Langsung ke konten utama

Bagaimana Cara Memperhatikan Semua Anak ?


Dalam Suasana senggang di Masjid Ja`far Bin Abi Thalib, kami duduk melingkar mengobrol dengan santai. Menunggu waktu asar yang sekitar sepuluh menit lagi masuk. Tanggung juga bila saya kembali ke kantor, makanya kami mengobrol santai saja akhirnya. 

Ada pertanyaan yang menggelitik saya, disampaikan oleh seorang siswa kepada saya. Kenapa guru itu tidak pernah mengerti perasaan kami? Tanyanya. Tentu saya cukup terkejut. Bukan disebabkan esensi pertanyaannya yang diajukan, karena saya tahu pasti saya juga dulu sering bertanya seperti itu sewaktu masih sekolah. Saya terkejut dalam artian kaget, akhirnya ada juga yang berani menyampaikan pertanyaan ini secara terbuka. Bagi saya itu keberanian yang layak diapresiasi. Bukankah mendengar kitik itu selalu membawa diri ke pada kondisi muhasabah, introspeksi, untuk dijadikan bekal memperbaiki. Tentu dengan kriteria pengkritik yang layak.

Saya minta agar diperjelas dengan contoh kasus, karena definisi `mengerti` atau `pengertian` itu masih sangat bias. Ia lalu menjelaskan beberapa kejadian di kelas yang menariknya pada kesimpulan itu, yaitu kenapa guru selalu tidak adil menilai. Jika ada pertanyaan `apakah kalian mengerti?` itu adalah pertanyaan yang dilematik, katanya. Sering ia sejujurnya tidak mengerti, tapi bila menjawab mengerti, itu berarti bohong, bila menjawab belum, khawatir memancing amarah. Maka ia merasa dalam sebuah kebingungan. Ia juga protes, harusnya seorang guru tahu dari matanya, apakah seorang anak itu benar telah paham, atau belum. Tapi kebanyakan guru langsung melewatkan begitu saja, padahal kami ingin belajar dan ingin bisa juga paham, imbuhnya lagi.

Saya menarik nafas panjang. Memikirkan bagaimana cara memberikan jawaban yang, semoga tepat. Bagi saya mungkin ini pertanyaan biasa, tapi bagi siswa ini sangat penting. Bahkan mungkin akan memengaruhi semangat belajar mereka. Secara pribadi, saya coba menggali sudut pandang saya mengenai pertanyaan ini. Karena mata pelajaran yang saya ampu bukan mata pelajaran yang menghendaki tugas tertulis dan banyak hafalan, melainkan karya dan keterampilan. Saya agak sulit membayangkan apa yang dipikirkan oleh seorang guru yang harus mengajarkan matematika di kelas, yang harus mengajar sebuah bab tentang algoritme pada berbagai jenis anak dengan kombinasi kecerdasan beragam. 

Bahwa rupanya menjadi seorang guru itu tidak sesederhana cara kita memandang orang lain. Guru berada bada posisi terikat yang selalu dituntut. Saat saya dulu SMA, saya selalu mempertanyakan apa yang dilakukan oleh guru saya. Kenapa mereka menyampaikan tanpa pernah bertanya dengan kami apakah kami suka atau tidak. Kami harus mengerjakan semuanya sesuai keinginan guru, dan dengan itu saya sangat frustrasi. Saya merasa terabaikan, persisi dengan yang disampaikan murid saya. Saat ini saya berada di posisi guru, dan saya baru menyadari bahwa seorang guru selalu berada di posisi yang tidak akan tepat. 

Seorang guru terikat dengan aturan pendidikan, mata ajar mereka disesuaikan beredar silabus kurikulum yang dibuat pemerintah. Di dalamnya juga di ulang berkali ali kata `harus`, kata ajaib yang memberikan efek fatal dan mematikan kreativitas. Tidak ada keterangan jelas secara teknis bagaimana cara menuntaskan kata `harus` itu, yang ada hanya serentetan kewajiban yang dianggap penting dan harus ditunaikan. 

Sebagai tindak antisipasi pencapaian itu, diagendakan sesi supervisi secara berkala. Melihat apakah perangkat pembelajaran, administrasi pembelajaran, dan cara mengajar telah layak membalas kata `harus` itu atau belum. Dampaknya ada pada penilaian subjektif yang dapat berdampak pada penjenjangan seorang guru. Karena faktor silabus ajaib dengan rute materi padat dan buku, serta ancaman supervisi yang sewaktu waktu dapat hadir begitu saja, seorang guru akhirnya berada pada posisi tertekan. Dia tidak akan sempat memperhatikan satu persatu anak, pencapaian mereka terhadap sebuah mata pelajaran, karena beban silabus yang harus tuntas mengharuskannya mengajar dengan cepat. 

Menghadapi begitu banyak jenis kecerdasan juga tidak semudah bila kita harus mengajarkan keterampilan. Ada anak dengan cara berpikir cepat yang sanggup menangkap materi ajar dengan cepat sesuai silabus, namun ada juga anak dengan kapasitas lain yang berkemungkinan mengalami kesulitan. Pada pelajaran matematika, anak dengan kecenderungan kecerdasan matematis akan sangat senang, tapi anak kinestesis dan linguistik tidak sama responsnya. Pada pelajaran bahasa, mereka dengan skor kecerdasan linguistik mumpuni, akan menangkap materi ajar dengan sangat cepat, tapi bagi mereka yang matematis dan lainnya, akan kesulitan. Tapi seorang guru dipaksa mengabaikan semua itu, mereka harus mengajar sesuai silabus dengan mengabaikan kombinasi dan dominasi kecerdasan. Mereka hanya harus menyelesaikan silabus, cukup. 

Apakah guru tidak cukup perhatian? Saya kembali menghayati pertanyaan itu. Karena menjawabnya 

Postingan populer dari blog ini

Tentang Sekolah Alam Indonesia-Bengkulu #1

Belajarnya anak-anak adalah bermain. Bermainnya mereka adalah eksplorasi mengasah ketajaman indera. Agar seorang anak dapat tumbuh sebagaimana usianya. Agar yang disebut seorang anak itu adalah anak yang belajar dari alam.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Maka bila kau tengok banyak anak-anak yang suka bermain-main, tampak tidak serius mengerjakan tugas sekolah, bukan anaknya yang salah. Melainkan karena kau memaksa mereka belajar diluar dari jangkauan usia yang seharusnya.

Belajarnya anak-anak itu adalah bermain. Hadirkan ia proses belajar yang membebaskannya untuk berekplorasi dengan alam. Sungguh, alam adalah guru belajar terbaik di usia mereka. Tempat mengajarkan mereka keberanian, kemandirian, dan kepedulian. Alam akan mengajarkan mereka bekalan menuju uisa selanjutnya.

Pendidikan berbasis alam inilah yang diadopsi oleh Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang dikenal sebagai sekolah pelopor pendidikan berbasis kemandirian dan alam. Termasuk di Sekolah Alam Indonesia cabang Ben…

Membangun Tembok

Ini adalah sebuah cerita klasik, tetapi selalu saja menarik. Sebab ini menyangkut perasaan manusia. Ini menyangkut prasangka yang rapuh. Dan ini menyangkut sesuatu yang selalu saja terjadi bahkan saat kita telah menyadarainya. Menarik sekali. 
Orang-orang itu membangun tembok. Padahal kemarin kami masih tertawa bersama. Kami masih saling bercanda dan ramah menyapa. Lantas tetiba sebuah dinding telah berdiri. Tidak tinggi, tapi cukup memisahkan. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Kenapa seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku melompat sejadi-jadinya, berteriak hanya untuk melihat lebih dekat wajah mereka. Tetapi justru caci maki dengan suara yang semakin meninggi. 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Aku pun meminta maaf dengan tulus. Maaf bila kesalahan diri adalah penyebab tembok itu. Tetapi justru suara tawa yang meledak itu meninggi. Suaranya menembus tembok. Kenapa harus ditertawakan? 
Orang-orang itu telah membangun tembok. Tidak tinggi, tetapi cukup mengisolas…

Menolak Parkir

Anggap saja ini hanya tulisan anak-anak yang baru belajar menulis. Tulisan ini juga adalah hasil asumsi secara subjektif dan sepihak. Jadi bila terjadi kesalahan dan unsur yang tidak mengenakkan, harap diabaikan saja. Saya akan bicara mengenai Parkir dan Kota Bengkulu.
Saya adalah pengguna kendaraan roda dua. Dan selain kecelakaan lalu lintas dan lampu sein ibu-ibu ajaib, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah 'parkir'. Iya, tolong dimaklumi dulu ya. Bila saya meletakkan motor saya selama satu jam, bagi saya itu baik-baik saja, anggap saja kompensasi keamanan. Tapi bila belum 2 menit saya meletakkan motor karena mau ambil sesuatu, lalu saya diminta bayar parkir, bagi saya itu rumit.
Kemudian yang menyebalkan adalah biaya parkir. Sudah jelas diatur per jam adalah Rp. 1.000 oleh perda, tetapi kalau kita beri sejumlah Rp. 2.000 maka tidak akan ada kembalian. Lebih-lebih kita akan mudah menemukan pecahan Rp 2.000 ketimbang Rp.  1.000. Kalau kita beri Rp. 5.000 maka kembal…