpan dalam hati, tapi harus ada yang ditunjukkan atau disampaikan, walau sekedar ucapan terima kasih. Boleh jadi mereka tidak mengharapkan atau membutuhkan itu, tapi sebagai pemimpin, sekedar ucapan terima kasih itu adalah wujud penghargaan tinggi akan kerja-kerja hebat mereka. Mengapresiasi juga bagian dari syarat penting kepemimpinan efektif. Bentuk menjadi hubungan seimbang dan harmonis. 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…