Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Apa Peduli Saya Soal Fahri Hamzah

Cukup banyak rekan saya bertanya, menyoal kasus FH dengan PKS. Sebagian mereka bertanya dengan harapan saya akan mengatakan bahwa saya pun tidak sepakat soal pemecatan yang dramatis itu. Tapi diluar dari ekspektasi mereka, saya menjawab bahwa saya tidak begitu peduli soal kasus itu. Bagi saya itu kasus yang sama seperti dengan yang lainnya. Dan secara pribadi saya tidak tau alasan kenapa saya harus melatakan kepedulian dan pembelaan saya kepada FH. Mereka tanya kenapa, saya balik menjawab kenapa saya harus peduli.
Ya, dimana pentingnya kepedulian saya untuk kasus FH. Apakah dengan saya menunjukan kemarahan saya akan keputusan itu lantas dunia akan berubah dan kondisi akan seperti semula? Saya kira bahkan rasa peduli itu tidak memberikan efek apapun. Lalu bila ada yang marah soal argumen saya ini, saya kembali bertanya, apakah ada jaminan bahwa FH berada di jalur yang murni benar dan terzalimi sehingga saya harus membela itu? Ada yang bisa menjelaskan dengan alasan yang valid, bukan a…

Rupanya Setinggi Ilmu Pun Tetap Manusia

Saya kira ketinggian usia, keluasan ilmu, dalam perspektif pribadi dan penilaian saya tentunya, akan membuat seseorang selalu lebih terbuka dalam memberikan pandangan, khususnya berkenaan dengan cara pandang terhadap laku orang lain. Rupanya patokan seperti itu juga tidak dapat digunakan. Manusia, bagaimanapun tetap akan menggunakan standar persepsi pribadinya dalam menilai, kebanyakan seperti itu. Standar tersebut berakar dari latar suka dan tidak suka. Bila telah tidak suka, maka akan tetap tidak suka, dan bila suka akan memaklumi setiap kesalahan. 
Realitas ini pahit, tidak menyenangkan, atau mungkin membudaya. Di satu sisi saya juga malu juga, bahwa saya sering pula mengambil putusan berdasarkan prasangka yang itu muaranya dari kesukaan dan ketidaksukaan. Menyadari yang demikian membuat saya harus berpikir dengan sangat lama, bagaimana bisa subjektifitas itu masih membelenggu sementara ilmu dan pengalaman harusnya telah melerai. Lebih pahit karena dimata kita, orang yang berilmu …

Apa Yang Saya Pelajari Malam Ini?

Di malam Launching Komunitas Ambin, saya menemukan begitu banyak inspirasi. Menyaksikan sebuah pertunjukan sama artinya dengan membenamkan diri ke dalam sungai inspirasi. Terbayang di kepala saya apa saja yang akan saya lakukan di depan nanti. Sebuah tekad, ya sesuatu tantangan baru untuk saya dengan status sebagai seorang pendidik. 
Saya telah mengembangkan aktivitas riset di sekolah, menyenangkan dengan tantangannya sendiri. Dan kenapa tidak saya mengembangkan seni pertunjukan di sekolah? Ya, mungkin saya telah memulai sebelum saya menyadari. Dengan mengajarkan teknik dasar pengambilan video, mengedit video, hingga membuat sebuah film pendek, saya kira itu seni, dan sudah tampak. Satu komunitas seni sekolah telah pula hadir, kami beri nama komunitas sinematografi iqra. Sekelompok anak yang menyukai dunia broadcast, mengikuti berbagai perlombaan pembuatan video pendek, atau sekedar membuat video pendek untuk dinikmati bersama. 
Itu menyenangkan, tapi ada yang belum dan masih belum b…

Begini Rasanya Gabung Dengan Komunitas Seni

Ini adalah pertama kali saya bergabung dengan komunitas seni. Semasa SMA, saya pernah tampil untuk seni membaca cerpen, membaca puisi, sesekali mencoba monolog, pernah pula saya menari tarian daerah di sebuah kegiatan. Singkat kata, saya telah menyukai dunia seni sejak lama. Saya selalu riang melihat pertunjukan seni tari daerah, seni teater, membaca puisi, karya lukisan, dan banyak lagi. Seni bahkan seperti menjadi bagian dalam diri saya. 
Ketika masuk perguruan tinggi, saya banting stir mengurangi dunia pertunjukan. Tak lagi saya membaca puisi, monolog, membaca cerpen, yang ada saya suka dunia ilmiah. Saya meleburkan diri dalam dunia menulis ilmiah, masuk gerbang penelitian, menggandrungi karya riset terbaru, membaca jurnal inovasi kreatif, semua dunia saya mengarah pada dunia saintifik, atau saya arahkan untuk memutar haluan. Tapi saya tetap menyukai seni pertunjukan, meski tak lagi punya kesempatan untuk tampil dan tidak lagi memiliki prioritas baik untuk itu. 
Kemudian rekan rek…

Malam Launching Komunitas Ambin

Cinta, cipta, dan karya. Pada hakekatnya seni menghaluskan perasaan manusia. Dengan seni ekspresi rasa semakin berbudaya. Karena itulah kami bergabung di Komunitas AmBin. Seni adalah sesuatu yang alamiah pada manusia dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupannya. Seni merupakan kecakapan akal batin manusia yang memiliki unsur unsur kehalusan, kepekaan kecermatan dan keindahan yang dapat menyentuh dan menggugah perasaan. Kehidupan tanpa seni adalah kehidupan yang gersang dan manusia manusianya akan menjadi kaku dan kurang berperasaan dalam melakukan interaksi satu sama lain. Seni sangat penting karena dapat menghaluskan perasaan.
Komunitas AmBin terbentuk berdasarkan filosofi bahwa mengambin atau menggendong adalah aktifitas mencintai, menyokong, mengangkat dan merawat. Sebagai sebuah komunitas seni,  AmBin merupakan kumpulan orang orang yang beraktifitas seni dalam semangat cinta, saling membahu, saling memberi kekuatan untuk semakin baik dan saling menjaga.
~Diana Gustina, …

Orang Dungu Itu Nyinyir

Saya sangat menghargai sebuah karya seni. Entah berupa karya rupa, tulis, atau pertunjukan. Kenikmatan lain juga adalah bicara proses, saya juga membiasakan untuk dapat selalu menghargai proses dalam menuju sebuah karya itu. Sehingga kemarahan saya apabila ada orang yang mencemooh sebuah karya kreasi, sementara dirinya tidak punya kapasitas untuk membuat yang lebih baik, bahkan membuat yang sama baiknya pun tidak. Bagi saya itu bukan kritik, tapi cemooh. Kritik masukan itu disampaikan dengan bahasa diplomatis dan membangun, cemooh itu adalah hinaan dari orang yang tidak punya kapasitas.
Ciri paling tampak dari golongan orang tak berkapasitas tapi suka sekali berkomentar ala pakar itu adalah ketidak mampuan mereka menikmati karya manusia. Mereka kehilangan definisi dan rasa dari proses membuat keindahan. Mereka disibukkan dengan pembenaran kosong pada opini yang mereka kuatkan. Meski keberadaan mereka tidak terlalu penting, atau saya terbiasa mengabaikan mulut mereka, tapi saya sangat…

Tinggalkan Kelas Lalu Bermain, Kenapa Tidak ?

Proses pembelajaran di sekolah adalah seperangkat kegiatan yang didesain secara formal dan kaku. Boleh saya benarkan, berada di sekolah seperti pula berada di penjara. Siswa belajar rutin, harus mengerjakan ujian dengan baik, waktu libur diatur, waktu istirahat diatur, didalamnya ada beragam sanksi, juga ada beragam apresiasi. Tidak hanya bagi siswa, bagi guru pun sekolah juga dapat menjadi seumpama penjara. Setiap bulan akan datang tim supervisi dari dinas pendidikan setempat, menanyakan administrasi pembelajaran dari yang berat sampai yang remeh temeh. Menanyakan bagaimana progres pembelajaran, setiap akhir semester mengolah nilai yang sangat banyak, di awal tahun ajaran sudah harus menyiapkan perangkat pembelajaran yang akan ditanya dengan garang oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.
Karenanya lembaga pendidikan seperti sekolah, benar-benar menjadi desain belajar formal yang syarat dengan tekanan. Didalamnya terhimpun banyak orang dengan kepala menunduk memerhatikan pelajara…

AmBin: Bukan Komunitas Seni Biasa

Manusia dianugerahi intuisi untuk merasakan keindahan. Intuisi itu mengarahkan manusia untuk terus mencari sumber keindahan, dan sebagian bahkan mengaryakan sesuatu sehingga menjadi indah. Keindahan itu bahkan menjadi kebutuhan, dimana bila keindahan itu gagal terbentuk, akan langsung berpengaruh pada psikologi manusia. Meski definisi keindahan juga sangat relatif, tetapi konsep manusia yang menyukai keindahan adalah fitrah, dan itulah akar kenapa kemudian manusia mengenal seni. 
Seni menjadi upaya bagi manusia untuk mengreasikan keindahan. Sebuah karya seni adalah karya yang dibangun dengan indah untuk dinikmati manusia. Menikmati karya seni berarti menikmati keindahan, didalamnya ada ruh yang kuat yang membuat manusia menjadi lebih nyaman. Seni adalah keindahan, seni adalah kebutuhan, barangkali itulah definisi saya terhadap seni. 
Minat yang tinggi pada seni itu yang mengantarkan saya sampai pada tempat-tempat yang menggugah. Membuat saya bertemu dengan banyak orang yang memiliki …

Seberapa Berani LIPI Tunjukan Pilihan Itu ?

Meski  baru bergabung dengan dunia penelitian remaja sekolah, saya membaca begitu banyak kegelisihan yang dialami oleh ratusan atau bahkan ribuan guru pembina riset se Indonesia. Khususnya dalam hal kompetisi bergengsi bagi pelajar yang secara rutin dihelat serta melahirkan sosok-sosok peneliti muda berkelas dunia. Ini menjadi catatan menarik, bahkan membuat saya malu sendiri. Saya yang sering dilibatkan untuk mengisi pelatihan ke penulisan ilmiah, menjadi juri berbagai perlombaan karya ilmiah pelajar dan mahasiswa di provinsi saya, tapi saya gagal mengantarkan anak didik saya masuk sebagai nominasi di dalamnya. Salah satu kompetisi itu adalah Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang di adakan setiap tahun oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 
Tahun ini adalah tahun ke 2 saya mengirimkan naskah anak didik dari sekolah saya untuk mengikuti LKIR LIPI. Tahun 2015 saya memang tidak tahu soal kompetisi semacam ini, sebab saya baru menyandang status pengajar di sekolah tempat saya …

Izinkan Saya Terus Bicara

Entah sejak kapan, saya memiliki definisi kepemimpinan dengan cara lain. Bagi saya, penghormatan saya kepada seorang pemimpin bukan seperti saya akan hadir dengan menepuk pundak atau tersenyum ramah. Makanya saya selalu tidak suka, bila seorang sahabat baik saya menjadi pemimpin dan saya dalam posisi terpimpin. Karena sekali saya menganggapnya pemimpin, saya akan terus menyalak dengan taring yang melukai. Saya menjadi sangat sarkastis soal itu. 
Kepada seluruh sahabat baik, dimana kita bersama dalam hubungan pemimpin dan saya adalah bagian yang dipimpin, mohon maaf bila saya terus menyalak. Saya terus berharap bahwa saya tidak pernah dalam satu sistem kepemimpinan dengan orang yang baik dengan saya, karena saya selalu saja melakukan hal sama, yaitu melukai hati-hati pemimpin saya. 
Saya membuat setandar kepemimpinan dengan cara saya, saya beranggapan seorang yang saya akui sebagai  pemimpin adalah  orang dengan kapasitas dan potensi kepemimpinan tinggi. Lalu barangkali karena saya ju…

Mewawancara Wakil Gubernur?

Mereka mengeluhkan kenapa sekolah mereka tidak punya majalah sekolah. Mereka berinisiatif untuk membuat sebuah majalah. Boleh jadi andai nanti majalah itu jadi, mungkin akan menjadi majalah pertama dan terakhir, karena bicara majalah berarti bicara juga soal aturan dan tenggat. Seperti jangka penerbitan yang teratur yang membuat para redaksinya harus berjuang keras.
Masalahnya mereka adalah pelajar yang 5 hari dalam satu pekan akan belajar dari jam 7 pagi hingga 4 sore, bahkan sampai lebih sore jika sedang ada tugas atau kegiatan lain. Mereka juga punya kewajiban lain selain hanya belajar mata pelajaran umum di sekolah, mereka punya tugas rumah, mereka punya rencana pribadi, mereka punya kehidupan di luar sekolah dengan berbagai kewajiban juga. Intinya bagi saya, mereka adalah pelajar yang sibuk. 
Meski sejujurnya saya meragukan di awal, tapi saya harus memberikan hak yang sama, bahwa bila mereka berinisiatif sebuah terobosan, saya berkewajiban mendengar dan mengupayakan untuk implem…

Bagaimana Cara Memperhatikan Semua Anak ?

Dalam Suasana senggang di Masjid Ja`far Bin Abi Thalib, kami duduk melingkar mengobrol dengan santai. Menunggu waktu asar yang sekitar sepuluh menit lagi masuk. Tanggung juga bila saya kembali ke kantor, makanya kami mengobrol santai saja akhirnya. 
Ada pertanyaan yang menggelitik saya, disampaikan oleh seorang siswa kepada saya. Kenapa guru itu tidak pernah mengerti perasaan kami? Tanyanya. Tentu saya cukup terkejut. Bukan disebabkan esensi pertanyaannya yang diajukan, karena saya tahu pasti saya juga dulu sering bertanya seperti itu sewaktu masih sekolah. Saya terkejut dalam artian kaget, akhirnya ada juga yang berani menyampaikan pertanyaan ini secara terbuka. Bagi saya itu keberanian yang layak diapresiasi. Bukankah mendengar kitik itu selalu membawa diri ke pada kondisi muhasabah, introspeksi, untuk dijadikan bekal memperbaiki. Tentu dengan kriteria pengkritik yang layak.
Saya minta agar diperjelas dengan contoh kasus, karena definisi `mengerti` atau `pengertian` itu masih sanga…

Kepatuhan Kepemimpinan Tidak Berarti Tunduk

Saya kerap menemukan contoh dimana pegawai atau bawahan sering terposisikan sebagai pekerja. Konteks ini berlaku di dunia kerja dengan lembaga yang terstruktur secara formal. Berbeda dengan bentuk kepemimpinan dalam sebuah organisasi non profit, kepemimpinan dalam lembaga profit atau lembaga usaha terikat dengan perhitungan upah kerja. Sementara organisasi yang dibangun tanpa perhitungan upah kerja terkait pada tujuan yang dikejar secara bersama. 
Karena bentuknya berbeda, maka keluaran kepemimpinan dan cara mengelola lembaga seorang pemimpinnya pun berbeda. Lembaga formal usaha sering lebih kaku, sementara lembaga non profit lebih santai dengan tingkat penghormatan dan kerja sama yang tinggi. 
Saya menemukan contoh perilaku yang menarik, dalam lembaga formal, pegawai adalah orang yang harus bekerja untuk tujuan tertentu, dan sering tidak merasa berhak untuk mencampuri soal target usaha. Mereka hanya bekerja dengan diam, mematuhi perintah dengan baik, dan harus berpikir ulang untuk s…

Tantangan Lebih Besar, Sudah Siap Kah?

Mereka baru menyelesaikan video pendek mereka. Akhirnya 8 film pendek dan 4 video story telah mereka buat. Dengan periode pembuatan tidak lebih dari 1 minggu kebanyakan, bahkan ada yang hanya 1 hari saja. Saya pikir ini akan menjadi pembelajaran yang sangat baik. Mereka menempatkan diri sebagai seorang sineas profesional, dengan kejar target kompetisi, kualitas yang diperhatikan, proses pengambilan gambar yang tidak sederhana, serta editing sebagai bagian akhir dari proses produksi. 
Saya ucapkan selamat dan apresiasi yang tinggi untuk mereka. Barang kali ini pertama bagi kami mengirimkan jumlah peserta video pendek terbanyak, dimana sebelumnya paling hanya 2 tim saja. Sekarang sampai 6 tim dengan lebih dari 20 peserta didik terlibat proses produksi, dan lebih banyak lagi terlibat dalam pengambilan gambar sebagai pemeran. 
Saya juga bahagia, rupanya apa yang dulu pernah saya coba kenalkan, kemudian berkembang dengan baik bagi beberapa orang. Bila dulu saya mengatakan bahwa mengajari …

Merefleksi Proses

Apa yang paling menyedihkan bagi seorang guru bila melihat anak didiknya yang telah berjuang dengan sangat baik, namun akhirnya belum berhasil. Kesedihan itu tidak sama dengan jika kegagalan itu adalah milik kita saja atau hanya kegagalan kita secara individu. Ketika kita mengajak, mendampingi, lalu terus memacu sebuah kerja, membersamai sepanjang proses berkompetisi, bersama sama menunggu hasil usaha, hingga kemudian hasil tidak sama dengan ekspektasi, di sana saya tahu ada kewajiban lain seorang pelatih dan pembina, yaitu menjadi kakak yang akan merangkul adiknya ketika diliput duka dari kegagalan. 
Pasti ada di sebagian hati kecil mereka, anak-anak tersebut, yang akan mengutuki proses. Menyalahkan karena telah menggunakan sebagian besar waktu, bahkan materi, dan ada juga yang mungkin telah membatalkan agenda lain hanya untuk kompetisi tersebut. Rasa sesal tersebut akan menyinggung rasionalitas dan ego, hingga mungkin akan membuat mereka menyalahkan lingkungannya. 
Itu sah saja, bo…

Masih Lagu yang Sama

Sekitar tahun 2009, entah bagaimana caranya saya sampai pada sebuah acara bertajuk Silaturahmi dan Halal Bihalal di akhir agustus. Tempatnya di Benteng Malborough. Sebagai anak baru, saya masih terus mempertanyakan bagaimana bisa saya berada di tempat dan acara itu. Saya tidak secara khusus dikenal dengan orang orang yang ada di tempat tersebut. Kalaupun saya yang mengenal orang di sana, saya pastikan bahwa mereka tidak mengenal saya. 
Bersama seorang sahabat saya, kami mengikuti acara sepanjang 3 jam tersebut. Duduk di belakang dengan malu malu, tidak sama dengan lainnya dimana datang bersambut akrab, saling sapa, sesekali tawa canda. Meski serasa begitu asing, tapi suasananya benar-benar hangat dan akrab. Sederhana, namun begitu hikmat. Akhirnya sepanjang acara tersebut kami hanya duduk manis, sesekali berbisik-bisik di antara kami saja. 
Bagian paling baik dari agenda tersebut, yang tidak dapat saya lupakan adalah saat semua berdiri dari kursi mereka. Berdiri dengan rapi. Alunan d…