Langsung ke konten utama

Apa Yang Saya Pelajari Malam Ini?



Di malam Launching Komunitas Ambin, saya menemukan begitu banyak inspirasi. Menyaksikan sebuah pertunjukan sama artinya dengan membenamkan diri ke dalam sungai inspirasi. Terbayang di kepala saya apa saja yang akan saya lakukan di depan nanti. Sebuah tekad, ya sesuatu tantangan baru untuk saya dengan status sebagai seorang pendidik. 

Saya telah mengembangkan aktivitas riset di sekolah, menyenangkan dengan tantangannya sendiri. Dan kenapa tidak saya mengembangkan seni pertunjukan di sekolah? Ya, mungkin saya telah memulai sebelum saya menyadari. Dengan mengajarkan teknik dasar pengambilan video, mengedit video, hingga membuat sebuah film pendek, saya kira itu seni, dan sudah tampak. Satu komunitas seni sekolah telah pula hadir, kami beri nama komunitas sinematografi iqra. Sekelompok anak yang menyukai dunia broadcast, mengikuti berbagai perlombaan pembuatan video pendek, atau sekedar membuat video pendek untuk dinikmati bersama. 

Itu menyenangkan, tapi ada yang belum dan masih belum bisa saya wujudkan. Yaitu seni pertunjukan musikalisasi puisi. Ya saya selalu suka seni musikalisasi puisi. Mereka membuat sebuah puisi menjadi hidup, menyentuh, dan lebih menyenangkan untuk di saksikan. Paduannya pun tidak sederhana, kita perlu seorang yang dapat menyanyikan sebuah puisi dengan suara bagus, memerlukan anak yang bisa membuat sebuah kata menjadi alunan melodi yang indah, serta pemain alat musik yang juga harus mengiringi dengan cara yang cepat. Ah, indahnya bila itu terwujud. Setelah itu kelompok pemain musik tradisional, seperti angklung, kecapi, dol, ukulele, dan lainnya, yang sudah ada tersimpan di gudang kami. 

Bagaimana cara memulainya, saya belum tahu. Tapi dari malam ini saya benar bergairah untuk mewujudkan gagasan itu. Semoga saya dapat menjadi guru seni yang sebenarnya. 
Apa yang saya pelajari malam ini?  Jauh lebih banyak dari yang saya duga. Saya senang sekali, kawan. 

14 Mei 2016.  22.22
**Gambar Teater Jengkal pada malam launching Komunitas AmBin


Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…