Langsung ke konten utama

Apa Peduli Saya Soal Fahri Hamzah



Cukup banyak rekan saya bertanya, menyoal kasus FH dengan PKS. Sebagian mereka bertanya dengan harapan saya akan mengatakan bahwa saya pun tidak sepakat soal pemecatan yang dramatis itu. Tapi diluar dari ekspektasi mereka, saya menjawab bahwa saya tidak begitu peduli soal kasus itu. Bagi saya itu kasus yang sama seperti dengan yang lainnya. Dan secara pribadi saya tidak tau alasan kenapa saya harus melatakan kepedulian dan pembelaan saya kepada FH. Mereka tanya kenapa, saya balik menjawab kenapa saya harus peduli.

Ya, dimana pentingnya kepedulian saya untuk kasus FH. Apakah dengan saya menunjukan kemarahan saya akan keputusan itu lantas dunia akan berubah dan kondisi akan seperti semula? Saya kira bahkan rasa peduli itu tidak memberikan efek apapun. Lalu bila ada yang marah soal argumen saya ini, saya kembali bertanya, apakah ada jaminan bahwa FH berada di jalur yang murni benar dan terzalimi sehingga saya harus membela itu? Ada yang bisa menjelaskan dengan alasan yang valid, bukan alasan yang bersumber dari perasaan dan prasangka subjektif. 

Ah, apa peduli saya soal FH, seandainya saya punya waktu 60 menit. saya memilih untuk menggunakannya mempelajari hal baru, transfer ilmu, rekreasi, berkumpul dengan keluarga dan rekan sahabat, bukan menghabiskannya dengan berdiskusi dan membela serta mericuhkan soal pemecatan FH. 

Ini adalah pandangan saya, murni demikian. Kepada sahabatku yang mulai goyah seiring dengan kasus FH, saya tanyakan lagi dan silahkan dijawab dalam hati, apakah pemberontakan, ekspresi ketidak sukaan, rasa kecewa dan kesal, yang kalian tanam dalam hati begitu kukuh, apakah dengan semua pemikiran dan perasaan yang dalam itu lalu mengubah keadaan, atau hanya akan semakin memperkeruh? 

Kehidupan politisi itu unik, sangat berbeda dengan kehidupan para pendukungnya. Saya teringat sebuah gambar sarkastik, disaat politikus di usung dengan mobil limosin, dijaga selayaknya pejabat agung dengan bodyguard, makan ditempat mewah dan megah, nun jauh disana para pendukung berarak membawa bendera menaiki truk, makan satu nasi bungkus berdua, berpanas di terpa matahari tengah hari secara langsung, dan saling beradu komentar bahkan sampai perkelahian. Apa yang kalian lakukan dengan semua hal itu? Mempertaruhkan lapar untuk mereka yang makan dengan kenyang. Membakar kulit dengan matahari menyengat untuk mereka yang duduk mewah di mobil ber AC. 

Lucu, bila pun saya memiliki pilihan politik, saya kira itu adalah bagian dari pilihan dan kemauan saya. Atau boleh saya bahasakan dengan menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik. Nmaun tidak berarti pula saya terikat dengan aturan itu. Dan soal pandangan saya, itu kan juga hak pribadi saya. 

Postingan populer dari blog ini

Ilusi itu bernama 'Wisuda'

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang baru saja meraih gelar Sarjana. Kalian berhasil menaklukkan dan memenangkan diri sendiri. Kalian berhasil melalui proses yang panjang untuk hari besar itu. Percaya saja, berfoto mengenakan toga itu sungguh sangat menyenangkan.  Selamat (jalan) ya.
Tapi itu tidak akan lama. Saya ingat pernah berbicara di depan lebih dari 850 mahasiswa baru. Saya bertanya kepada mereka semua (mungkin mereka saat ini juga telah wisuda), pertanyaan yang cukup di jawab dengan mengangkat tangan. 'Silahkan angkat tangan kalian yang selama kuliah ingin mendapat IPK 4, menjadi pengusaha mahasiswa yang berhasil, menjadi delegasi pertukaran mahasiswa, menjadi wakil universitas dalam berbagai lomba, menerbitkan buku pertama dan lain-lain'. Tidak bisa terhitung secara tepat, tapi saya ingat 95% dari mereka angkat tangan. Menarik sekali. 
Lalu saya bertanya kembali kepada mereka, setiap tahun Universitas Bengkulu meluluskan lebih dari 3.000 mahasiswanya. Apakah …

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Kopdar Blogger Bengkulu 'Pertama'

Bukan Kopdarnya yang pertama, tetapi saya yang baru pertama mengikuti Kopdar ini. Saya tertawa-tawa saja, ini pertemuan ke 9,artinya sudah 9 bulan berdiri, dan saya baru hadir di kumpulnya blogger Bengkulu. Menyenangkan.

Saya tertawa-tawa sebab saya memandang sebuah rumah yang saya tinggakan. Dalam versi saya, artinya bisa muncul banyak versi, komunitas ini lahir bersamaan dengan datangnya kawan-kawan Kompasiana yang mengumpulkan Blogger Bengkulu. Tentu sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkumpul para blogger di Bengkulu, lalu saat itu disepakati untuk di bentuk komunitas Blogger Bengkulu.

Pada periode ini, saya yang diminta mendesain logo komunitas ini, maka jadilah sebuah logo sederhana yang saya tak menyangkan tetap digunakan hingga saat ini. Ah, saya berharap bisa melakukan sedikit perbaikan desain logo itu, tapi sudah terlanjur dipakai bersama-sama.

Hari ini saya mengikuti kegiatan Kopdar bersama. Saya menyempatkan dengan sungguh-sungguh setelah sering gagal menghadiri undang…