Langsung ke konten utama

AmBin: Bukan Komunitas Seni Biasa


Manusia dianugerahi intuisi untuk merasakan keindahan. Intuisi itu mengarahkan manusia untuk terus mencari sumber keindahan, dan sebagian bahkan mengaryakan sesuatu sehingga menjadi indah. Keindahan itu bahkan menjadi kebutuhan, dimana bila keindahan itu gagal terbentuk, akan langsung berpengaruh pada psikologi manusia. Meski definisi keindahan juga sangat relatif, tetapi konsep manusia yang menyukai keindahan adalah fitrah, dan itulah akar kenapa kemudian manusia mengenal seni. 

Seni menjadi upaya bagi manusia untuk mengreasikan keindahan. Sebuah karya seni adalah karya yang dibangun dengan indah untuk dinikmati manusia. Menikmati karya seni berarti menikmati keindahan, didalamnya ada ruh yang kuat yang membuat manusia menjadi lebih nyaman. Seni adalah keindahan, seni adalah kebutuhan, barangkali itulah definisi saya terhadap seni. 

Minat yang tinggi pada seni itu yang mengantarkan saya sampai pada tempat-tempat yang menggugah. Membuat saya bertemu dengan banyak orang yang memiliki definisi keindahan yang tinggi dengan melahirkan karya seni unggul untuk dinikmati semua orang. Sehingga ketika bulan lalu saya mendapat undangan dari rekan-rekan penggiat seni berbagai bidang untuk diskusi dan membuat sebuah komunitas seni di Bengkulu, saya tertarik untuk bergabung didalamnya. 

Saya kira itu menarik, saya merasakan sebuah atmosfir seni yang berbeda. Dalam bahasa sederhana saya adalah konsep seni yang santun estetis dan beretika. Konsep yang dibangun untuk diterima oleh semua kalangan dengan batasan keterlibatan yang sangat tipis. 

Komunitas itu lalu diberi nama Komunitas Ambin. Dalam bahasa daerah setempat Ambin berarti gendongan. Filosofinya sederhana, agar bisa mewadahi kreativitas pemuda atau remaja kreatif Bengkulu. Karena definisi itu juga dan melihat struktur didalamnya yang terdiri dari beragam praktisi seni berbagai bidang, maka jadilah Ambin memiliki berbagai bidang seni juga. 

Ambin, sepertinya ini adalah komunitas seni pertama yang saya ikuti. Sebelumnya saya hanya berjibaku dengan dunia ilmiah dan sedikit kreatifitas. Bertemu dengan rekan penggiat seni di Ambin, saya menemukan cita rasa baru terhadap seni. Label seni santun, estetis, dan beretika itu yang meyakinkan saya bahwa Komunitas Ambin adalah komunitas yang fresh dan santun. Ambin akan menjadi komunitas yang menarik di masa depan, InsyaaAllah. 

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…